Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Patimah Anjelina
Dosen

Patimah Anjelina adalah akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya) dan penulis yang aktif mengulas isu pertanian, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam dari perspektif ilmiah yang aplikatif dan mudah dipahami publik

Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?

Kompas.com, 12 Maret 2026, 21:26 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

SAWAH masih terbentang luas di banyak desa. Namun petaninya semakin menua. Anak-anak petani yang tumbuh di rumah yang sama justru lebih memilih bekerja di kota atau di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sawah tetap ada, tetapi pewarisnya semakin sedikit.

Data Sensus Pertanian 2023 menggambarkan situasi itu dengan cukup jelas. Sekitar 42,4 persen petani Indonesia berada pada kelompok usia menengah, 43–58 tahun. Sementara petani milenial berusia 19–39 tahun hanya sekitar 21,9 persen dari total. Sisanya bahkan sudah berada pada kelompok usia lanjut.

Ironisnya, sektor pertanian tetap memegang peran strategis dalam perekonomian nasional. Sektor ini menyerap hampir sepertiga tenaga kerja dan menyumbang sekitar 12–13 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Dari sawah dan kebun inilah kebutuhan pangan nasional dipasok sekaligus ekonomi desa ditopang.

Kontradiksi itu memperlihatkan satu kenyataan: sektor yang sangat penting justru menghadapi masalah regenerasi yang serius. Namun menyederhanakan persoalan ini sebagai “anak muda tidak mau bertani” jelas terlalu dangkal. Generasi muda tidak serta-merta menolak tanah dan sawah. Mereka hanya menimbang pilihan secara rasional.

Di tengah ekonomi yang semakin terbuka, pertanian harus bersaing dengan sektor jasa, industri kreatif, hingga ekonomi digital yang menawarkan pendapatan lebih pasti dan mobilitas sosial yang lebih cepat. Pada akhirnya, masalah regenerasi petani bukan soal minat generasi muda. Ia adalah soal rasionalitas ekonomi.

Baca juga: BPS: Nilai Tukar Petani Naik, Pemasukan Lebih Besar

Ketika Bertani Sulit Menjadi Pilihan Karier

Bagi banyak keluarga petani kecil, bertani identik dengan margin tipis dan ketidakpastian. Harga komoditas mentah mudah berfluktuasi, sementara posisi tawar petani kerap lemah di hadapan pedagang perantara.

Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat—mulai dari pupuk, benih, hingga tenaga kerja. Risiko juga tidak kecil. Perubahan iklim membuat ancaman gagal panen semakin nyata. Bahkan ketika panen berhasil, harga belum tentu berpihak kepada petani. Dalam situasi seperti ini, sulit berharap generasi muda melihat pertanian sebagai jalur karier yang menjanjikan.

Generasi muda tumbuh dengan logika yang berbeda. Mereka terbiasa menghitung margin, membaca pasar, dan melihat peluang usaha. Pertanyaan mereka sederhana: seberapa besar nilai tambah yang bisa dihasilkan dan seberapa stabil pendapatan yang dapat diperoleh. Jika pertanian berhenti pada penjualan bahan mentah, daya tarik ekonominya akan terus kalah bersaing.

Regenerasi tidak lahir dari kampanye moral atau romantisasi desa. Ia harus dibangun di atas model usaha yang masuk akal.

Baca juga: Cerita Petani Lampung, Olah Tanah Asam Jadi Kebun Kopi Rendah Emisi

Hilirisasi dan Nilai Tambah

Di sinilah pentingnya hilirisasi. Ketika komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan identitas yang jelas, struktur ekonominya berubah.

Ambil contoh gula aren. Selama bertahun-tahun, aren sering dipandang hanya sebagai tanaman pelengkap di kebun campuran. Ia tumbuh bersama berbagai tanaman lain dalam sistem agroforestri dan produksinya banyak dilakukan oleh industri rumah tangga di desa. Namun tren konsumsi global terhadap gula alami dan produk pangan minim proses mulai mengubah situasi.

Data Badan Pusat Statistik yang diolah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia menunjukkan nilai ekspor gula aren Indonesia meningkat sekitar 9,8 persen menjadi sekitar 58 juta dolar AS dengan volume lebih dari 31 ribu ton sepanjang Januari–Oktober 2024.

Angka itu memang belum sebesar komoditas perkebunan besar. Tetapi ia menunjukkan satu hal penting: produk tradisional yang diolah dengan nilai tambah dapat berkembang menjadi komoditas ekspor yang kompetitif.

Yang menarik, sebagian besar proses produksinya masih berbasis rumah tangga. Artinya, nilai ekonomi yang tercipta tidak sepenuhnya terserap oleh industri besar, tetapi mengalir langsung ke dapur-dapur produksi di desa. Ketika nira aren diolah menjadi gula semut dengan kemasan modern, dilengkapi sertifikasi pangan, dan dipasarkan melalui platform digital, nilai produknya meningkat tajam.

Perubahan ini juga membuka ruang baru bagi generasi muda—mulai dari pengemasan, desain merek, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha. Model transformasi seperti ini dapat dilihat di sejumlah sentra aren, salah satunya di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau