Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah

Kompas.com, 21 Maret 2026, 12:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

INDONESIA telah lama dikenal sebagai produsen kopi besar dunia, tapi masih kerap terjebak dalam paradoks, kuat dalam branding dan cerita, tapi lemah dalam meraih nilai ekonomi.

Padahal, nilai tambah terbesar dalam rantai nilai kopi justru tercipta setelah panen. Nilai ekonomi diperoleh melalui konsistensi mutu, pengolahan pascapanen, sortasi dan grading, sistem traceability, sertifikasi, hingga roasting, penguatan merek, dan akses ke pasar modern.

Di sisi lain, geliat kewirausahaan mulai terlihat dari koperasi eksportir bersertifikasi, roastery yang menguasai rantai “from crop-to-cup”, hingga jaringan ritel yang mendorong stabilitas permintaan domestik.

Namun, tantangan struktural tetap ada, yaitu lemahnya produktivitas dan praktik pascapanen di hulu, serta “missing middle” dalam pembiayaan, standardisasi, dan akses pasar.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, diperlukan strategi yang terarah dan kolaboratif.

Koperasi harus bertransformasi menjadi entitas berbasis mutu (quality-first enterprise) dengan tata kelola dan kontrak yang transparan, sementara pelaku usaha didorong untuk memperkuat origin branding melalui Indikasi Geografis (IG) yang didukung data terukur.

Pemerintah perlu mendorong peremajaan tanaman, membangun infrastruktur pascapanen yang efisien dan ramah air, serta mengembangkan sistem traceability berbasis lokasi.

Kolaborasi semua pihak melalui pelatihan petani, dukungan teknologi pengolahan, dan pembiayaan inklusif, dapat menjadi akselerator penting dalam upaya memajukan agribisnis kopi Indonesia.

Tren Bisnis dan Permintaan Global

“Specialty coffee” atau kopi specialty tidak lagi sekadar dimaknai sebagai kopi dengan rasa unik dan kualitas tinggi, melainkan sebagai sistem penilaian yang lebih inklusif, transparan, dan terstandar.

Melalui kerangka Coffee Value Assessment (CVA) yang dikembangkan Specialty Coffee Association (SCA), kualitas kopi kini dinilai tidak hanya dari aspek sensori, tetapi juga atribut fisik dan informasi yang menyertainya, termasuk asal-usul, proses, dan konsistensi.

Pendekatan ini membantu pelaku pasar memahami kualitas secara lebih objektif sekaligus memastikan keselarasan dengan kebutuhan pasar (market alignment).

Dengan demikian, specialty coffee bergerak dari sekadar “cita rasa” menuju ekosistem nilai yang utuh.

Dalam konteks agribisnis, pendekatan ini membawa implikasi besar, dimana kopi tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas seragam, melainkan sebagai produk agrifood beridentitas.

Praktik seperti petik merah, fermentasi dan pengeringan presisi, penyimpanan yang terkontrol, hingga konsistensi lot menjadi prasyarat utama.

Di sinilah kopi Indonesia, dengan kekayaan origin seperti Kintamani dan Gayo, memiliki peluang besar untuk membangun diferensiasi berbasis reputasi dan keterlacakan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau