Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah

Kompas.com, 21 Maret 2026, 12:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sistem Indikasi Geografis (IG) yang telah terdaftar menjadi fondasi penting, karena memungkinkan kopi dijual dengan harga premium berbasis identitas yang diakui.

Lebih jauh, specialty coffee membuka jalan menuju distribusi nilai tambah yang lebih adil di sepanjang rantai pasok.

Industri kopi global bernilai sangat besar, diperkirakan melampaui 200 miliar dollar AS per tahun. Namun, selama ini diwarnai ketimpangan, di mana petani sering hanya menikmati sebagian kecil dari nilai akhir produk.

Dengan meningkatnya permintaan terhadap kopi berkualitas dan tertelusur, specialty coffee menawarkan peluang untuk memperbaiki struktur tersebut.

Namun, pertanyaan kuncinya tetap sama, yaitu nilai ekonomi dalam pasar memang besar, tetapi siapa yang benar-benar menikmati nilai tambahnya?

Dari sisi permintaan, prospek pasar kopi dunia tetap positif. Data USDA menunjukkan konsumsi global meningkat dari sekitar 167,9 juta kantong (60 kg) pada 2021/2022 menjadi 173,9 juta kantong pada 2025/2026.

Tren ini diperkuat oleh pertumbuhan segmen bernilai tinggi, termasuk specialty coffee dan inovasi produk yang mendorong diversifikasi konsumsi.

Di Indonesia, konsumsi domestik juga menunjukkan peningkatan, mencapai sekitar 4,8 juta kantong pada 2024/2025, sementara ekspor masih mendominasi dengan proyeksi sekitar 7 juta kantong.

Kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia masih sangat berorientasi ekspor, tapi sekaligus memiliki ruang besar untuk meningkatkan nilai tambah di pasar domestik.

Perkembangan hilir memperlihatkan sinyal positif melalui pertumbuhan pesat kedai kopi dan ekosistem ritel modern.

Lonjakan jumlah gerai dalam beberapa tahun terakhir, serta ekspansi pemain besar ke puluhan kota, menciptakan “pasar penyangga” yang lebih stabil bagi kopi berkualitas.

Namun, agar dampaknya benar-benar terasa hingga ke petani, konektivitas antara hulu dan hilir harus diperkuat melalui kontrak yang adil, standar mutu konsisten, serta transparansi harga.

Tanpa itu, pertumbuhan konsumsi domestik hanya akan memperbesar pasar, tanpa secara otomatis meningkatkan kesejahteraan produsen di tingkat hulu.

Pendekatan Agribisnis Kedepan

Agar kopi specialty benar-benar meningkatkan nilai tambah agribisnis, bukan sekadar menaikkan harga di hilir, diperlukan agenda yang mampu mengikat hulu dan hilir secara sistemik.

Bagi pembuat kebijakan, prioritas utamanya adalah membangun “infrastruktur mutu” dan “infrastruktur kepatuhan”.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau