
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di tengah tantangan tersebut, peluang pasar global justru semakin terbuka lebar. Perubahan gaya hidup masyarakat dunia, terutama pascapandemi COVID-19, telah mendorong peningkatan konsumsi produk berbasis alami.
Rempah kembali mendapat tempat sebagai bahan pangan sehat, sumber antioksidan, dan komponen penting dalam produk herbal serta suplemen kesehatan. \
Permintaan terhadap jahe, kunyit, dan produk rempah lainnya meningkat tajam, bahkan beberapa komoditas mencatat pertumbuhan ekspor di atas 100 persen dalam periode tertentu.
Pasar global rempah juga menunjukkan tren pertumbuhan jangka panjang. Volume pasar dunia diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton pada 2024 dan berpotensi meningkat menjadi lebih dari 21 juta ton pada 2035.
Dari sisi nilai, pasar rempah global diproyeksikan tumbuh dari sekitar 48 miliar dolar AS menjadi lebih dari 60 miliar dolar AS dalam periode yang sama.
Negara tujuan utama ekspor rempah Indonesia saat ini meliputi Amerika Serikat, India, China, Vietnam, dan negara-negara Uni Eropa seperti Belanda dan Jerman.
Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat untuk memanfaatkan peluang ini. Keanekaragaman hayati yang tinggi menghasilkan rempah dengan karakteristik unik dan kualitas unggul.
Lada hitam Lampung, misalnya, memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi dan sangat diminati industri makanan premium.
Kayu manis jenis Cinnamomum burmannii dari Indonesia dikenal memiliki aroma kuat dan harga kompetitif di pasar global. Pala dan cengkeh dari Maluku juga memiliki kualitas yang diakui secara internasional.
Namun, persoalan utama terletak pada rendahnya nilai tambah. Hingga kini, sekitar 70–80 persen ekspor rempah Indonesia masih dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi.
Padahal, produk turunan seperti minyak atsiri, oleoresin, ekstrak rempah, dan bumbu siap pakai memiliki nilai ekonomi berkali lipat.
Sebagai ilustrasi, harga lada dalam bentuk mentah bisa meningkat hingga 3–5 kali lipat ketika diolah menjadi oleoresin atau ekstrak.
Hal yang sama berlaku untuk cengkeh yang dapat diolah menjadi minyak eugenol bernilai tinggi untuk industri farmasi dan kosmetik.
Untuk memastikan masa depan rempah Indonesia tetap cerah, diperlukan strategi komprehensif yang mencakup hulu hingga hilir.
Pertama, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama. Saat ini, produktivitas beberapa komoditas rempah Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara pesaing.