Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Era Keemasan Baru Rempah Indonesia

Kompas.com, 7 April 2026, 13:29 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEJAK era perdagangan global awal, rempah-rempah dari Nusantara menjadi komoditas paling diburu dunia.

Lada, pala, dan cengkeh bahkan pernah menjadi “emas” pada masanya, memicu lahirnya jalur perdagangan internasional dan kolonialisme.

Hingga hari ini, jejak sejarah tersebut masih terasa kuat, tidak hanya dalam identitas budaya, tetapi juga dalam struktur ekonomi nasional.

Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 275 jenis rempah yang tersebar di berbagai wilayah, dari Sumatera hingga Papua.

Komoditas seperti lada dari Lampung dan Bangka Belitung, cengkeh dari Maluku dan Sulawesi, pala dari Maluku Utara, serta kayu manis dari Sumatera Barat dan Jambi menjadi tulang punggung produksi nasional.

Data menunjukkan bahwa sekitar 98–99 persen usaha perkebunan rempah dikelola oleh petani kecil. Artinya, sektor ini berperan langsung dalam menopang kehidupan jutaan rumah tangga di pedesaan dan menjadi instrumen penting dalam pemerataan ekonomi.

Kontribusi ekonomi rempah juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor rempah Indonesia berada pada kisaran ratusan juta dolar AS per tahun.

Pada 2023, ekspor rempah tercatat mencapai sekitar 148.000 ton dengan nilai sekitar 564 juta dolar AS (sekitar Rp 8,5 triliun).

Sementara pada 2025, diperkirakan meningkat menjadi sekitar 162.000 ton dengan nilai sekitar 620 juta dolar AS (setara sekitar Rp 9,73 triliun).

Indonesia juga menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar global untuk cengkeh, serta menjadi salah satu eksportir utama lada dunia.

Untuk komoditas kayu manis, Indonesia bahkan merupakan produsen terbesar dunia dengan kontribusi lebih dari 40 persen pasokan global.

Namun demikian, sektor ini juga menghadapi tantangan serius. Luas lahan lada nasional, misalnya, mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 181.000 hektare pada 2016 dan terus menyusut secara perlahan. Dampaknya, produksi lada cenderung stagnan.

Sebaliknya, komoditas seperti pala dan cengkeh menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih positif.

Produksi cengkeh meningkat dari sekitar 139.000 ton pada 2016 menjadi mendekati 148.000 ton dalam beberapa tahun terakhir, sementara pala tumbuh dengan laju hampir 6 persen per tahun.

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa transformasi struktural masih diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan produksi rempah nasional.

Peluang Besar di Pasar Global

Di tengah tantangan tersebut, peluang pasar global justru semakin terbuka lebar. Perubahan gaya hidup masyarakat dunia, terutama pascapandemi COVID-19, telah mendorong peningkatan konsumsi produk berbasis alami.

Rempah kembali mendapat tempat sebagai bahan pangan sehat, sumber antioksidan, dan komponen penting dalam produk herbal serta suplemen kesehatan. \

Permintaan terhadap jahe, kunyit, dan produk rempah lainnya meningkat tajam, bahkan beberapa komoditas mencatat pertumbuhan ekspor di atas 100 persen dalam periode tertentu.

Pasar global rempah juga menunjukkan tren pertumbuhan jangka panjang. Volume pasar dunia diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton pada 2024 dan berpotensi meningkat menjadi lebih dari 21 juta ton pada 2035.

Dari sisi nilai, pasar rempah global diproyeksikan tumbuh dari sekitar 48 miliar dolar AS menjadi lebih dari 60 miliar dolar AS dalam periode yang sama.

Negara tujuan utama ekspor rempah Indonesia saat ini meliputi Amerika Serikat, India, China, Vietnam, dan negara-negara Uni Eropa seperti Belanda dan Jerman.

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat untuk memanfaatkan peluang ini. Keanekaragaman hayati yang tinggi menghasilkan rempah dengan karakteristik unik dan kualitas unggul.

Lada hitam Lampung, misalnya, memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi dan sangat diminati industri makanan premium.

Kayu manis jenis Cinnamomum burmannii dari Indonesia dikenal memiliki aroma kuat dan harga kompetitif di pasar global. Pala dan cengkeh dari Maluku juga memiliki kualitas yang diakui secara internasional.

Namun, persoalan utama terletak pada rendahnya nilai tambah. Hingga kini, sekitar 70–80 persen ekspor rempah Indonesia masih dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi.

Padahal, produk turunan seperti minyak atsiri, oleoresin, ekstrak rempah, dan bumbu siap pakai memiliki nilai ekonomi berkali lipat.

Sebagai ilustrasi, harga lada dalam bentuk mentah bisa meningkat hingga 3–5 kali lipat ketika diolah menjadi oleoresin atau ekstrak.

Hal yang sama berlaku untuk cengkeh yang dapat diolah menjadi minyak eugenol bernilai tinggi untuk industri farmasi dan kosmetik.

Strategi Pengembangan dan Keberlanjutan

Untuk memastikan masa depan rempah Indonesia tetap cerah, diperlukan strategi komprehensif yang mencakup hulu hingga hilir.

Pertama, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama. Saat ini, produktivitas beberapa komoditas rempah Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara pesaing.

Penggunaan benih unggul, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta mekanisasi pertanian dapat meningkatkan hasil secara signifikan.

Pemerintah bahkan menargetkan penyediaan ratusan juta batang benih unggul untuk berbagai komoditas perkebunan, termasuk rempah, dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan dominasi petani kecil, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi sangat penting.

Akses terhadap pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelatihan teknis, serta pembentukan koperasi modern dapat meningkatkan efisiensi dan daya tawar petani.

Model kemitraan antara petani dan industri juga perlu diperluas untuk memastikan kepastian pasar dan harga yang lebih stabil.

Investasi dalam teknologi pengolahan, seperti distilasi minyak atsiri, ekstraksi oleoresin, dan pengemasan modern, perlu didorong melalui insentif fiskal dan nonfiskal.

Pengembangan kawasan industri rempah berbasis klaster dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menarik investor.

Pasar global kini semakin menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga ramah lingkungan dan beretika. Sertifikasi seperti organik, fair trade, dan standar keberlanjutan lainnya menjadi nilai tambah yang penting.

Praktik agroforestri, konservasi lahan, serta pengurangan penggunaan bahan kimia harus menjadi bagian dari sistem produksi rempah nasional.

Inisiatif seperti Sustainable Spices Initiative (SSI) dapat menjadi platform kolaborasi untuk mendorong praktik berkelanjutan di sektor ini.

Perjanjian perdagangan bebas dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan mengurangi hambatan ekspor.

Di sisi lain, branding rempah Indonesia harus dibangun secara konsisten sebagai produk berkualitas tinggi dengan nilai sejarah dan budaya yang kuat.

Kampanye internasional, partisipasi dalam pameran dagang, serta pemanfaatan platform digital dapat memperluas jangkauan pasar secara signifikan.

Dengan kombinasi strategi tersebut, prospek rempah Indonesia ke depan sangat menjanjikan. Nilai ekonomi rempah tidak lagi hanya diukur dari volume produksi, tetapi dari nilai tambah yang dihasilkan sepanjang rantai pasok.

Jika hilirisasi berjalan optimal, kontribusi rempah terhadap devisa negara dapat meningkat berkali lipat, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di sektor industri pengolahan.

Jika langkah ini dilakukan secara serius, bukan tidak mungkin Indonesia kembali meneguhkan kejayaan bangsa sebagai pusat rempah dunia, bukan hanya dalam romantisme sejarah, tetapi dalam realitas ekonomi modern yang memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau