JAKARTA, KOMPAS.com - Peluang ekspor kelapa dari Halmahera Utara, Maluku Utara diperkirakan semakin besar dengan rencana pengembangan pabrik baru oleh PT Natural Indococonut Organik (NICO).
Pabrik tersebut diproyeksikan mampu menggandakan kapasitas produksi perusahaan. Jika terealisasi, pabrik baru itu diperkirakan menghasilkan sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja.
Baca juga: Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
"Jika pabrik baru itu terealisasi, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan membuka lapangan kerja hingga 20.000 orang. Dengan pasar yang besar di Tiongkok maupun negara-negara lain, kami optimistis pengembangan ini akan menjadi penggerak ekonomi baru di Halmahera Utara," kata Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara saat mengunjungi PT NICO di Halmahera Utara, dikutip Senin (8/6/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong untuk meninjau perkembangan industri dan hilirisasi kelapa di kawasan transmigrasi setempat.
Kebutuhan kelapa di China mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Namun, produksi domestik negara tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 1 miliar butir.
Iftitah mengatakan, masih terdapat kebutuhan sekitar 3 miliar butir kelapa yang harus dipenuhi melalui impor.
Menurut dia, peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh daerah penghasil kelapa di Indonesia, termasuk di Halmahera Utara.
Baca juga: Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
"Kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir. Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara," kata Iftitah.
Iftitah mengatakan, pengembangan industri pengolahan kelapa menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi unggulan daerah.
Menurut Iftitah, kehadiran industri pengolahan kelapa telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani di Halmahera Utara.
Ia menyebutkan, harga kelapa di tingkat petani yang sebelumnya hanya berkisar Rp 500 hingga Rp 700 per butir kini meningkat menjadi Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan dari industri.
Selain itu, industri kelapa juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal.
"Dengan adanya industri, permintaan terhadap kelapa meningkat sehingga harga di tingkat petani naik berkali-kali lipat. Selain itu, industri ini juga membuka lapangan kerja yang luas. Hampir 85 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal dengan pendapatan yang berada di atas UMR," ujarnya.
Baca juga: Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Iftitah menambahkan, kawasan transmigrasi kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai lokasi produksi komoditas primer, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang menciptakan nilai tambah dan peluang kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Wang Lutong menyampaikan apresiasinya terhadap potensi industri kelapa Indonesia. Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia sekaligus pemasok utama kebutuhan kelapa di Tiongkok.
"Tiongkok masih sangat bergantung pada impor kelapa dari luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama. Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga pengembangan industri pengolahan dan investasi," ujar Wang.
Untuk mendukung pengembangan industri kelapa di kawasan tersebut, Kementerian Transmigrasi akan mendorong peningkatan infrastruktur pendukung, termasuk jalan produksi dan pelabuhan khusus ekspor guna memperlancar distribusi produk ke pasar internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang