
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SEJAK era perdagangan global awal, rempah-rempah dari Nusantara menjadi komoditas paling diburu dunia.
Lada, pala, dan cengkeh bahkan pernah menjadi “emas” pada masanya, memicu lahirnya jalur perdagangan internasional dan kolonialisme.
Hingga hari ini, jejak sejarah tersebut masih terasa kuat, tidak hanya dalam identitas budaya, tetapi juga dalam struktur ekonomi nasional.
Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 275 jenis rempah yang tersebar di berbagai wilayah, dari Sumatera hingga Papua.
Komoditas seperti lada dari Lampung dan Bangka Belitung, cengkeh dari Maluku dan Sulawesi, pala dari Maluku Utara, serta kayu manis dari Sumatera Barat dan Jambi menjadi tulang punggung produksi nasional.
Data menunjukkan bahwa sekitar 98–99 persen usaha perkebunan rempah dikelola oleh petani kecil. Artinya, sektor ini berperan langsung dalam menopang kehidupan jutaan rumah tangga di pedesaan dan menjadi instrumen penting dalam pemerataan ekonomi.
Kontribusi ekonomi rempah juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor rempah Indonesia berada pada kisaran ratusan juta dolar AS per tahun.
Pada 2023, ekspor rempah tercatat mencapai sekitar 148.000 ton dengan nilai sekitar 564 juta dolar AS (sekitar Rp 8,5 triliun).
Sementara pada 2025, diperkirakan meningkat menjadi sekitar 162.000 ton dengan nilai sekitar 620 juta dolar AS (setara sekitar Rp 9,73 triliun).
Indonesia juga menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar global untuk cengkeh, serta menjadi salah satu eksportir utama lada dunia.
Untuk komoditas kayu manis, Indonesia bahkan merupakan produsen terbesar dunia dengan kontribusi lebih dari 40 persen pasokan global.
Namun demikian, sektor ini juga menghadapi tantangan serius. Luas lahan lada nasional, misalnya, mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 181.000 hektare pada 2016 dan terus menyusut secara perlahan. Dampaknya, produksi lada cenderung stagnan.
Sebaliknya, komoditas seperti pala dan cengkeh menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih positif.
Produksi cengkeh meningkat dari sekitar 139.000 ton pada 2016 menjadi mendekati 148.000 ton dalam beberapa tahun terakhir, sementara pala tumbuh dengan laju hampir 6 persen per tahun.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa transformasi struktural masih diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan produksi rempah nasional.