Penulis
MANOKWARI SELATAN, KOMPAS.com — Selama ini, kualitas dan cita rasa beras dari kawasan timur Indonesia kerap dipandang sebelah mata.
Padahal, beras produksi Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, memiliki tingkat kepulenan yang mengimbangi, bahkan diklaim setara dengan beras unggulan asal Pulau Jawa.
Meski punya keunggulan rasa dan tekstur bawaan, konsistensi mutu beras Oransbari selama ini terkendala proses pengolahan pascapanen.
Baca juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Pengeringan gabah yang belum seragam serta tahap penyaringan yang terbilang tradisional membuat bulir beras utuh kerap terpisah secara acak.
Dampaknya, beras hasil panen lumbung pangan Papua Barat ini belum mampu menembus ceruk pasar premium dengan harga jual optimal.
Guna mengatasi persoalan teknis tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 20 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya turun tangan mendampingi petani serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margomulyo di Manokwari Selatan.
Pendampingan ini berfokus pada standarisasi mutu gabah, mekanisasi penyortiran butir utuh, hingga perancangan kemasan komersial.
Direktur BUMDes Margomulyo, Ilham, optimistis perbaikan rantai pengolahan dari hulu ke hilir ini mampu melahirkan merek beras lokal berdaya saing tinggi.
"Saya sebagai anak muda ingin Oransbari ke depan punya produk beras sendiri, Beras Premium Oransbari," ujar Ilham di sela kegiatan pembekalan TEP ITS di Manokwari Selatan, dikutip Kompas.com, Senin (26/10/2026).
Anggota Tim 20 TEP ITS Muhamad Iqbal Sidiq menilai perbaikan kualitas beras tidak cukup sekadar mengandalkan hibah mesin atau alat penggilingan semata.
Pendampingan teknis secara langsung menjadi kunci agar teknologi pengolahan benar-benar diterapkan secara tepat oleh pengelola BUMDes dan kelompok tani.
"Terkadang kita luput dalam melakukan pendampingan masyarakat secara langsung dan hanya fokus pada bantuan alat saja. Tim 20 TEP ITS berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan melakukan pendekatan nyata terhadap setiap masalah dan kebutuhan riil masyarakat," kata Iqbal.
Baca juga: Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Langkah standardisasi ini mendapat dukungan dari Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat.
Kepala BRMP Papua Barat Syukur Syarif menegaskan bahwa peningkatan tonase panen harus berjalan seiring dengan perbaikan mutu pascapanen agar komoditas memiliki nilai tambah (added value).
"Yang pertama adalah produktivitas, kemudian yang berikutnya adalah kualitas," ungkap Syukur.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.