Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Membuat Pestisida Alami dari Daun Sirih Merah

Kompas.com, 16 Juni 2023, 12:28 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Hama adalah salah satu ancaman yang perlu diwaspadai dalam budidaya tanaman. Cara membasmi hama adalah dengan menggunakan pestisida, baik pestisida alami maupun pestisida kimia.

Namun demikian, kini banyak orang lebih memilih untuk menggunakan pestisida alami karena bahan-bahan yang terkandung dalam pestisida kimia bisa berdampak buruk bagi tanaman dan kesehatan.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Jumat (16/6/2023), selain menjaga tanaman tetap sehat dan subur, pestisida alami hampir tidak menimbulkan efek samping sama sekali. Penggunaan pestisida kimia secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama menyebabkan penumpukan residu.

Baca juga: Cabai Bisa Jadi Pestisida Alami untuk Tanaman, Ini Cara Pakainya

Ilustrasi daun sirih merahShutterstock/Bunda Nada Ilustrasi daun sirih merah

Kondisi ini akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia jika dilakukan secara terus menerus.

Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat pestisida alami. Sirih merah memiliki morfologi batang berwarna hijau keunguan, daun menyerupai jantung dan permukaan daun mengkilap.

Warna daun bagian permukaannya hijau bercorak putih kemerah-merahan. Jenis hama tanaman yang dapat dikendalikan oleh ekstrak sirih merah adalah hama jenis penghisap serta pemakan dedaunan seperti belalang, ulat bulu, dan beberapa jenis kutu-kutuan.

Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman sirih di antaranya kavikol dan fenol, minyak atsiri dan tanin. Menurut beberapa sumber, aroma daun sirih merah dapat menyebabkan lemas, kematian secara perlahan dan bersifat sebagai penolak selera makan bagi hama.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida dari Kulit Cempedak, Bisa Atasi Hama Padi

Cara membuat pestisida alami dari daun sirih merah

Berikut ini langkah-langkah membuat pestisida alami dari ekstrak daun sirih merah. Pertama, siapkan 50 lembar daun sirih merah.

Haluskan daun sirih merah tersebut dengan blender atau ditumbuk. Siapkan 1 liter air, kemudian rendam tumbukan daun sirih merah selama kurang lebih 10 menit.

Ilustrasi tanaman sirih merah, daun sirih merah. SHUTTERSTOCK/FAUZIBAIM IMAGE Ilustrasi tanaman sirih merah, daun sirih merah.

Saring air campuran daun sirih merah tersebut. Untuk hasil yang optimal, bisa dicampurkan tumbukan daun serai wangi agar menambah kuat aroma pestisida.

Simpan hasil ekstraksi tersebut dalam botol. Ampas sisa penyaringan bisa juga digunakan sebagai pupuk.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida Nabati dari Biji Sirsak

Cara menggunakan pestisida alami dari daun sirih merah

Campurkan ekstrak daun sirih merah sebanyak 20 sampai 30 ml dengan 15 sampai 17 liter air bersih. Semprotkan pestisida alami tersebut ke tanaman secara merata.

Aplikasikan secara rutin setidaknya seminggu dua kali sebagai langkah pencegahan hama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau