Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Kompas.com, 6 Maret 2025, 18:57 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PELUANG mengembangkan komoditas kurma (Phoenix dactylifera) di Indonesia semakin mendapat perhatian seiring dengan tingginya permintaan buah kurma.

Selama ini, Indonesia mengimpor kurma dalam jumlah besar. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor sekitar 55.430 ton kurma sepanjang tahun 2024, dengan nilai mencapai 79,74 juta dollar AS (setara Rp 1,32 triliun).

Tren impor kurma di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan rekor tertinggi pada 2022, saat impor mencapai 61.350 ton dengan nilai 86,25 juta dollar AS (setara Rp 1,43 triliun).

Data ini menunjukkan bahwa permintaan kurma di Indonesia masih sangat besar, terutama menjelang bulan Ramadhan, dengan tren impor yang tetap stabil di kisaran puluhan ribu ton setiap tahunnya.

Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk mengembangkan budidaya kurma lokal guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.

Baca juga: Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Wilayah potensial dan kondisi iklim

Secara umum, iklim tropis Indonesia mendukung pertumbuhan pohon kurma. Wilayah Indonesia mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, memungkinkan kurma tumbuh di berbagai daerah yang mendapatkan panas matahari cukup.

Meskipun kurma identik dengan daerah gurun beriklim kering, beberapa wilayah di Indonesia memiliki kondisi mikroklimat yang mirip dengan habitat aslinya.

Provinsi Riau, misalnya, memiliki iklim panas yang menyerupai negara asal kurma. Pohon kurma telah ditanam di Pekanbaru sejak 2006, dan menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Wilayah lain yang terbukti potensial adalah Lombok Utara (NTB). Tanah berpasir di Lombok Utara, hasil dari erupsi vulkanik Gunung Samalas, mengandung unsur hara mirip dengan tanah Timur Tengah.

Kombinasi pola suhu harian yang panas di siang hari dan dingin di malam hari serta curah hujan yang rendah menjadikan wilayah ini ideal untuk budidaya kurma.

Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan varietas lokal Kurma Datu, yang mampu berbuah lebat sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Namun, tidak semua daerah memiliki kondisi ideal tersebut. Tantangan utama budidaya kurma di Indonesia adalah kelembapan tinggi dan curah hujan yang berbeda dengan habitat aslinya.

Baca juga: Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Kelembapan tinggi dapat menyebabkan buah mudah membusuk jika dibiarkan terlalu lama di pohon. Oleh karena itu, daerah dengan musim kemarau panjang atau tanah berpasir cenderung lebih cocok.

Meski demikian, pengalaman menunjukkan bahwa kurma dapat tumbuh di berbagai kondisi, mulai dari dataran rendah panas hingga dataran tinggi beriklim sejuk, asalkan mendapatkan sinar matahari penuh dan dikelola dengan teknik budidaya yang tepat.

Pemerintah Indonesia telah mulai mendukung pengembangan kurma. Sejak 2006, tanaman kurma telah dimasukkan sebagai salah satu komoditas binaan Ditjen Hortikultura.

Hal ini tertuang dalam Permentan No. 151/Kpts/PD.310/9/2006, yang memasukkan kurma sebagai komoditas hortikultura yang dikembangkan pemerintah.

Selain dukungan regulasi, telah muncul asosiasi petani kurma, seperti Perkumpulan Penggiat Kurma Indonesia yang dibentuk sejak 2016, untuk memfasilitasi kerja sama dan pertukaran informasi di kalangan petani kurma.

Harga jual kurma segar hasil budidaya lokal pun cukup tinggi. Sebagai gambaran, kurma segar jenis ruthob (kurma basah matang) di Lombok Utara dihargai sekitar Rp 250.000 hingga Rp 360.000 per kg.

Dengan produktivitas yang tepat, potensi pendapatan per pohon bisa besar. Misalnya, satu pohon kurma betina dewasa di iklim tropis dapat menghasilkan 100–300 kg buah per tahun.

Jika dijual seharga Rp 100 ribu/kg, maka satu pohon dapat menghasilkan pendapatan Rp 10 juta – Rp 30 juta per tahun. Bahkan, varietas unggul seperti Barhee yang dijual dengan kemasan premium bisa bernilai lebih tinggi.

Baca juga: Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Teknologi budidaya kurma di Indonesia

Budidaya kurma di Indonesia berkembang pesat berkat dukungan lembaga penelitian, pemerintah, dan komunitas petani.

Lembaga seperti Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Palma (dulu bernama Balit Palma), Kementerian Pertanian memainkan peran penting dalam pengembangan standar dan teknologi budidaya kurma.

Pemerintah daerah, seperti di NTB, juga aktif mendukung perkebunan kurma, melihat potensi ekonominya yang besar.

Sumber bibit kurma dapat berasal dari biji, anakan (offshoot), atau kultur jaringan. Meskipun bibit dari biji lebih murah, jenis kelamin pohon tidak bisa ditentukan sebelum dewasa.

Bibit anakan lebih menjamin hasil yang sama dengan induknya, tetapi jumlahnya terbatas. Sementara itu, teknologi kultur jaringan menghasilkan bibit unggul dengan kepastian varietas dan jenis kelamin, tapi harganya masih relatif mahal.

Untuk teknik penanaman, tanah yang gembur dan berpasir lebih disukai kurma. Jarak tanam yang umum digunakan berkisar antara 6×6 meter hingga 8×8 meter per pohon untuk memberi ruang optimal bagi pertumbuhan.

Beberapa petani juga mencoba menanam kurma dalam pot besar (tabulampot), meskipun produksi optimal tetap diperoleh jika ditanam di lahan terbuka.

Pemeliharaan kurma mencakup pemupukan rutin, pengairan yang disesuaikan dengan musim, serta perlindungan dari hama dan penyakit.

Pemupukan NPK secara berkala dan penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan hasil panen. Pengairan diperlukan terutama pada fase awal pertumbuhan, sementara sistem drainase yang baik harus diperhatikan saat musim hujan.

Penyerbukan manual diperlukan untuk memastikan produksi buah, mengingat kurma merupakan tanaman berumah dua. Biasanya, perbandingan jantan : betina yang disarankan adalah sekitar 1:10 atau 1:20.

Panen kurma di Indonesia umumnya dilakukan pada tahap ruthob (sekitar 150 hari setelah penyerbukan) karena tingkat kelembapan tinggi tidak memungkinkan kurma mengering secara alami di pohon.

Salah satu kisah sukses datang dari Iwan Tarigan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang berhasil membudidayakan kurma di dataran tinggi dengan suhu sejuk sekitar 17 derajat celcius.

Keberhasilannya membantah anggapan bahwa kurma hanya bisa tumbuh di daerah panas dan kering.

Dengan teknik perawatan khusus dan pemilihan varietas yang tepat, Iwan Tarigan mampu membuat pohon kurmanya berbuah, membuka peluang baru bagi petani di wilayah beriklim sejuk.

Di Lombok Utara, NTB, Perkebunan “Kurma Datu” menjadi contoh sukses lainnya dengan lebih dari 1.000 pohon kurma yang ditanam di kawasan tersebut.

Keunggulan utama dari perkebunan ini adalah varietas Kurma Datu, yang mampu berbuah sepanjang tahun, menjadikannya salah satu perkebunan kurma produktif di Indonesia.

Baca juga: Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sementara itu, di Pasuruan, Jawa Timur, Agrowisata Kebun Kurma telah berhasil mengubah lahan kering seluas 3,7 hektare menjadi kebun kurma yang tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga menarik wisatawan.

Di Aceh Besar, Perkebunan Kurma Lembah Barbate telah berkembang menjadi salah satu kebun kurma terbesar di Indonesia, dengan luas mencapai 300 hektare sejak 2017.

Dengan skala yang besar, perkebunan ini tidak hanya berfokus pada produksi buah, tetapi juga pengembangan bibit unggul untuk mendukung pertumbuhan industri kurma di Tanah Air.

Keberhasilan berbagai perkebunan kurma di Indonesia menunjukkan bahwa dengan inovasi, adaptasi, dan teknik pertanian yang tepat, tanaman yang sebelumnya dianggap sulit dibudidayakan di Indonesia, dapat tumbuh subur dan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau