Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menata Ulang Masa Depan Petani Lada

Kompas.com, 19 Januari 2026, 07:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

SEJARAH kita adalah sejarah rempah dan komoditas perkebunan. Selama berabad-abad, kepulauan Nusantara menjadi magnet dunia berkat kekayaan rempahnya, di mana lada (Piper nigrum) yang dijuluki "The King of Spices", memegang takhta tertinggi. Lada bukan sekadar bumbu, namun juga mata uang, alat diplomasi, dan fondasi ekonomi yang menopang kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara hingga awal kemerdekaan.

Namun, ironi kini membayangi narasi besar tersebut. Di tengah pasar global yang kompetitif dan pergeseran struktur agribisnis, Indonesia sang legenda rempah, justru tengah berjuang merebut kembali kejayaannya. Produksi lada nasional menunjukkan tren menurun drastis, dari sekitar 84 ribu ton pada 2019 menjadi kisaran 63 ribu ton pada 2025.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan, kita terpaksa menjadi importir untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Situasi ini bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan sinyal merah bagi ketahanan ekonomi pedesaan. Ketika petani memilih meninggalkan kebun lada demi tambang timah atau beralih ke kelapa sawit, kita sedang menyaksikan erosi budaya tani dan hilangnya potensi ekonomi masa depan.

Baca juga: Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah

Antara Degradasi Lahan dan Regenerasi Petani

Memahami krisis lada harus dimulai dengan membedah data di dua sentra produksi utama, yaitu Propinsi Bangka Belitung (Babel) dan Lampung. Kedua provinsi ini adalah barometer produksi lada nasional. Di Bangka Belitung, rumah bagi varietas Muntok White Pepper yang mendunia, terjadi penyusutan lahan yang masif.

Data menunjukkan luas lahan lada petani di Babel merosot tajam dari 52 ribu hektare pada 2020 menjadi hanya 37 ribu hektare pada 2024. Penurunan ini berbanding lurus dengan eksodus petani, dimana jumlah pekebun lada berkurang dari 63 ribu orang menjadi 42 ribu orang dalam periode yang sama.

Penyebabnya adalah alih fungsi lahan menjadi area pertambangan timah ilegal dan konversi ke komoditas sawit yang dianggap lebih low maintenance dengan kepastian harga bulanan, menjadi faktor dominan. Selain itu, serangan penyakit busuk pangkal batang dan degradasi hara tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebih di masa lalu telah menurunkan produktivitas secara signifikan.

Sementara itu, Lampung masih mempertahankan areal yang cukup luas, tercatat sekitar 45 ribu hektare pada 2024. Namun, tantangannya ada pada produktivitas. Rata-rata produktivitas lada di Lampung hanya berkisar 0,7 kuintal (70 kg) per hektar, angka yang sangat rendah dibandingkan potensi varietas unggul yang bisa mencapai ribuan kilogram.

Tanaman yang menua dan kurangnya peremajaan membuat inefisiensi produksi semakin parah. Masalah ini diperburuk oleh demografi petani yang menua (aging farmers). Generasi muda pedesaan memandang lada sebagai komoditas masa lalu yang melelahkan dengan prospek harga yang "berjudi".

Meskipun harga lada di tingkat petani melonjak pada akhir 2025, mencapai Rp160 ribu/kg lada putih di Babel dan Rp90 ribu/kg lada hitam di Lampung, kenaikan ini seringkali terlambat karena banyak petani sudah kadung menebang pohon ladanya saat harga anjlok tahun-tahun sebelumnya.

Volatilitas harga inilah yang memutus semangat regenerasi. Tanpa intervensi pada sisi hulu (produktivitas lahan) dan sisi sosiologis (regenerasi petani), lada Indonesia hanya akan tinggal nama dalam buku sejarah.

Baca juga: Produksi Lada Anjlok 50 Persen, Uang Rp 2,6 Triliun Hilang Tiap Tahun

Ilustrasi tanaman ladaShutterstock/David Bokuchava Ilustrasi tanaman lada

Menjadikan Komoditas Bernilai Tambah

Menjual lada dalam bentuk biji mentah (raw beans) di pasar global saat ini adalah strategi yang usang. Kita tidak bisa lagi sekadar bersaing dalam volume melawan Vietnam, yang telah mengindustrialisasi pertanian ladanya dengan efisiensi tinggi. Strategi Indonesia harus bergeser ke arah penciptaan nilai tambah, atau yang populer disebut hilirisasi.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Keuangan telah mengalokasikan anggaran besar dalam program Hilirisasi Perkebunan pada periode 2025–2027 guna merevitalisasi industri perkebunan, termasuk lada. Momentum kebijakan strategis ini harus diarahkan secara presisi.

Hilirisasi lada tidak boleh berhenti pada jargon. Ini berarti menggeser fokus ekspor dari lada butiran menjadi produk turunan seperti lada bubuk premium steril, oleoresin (minyak atsiri lada untuk industri kosmetik dan farmasi), hingga piperin murni.

Pasar global, terutama negara maju seperti Jepang dan Eropa, memiliki preferensi yang kuat terhadap lada berkualitas tinggi dengan traceability (keterlacakan) yang jelas. Jepang, misalnya, menjadikan lada bagian integral budaya kulinernya dan sangat menghargai Muntok White Pepper karena profil aromanya yang khas.

Namun, kita sering kehilangan margin keuntungan karena mengekspor bahan mentah yang kemudian diolah dan di-rebranding oleh negara lain.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau