
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
CHINA yang selama ini menjadi importir durian terbanyak di dunia ternyata ingin mandiri. Mereka sadar betul permintaan buah beraroma khas itu di pasar domestik terus meningkat dengan volume tanpa batas sehingga jangan sepenuhnya bergantung pada negara lain. Ambisi Negeri Tirai Bambu ini adalah swasembada durian.
Itu sebabnya, setelah menghabiskan miliran dollar AS selama bertahun-tahun sebagai importir, sejak tahun 2018, China mulai membudidayakan durian. Budidaya terpusat di Provinsi Hainan. Wilayah paling selatan tersebut memiliki iklim tropis yang cocok untuk tanaman yang memiliki kulit berduri itu.
Usaha ini tidak dilakukan secara sporadis oleh segelintir petani, melainkan melalui kerjasama melibatkan semua pihak dengan dukungan penuh pemerintah China. Mereka bersama-sama merencanakan dan menyiapkan blue print swasembada durian dengan matang dan detail.
Kalangan perguruan tinggi bertugas melakukan riset yang mendalam dan detail guna menghadirkan bibit durian berkualitas terbaik dan mendapatkan lahan yang cocok. Mereka juga tidak sungkan mengundang para ahli durian dari Thailand, Vietnam dan Malaysia untuk berbagai pengalaman.
Saat yang sama Pemerintah China menyiapkan irigasi atau waduk dan meluncurkan program subsidi untuk membantu petani dan pelaku agrobisnis. Bantuan tersebut meliputi antara lain distribusi bibit, pelatihan teknis pengolahan lahan dan perawatan tanaman serta modal usaha.
Langkah itu dilakukan serius, sebab durian termasuk tanaman tropis yang sensitif dan banyak pihak belum meyakini lingkungan alam China cocok dan mampu mendukung rencana dan ambisi tersebut. Belum lagi, waktu berbuah pertama baru terjadi setelah tiga hingga lima tahun merupakan sebuah tantangan berat dan risiko ekonomi yang serius bagi petani perintis.
“Menanam durian di China bukanlah hal mudah. Diperlukan upaya, eksperimen dan ketekunan selama bertahun-tahun,” kata Lang Haibo, perwakilan petani di Sanya, Provinsi Hainam. Dia mengaku, selain kebijakan pendukung, pemerintah China mendorong adanya inovasi teknologi dan pengembangan industri durian yang terintegrasi.
Baca juga: Globalisasi 2.0 Akan Dimulai di Hainan
Melansir Produce Report terungkap Provinsi Hainan telah berkembang menjadi pusat produksi durian utama di China. Kurang lebih 2.000 hektar perkebunan durian tersebar di wilayah Sanya, Baoting, dan Ledong. Area budidaya terus meluas ke utara, dengan kualitas dan hasil panen yang menunjukkan peningkatan signifikan.
Tahun 2026 ini ditargetkan dapat mencapai 100.000 hektar. Khusus di Sanya, area perkebunan durian telah mencapai 600 hektar, di mana 40 persen di antaranya sudah berbuah sejak tahun 2024. Produksi dari wilayah ini ditargetkan mencapai lebih dari 200 ton. Situasi serupa terjadi di Baoting dengan 600 hektar dan 14 persen di antaranya juga mulai berbuah pada tahun 2024.
Di Ledong, area budidaya mencapai 800 hektar melibatkan 18 perusahaan dan petani independen. Bahkan, sebuah "kota durian" sedang dirancang di area seluas 300 hektar. Mereka juga terus meningkatkan jumlah lahan perkebunan durian. Bahkan, di Mingshan, Sanya, petani melakukan pola tumpang sari dengan menanam juga nanas, sirih dan pisang.
Sambil menunggu panen durian mulai tahun kelima, petani dapat memperoleh sumber pendapatan dari komoditas yang ada.
Baca juga: 8 Cara Pilih Durian Matang, Dagingnya Manis dan Tebal
Presiden Asosiasi Durian Hainan sekaligus Manajer Umum Perusahaan Pertanian Hainan Youqi, Du Baizhong mengungkapkan, perusahaannya mengelola perkebunan durian sekitar 530 hektar di Sanya, 230 hektar di Ledong dan 120 hektar di Baoting. Produksi pertama pada 2023 dan 2024 sekitar 200 ton per tahun. Namun tahun 2025 produksi bisa mencapai minimal 2.000 ton. Saat itu sebagian besar pohon durian sudah berproduksi.
Pemerintah China serius berinvestasi dalam pengembangan varietas durian. Profesor Meng Lei dari Universitas Hainan menyatakan lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan di Hainan sedang aktif mengembangkan varietas baru. Mereka juga selalu aktif mengundang ahli durian dari Thailand, Malaysia dan Vietnam untuk berdiskusi.
Para ahli juga melakukan riset terhadap tanah yang ada di wilayah Hainan yang cocok untuk budidaya durian. Hal ini sangat penting, sebab pada tahun 1950an petani di provinsi itu pernah melakukan budidaya durian, tetapi gagal. Kali ini mereka tak menginginkan kasus tersebut terulang kembali.
Dari riset terkait kondisi tanah membuat keberhasilan budidaya durian tergolong tinggi. Kelangsungan hidup tanaman mencapai 98 persen. China juga menginginkan peningkatan kualitas dan produktivitas buah. Termasuk di antaranya penemuan varietas tahan dingin sehingga dapat dibudidayakan di wilayah dengan garis lintang lebih tinggi.