
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI tengah perbincangan publik tentang ketahanan pangan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada satu komoditas: padi. Kebijakan, riset, hingga wacana media pun cenderung bergerak di orbit yang sama. Padahal, ketahanan pangan nasional tidak mungkin dibangun hanya dengan satu sandaran. Indonesia membutuhkan diversifikasi yang nyata, bukan sekadar slogan. Dalam konteks inilah singkong seharusnya memperoleh tempat yang lebih terhormat: sebagai komoditas strategis yang selama ini terlupakan.
Singkong (Manihot esculenta) sering dipandang sebagai pangan alternatif, bahkan tidak jarang ditempatkan sebagai makanan “kelas dua”. Ia identik dengan cemilan tradisional atau pangan pengganti ketika masa sulit. Cara pandang ini tidak hanya keliru, tetapi juga merugikan. Sebab, jika ditelaah dari perspektif agronomi, ekonomi, dan pembangunan industri, singkong memiliki daya strategis yang jauh melampaui citra yang selama ini melekat padanya.
Keunggulan utama singkong adalah ketangguhannya. Dalam kondisi iklim yang makin tidak menentu, musim hujan bergeser, kekeringan lebih panjang, dan serangan organisme pengganggu tanaman meningkat, pertanian membutuhkan komoditas yang tahan tekanan. Singkong relatif toleran terhadap kekeringan, mampu tumbuh di lahan marginal, dan tidak selalu menuntut input tinggi. Di banyak wilayah, singkong bahkan menjadi tanaman yang “menyelamatkan” petani ketika komoditas lain gagal panen.
Namun singkong bukan hanya soal kemampuan bertahan. Yang membuatnya layak disebut komoditas strategis adalah kemampuannya berdiri pada tiga pilar sekaligus: pangan, industri, dan energi.
Dari sisi pangan, singkong dapat diolah menjadi beragam produk: gaplek, tiwul, tapioka, hingga mocaf yang kian relevan bagi industri pangan modern. Di tengah meningkatnya kebutuhan tepung dan bahan baku pangan olahan, singkong dapat menjadi sumber karbohidrat lokal yang stabil, sekaligus mendorong diversifikasi konsumsi.
Jika agenda diversifikasi pangan ingin benar-benar diwujudkan, singkong seharusnya menjadi salah satu komoditas yang paling rasional untuk diprioritaskan.
Baca juga: Melantarkan Singkong Naik Kelas...
Dari sisi industri, pati singkong memiliki rantai pemanfaatan yang luas: industri makanan dan minuman, tekstil, kertas, farmasi, hingga perekat. Artinya, singkong tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi di kebun, tetapi juga membuka peluang hilirisasi.
Hilirisasi singkong dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan menggerakkan ekonomi wilayah sentra produksi. Di saat pemerintah mendorong industrialisasi berbasis sumber daya domestik, singkong seharusnya menjadi bagian penting dari strategi itu.
Bahkan dari sisi energi, singkong memiliki potensi sebagai bahan baku bioetanol. Ketika dunia bergerak menuju energi terbarukan, Indonesia seharusnya tidak tertinggal. Singkong menawarkan peluang pengembangan energi berbasis pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Namun, tentu saja, pengembangan ini perlu tata kelola yang hati-hati agar tidak mengorbankan kebutuhan pangan dan tidak menekan petani pada pola produksi yang tidak adil.
Sayangnya, singkong menghadapi paradoks: potensinya besar, tetapi perlakuan kebijakan dan inovasinya kecil. Singkong lebih sering dianggap tanaman cadangan, bukan komoditas utama. Dampaknya terlihat jelas: dukungan riset varietas unggul, teknologi budidaya, pengendalian penyakit, hingga inovasi pascapanen masih tertinggal.
Ilustrasi tanaman singkongBaca juga: Cara Menanam Singkong agar Subur dan Hasil Panen Berkualitas
Di tingkat petani, persoalan klasik terus berulang, harga fluktuatif, ketergantungan pada tengkulak, akses pupuk dan pembiayaan terbatas, serta lemahnya kelembagaan. Banyak petani menanam singkong bukan karena prospek yang menjanjikan, melainkan karena pilihan komoditas lain lebih berisiko dan lebih mahal.
Jika singkong ingin diangkat sebagai komoditas strategis, Indonesia memerlukan langkah yang lebih tegas dan terukur. Pertama, perkuat inovasi hulu: ketersediaan benih unggul berdaya hasil tinggi, adaptif terhadap kekeringan, dan tahan penyakit harus menjadi prioritas. Produktivitas singkong di tingkat petani masih dapat ditingkatkan signifikan jika inovasi dan pendampingan berjalan konsisten.
Kedua, bangun ekosistem hilirisasi yang adil. Industri pengolahan perlu dikembangkan dekat sentra produksi agar biaya logistik turun dan nilai tambah tidak “lari” keluar daerah. Hilirisasi juga harus dirancang agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, melainkan memperoleh keuntungan yang proporsional.
Ketiga, perbaiki tata niaga dan perkuat kelembagaan petani. Koperasi modern, kontrak kemitraan yang transparan, serta akses pembiayaan akan meningkatkan posisi tawar petani. Tanpa pembenahan ini, singkong akan terus berada dalam siklus komoditas murah, meskipun permintaannya tinggi.
Pada akhirnya, singkong tidak membutuhkan romantisme. Ia membutuhkan keseriusan. Indonesia tidak kekurangan komoditas potensial; yang sering kurang adalah keberanian menata ekosistemnya. Jika dikelola sebagai komoditas strategis dengan riset, kebijakan, dan hilirisasi yang konsisten, singkong dapat menjadi penyangga ketahanan pangan sekaligus penggerak agroindustri nasional.
Baca juga: Singkong dan Tapioka Impor Bakal Dikenai Tarif Bea Masuk
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang