Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
arifda ayu
Dosen

Seorang dosen dengan bidang ilmu fitopatologi

Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan

Kompas.com, 30 Januari 2026, 06:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI tengah perbincangan publik tentang ketahanan pangan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada satu komoditas: padi. Kebijakan, riset, hingga wacana media pun cenderung bergerak di orbit yang sama. Padahal, ketahanan pangan nasional tidak mungkin dibangun hanya dengan satu sandaran. Indonesia membutuhkan diversifikasi yang nyata, bukan sekadar slogan. Dalam konteks inilah singkong seharusnya memperoleh tempat yang lebih terhormat: sebagai komoditas strategis yang selama ini terlupakan.

Singkong (Manihot esculenta) sering dipandang sebagai pangan alternatif, bahkan tidak jarang ditempatkan sebagai makanan “kelas dua”. Ia identik dengan cemilan tradisional atau pangan pengganti ketika masa sulit. Cara pandang ini tidak hanya keliru, tetapi juga merugikan. Sebab, jika ditelaah dari perspektif agronomi, ekonomi, dan pembangunan industri, singkong memiliki daya strategis yang jauh melampaui citra yang selama ini melekat padanya.

Keunggulan utama singkong adalah ketangguhannya. Dalam kondisi iklim yang makin tidak menentu, musim hujan bergeser, kekeringan lebih panjang, dan serangan organisme pengganggu tanaman meningkat, pertanian membutuhkan komoditas yang tahan tekanan. Singkong relatif toleran terhadap kekeringan, mampu tumbuh di lahan marginal, dan tidak selalu menuntut input tinggi. Di banyak wilayah, singkong bahkan menjadi tanaman yang “menyelamatkan” petani ketika komoditas lain gagal panen.

Namun singkong bukan hanya soal kemampuan bertahan. Yang membuatnya layak disebut komoditas strategis adalah kemampuannya berdiri pada tiga pilar sekaligus: pangan, industri, dan energi.

Dari sisi pangan, singkong dapat diolah menjadi beragam produk: gaplek, tiwul, tapioka, hingga mocaf yang kian relevan bagi industri pangan modern. Di tengah meningkatnya kebutuhan tepung dan bahan baku pangan olahan, singkong dapat menjadi sumber karbohidrat lokal yang stabil, sekaligus mendorong diversifikasi konsumsi.

Jika agenda diversifikasi pangan ingin benar-benar diwujudkan, singkong seharusnya menjadi salah satu komoditas yang paling rasional untuk diprioritaskan.

Baca juga: Melantarkan Singkong Naik Kelas...

Dari sisi industri, pati singkong memiliki rantai pemanfaatan yang luas: industri makanan dan minuman, tekstil, kertas, farmasi, hingga perekat. Artinya, singkong tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi di kebun, tetapi juga membuka peluang hilirisasi.

Hilirisasi singkong dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan menggerakkan ekonomi wilayah sentra produksi. Di saat pemerintah mendorong industrialisasi berbasis sumber daya domestik, singkong seharusnya menjadi bagian penting dari strategi itu.

Bahkan dari sisi energi, singkong memiliki potensi sebagai bahan baku bioetanol. Ketika dunia bergerak menuju energi terbarukan, Indonesia seharusnya tidak tertinggal. Singkong menawarkan peluang pengembangan energi berbasis pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Namun, tentu saja, pengembangan ini perlu tata kelola yang hati-hati agar tidak mengorbankan kebutuhan pangan dan tidak menekan petani pada pola produksi yang tidak adil.

Sayangnya, singkong menghadapi paradoks: potensinya besar, tetapi perlakuan kebijakan dan inovasinya kecil. Singkong lebih sering dianggap tanaman cadangan, bukan komoditas utama. Dampaknya terlihat jelas: dukungan riset varietas unggul, teknologi budidaya, pengendalian penyakit, hingga inovasi pascapanen masih tertinggal.

Ilustrasi tanaman singkongSHUTTERSTOCK/CHOTE BKK Ilustrasi tanaman singkong

Baca juga: Cara Menanam Singkong agar Subur dan Hasil Panen Berkualitas

Di tingkat petani, persoalan klasik terus berulang, harga fluktuatif, ketergantungan pada tengkulak, akses pupuk dan pembiayaan terbatas, serta lemahnya kelembagaan. Banyak petani menanam singkong bukan karena prospek yang menjanjikan, melainkan karena pilihan komoditas lain lebih berisiko dan lebih mahal.

Jika singkong ingin diangkat sebagai komoditas strategis, Indonesia memerlukan langkah yang lebih tegas dan terukur. Pertama, perkuat inovasi hulu: ketersediaan benih unggul berdaya hasil tinggi, adaptif terhadap kekeringan, dan tahan penyakit harus menjadi prioritas. Produktivitas singkong di tingkat petani masih dapat ditingkatkan signifikan jika inovasi dan pendampingan berjalan konsisten.

Kedua, bangun ekosistem hilirisasi yang adil. Industri pengolahan perlu dikembangkan dekat sentra produksi agar biaya logistik turun dan nilai tambah tidak “lari” keluar daerah. Hilirisasi juga harus dirancang agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, melainkan memperoleh keuntungan yang proporsional.

Ketiga, perbaiki tata niaga dan perkuat kelembagaan petani. Koperasi modern, kontrak kemitraan yang transparan, serta akses pembiayaan akan meningkatkan posisi tawar petani. Tanpa pembenahan ini, singkong akan terus berada dalam siklus komoditas murah, meskipun permintaannya tinggi.

Pada akhirnya, singkong tidak membutuhkan romantisme. Ia membutuhkan keseriusan. Indonesia tidak kekurangan komoditas potensial; yang sering kurang adalah keberanian menata ekosistemnya. Jika dikelola sebagai komoditas strategis dengan riset, kebijakan, dan hilirisasi yang konsisten, singkong dapat menjadi penyangga ketahanan pangan sekaligus penggerak agroindustri nasional.

Baca juga: Singkong dan Tapioka Impor Bakal Dikenai Tarif Bea Masuk

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Varietas Tanaman
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Varietas Tanaman
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Varietas Tanaman
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Varietas Tanaman
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat