
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA mampu produksi durian sekitar 1,96 juta ton pada 2024. Volume ini termasuk terbanyak di dunia.
Namun, di pasar global, kontribusi Indonesia hanya 0,043 persen, kalah bersaing dengan durian dari Thailand dan Vietnam, Malaysia dan Filipina. Hal ini sungguh ironi.
Merilis data Trade Map dalam Durian Global Market Report oleh Plantation Internasional, volume ekspor durian di pasar global pada tahun 2024 sebanyak 1.372.863 ton.
Dari jumlah itu, Thailand menjadi negara terdepan dalam memenuhi permintaan durian di pasar global di mana kontribusinya sekitar 857.400 ton atau 62,4 persen dengan nilai transaksi sekitar 4,39 miliar dollar AS setara Rp 71,42 triliun (kurs Rp 16.269 per dollar AS).
Jumlah ini meningkat siginifikan dibanding tahun 2018. Berdasarkan data dari lembaga yang sama tercatat tahun 2022, misalnya, nilai ekspor durian Thailand mencapai 3,199 miliar dollar AS, dan tahun 2018 senilai 1,235 miliar dollar AS.
Berikutnya Vietnam. Negara ini melakukan gebrakan siginifikan sehingga tahun 2024 mampu mengekspor durian mencapai 435.700 ton atau 31,7 persen dengan nilai transaksi 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.
Sisanya diisi Hongkong yang pada tahun 2024 mengekspor 40.300 ton, Malaysia 22.400 ton, Filipina 16.000 ton, Indonesia hanya 591 ton, Bangladesh 227 ton, Kamboja 117 ton, Republik Dominika 82 ton dan Sri Lanka 46 ton.
Mengapa Thailand dapat menguasai pasar ekspor buah durian? Terobosan apa saja yang telah terjadi di negeri dalam beberapa tahun terakhir?
Thailand telah lama melihat potensi buah durian di pasar global. Pada tahun 2012, misalnya, negara itu sudah memiliki lahan tananam durian seluas 96.000 hektar, dan tahun 2019 melonjak tajam menjadi 152.000 hektar.
Bahkan, otoritas pertanian setempat menargetkan volume produksi buah durian di Thailand pada tahun 2022 mencapai 1,4 juta ton. Artinya terjadi peningkatan signifikan dari tahun 2019 sebanyak 656.777 ton.
Thailand sungguh cerdas. Negeri Gajah Putih itu bukan semata-mata membangun perkebunan durian skala besar dengan pengelolaan yang profesional, tetapi dengan serius mengembangkan riset mendalam, terpadu dan berkesinambungan guna menyediakan bibit berkualitas.
Mereka sadar betul bahwa hanya dengan bibit unggul akan menghasilkan buah durian berkualitas terbaik seperti keinginan konsumen.
Thailand menyiapkan lahan khusus yang luas dan terawat. Tanaman mendapatkan perawatan, pemupukan yang rutin dengan pengairan teratur.
Permintaan tinggi di pasar luar negeri membuat sejumlah petani karet, singkong dan lainnya beralih menanam durian.
Dari sekian banyak jenis durian di Thailand, hanya tiga jenis menjadi unggulan. Ketiga jenis itu adalah Kanyao, Chanee dan Monthong. Sejauh ini durian Monthong yang paling terkenal.
Durian montong menjadi golden pillow, sebab memiliki rasa yang enak dan manis, tidak begitu beraroma, daging buah yang tebal dan pulen.
Ukuran biji yang kecil dan pipih, serta kesegarannya bisa bertahan cukup lama. Beratnya berkisar 3 - 5 kilogram per buah. Ada pula yang mencapai 10 kilogram per buah.
Lebih dari 90 persen buah durian Thailand diekspor. Tujuan utama adalah China, lalu Hongkong, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan, Thailand juga menjajaki pasar di Timur Tengah.
Di luar Thailand, ada Vietnam yang juga terus gencar mengembangkan tanaman durian. Target utama adalah merebut pasar China dalam volume yang sebanyak-banyaknya.
Jumlah penduduk China mencapai 1,425 miliar jiwa merupakan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, bermodalkan jaraknya yang dekat dengan China, Vietnam menawarkan pengiriman melalui jalan darat sehingga dapat menekan biaya lebih rendah.
Ekspor melalui jalan darat dari Vietnam ke China hanya menempuh jarak sejauh 1.306 kilometer. Lama perjalanan maksimal tiga hari tentu menghemat biaya transportrasi. Hal ini membuat harga eceran durian di China lebih murah.
Harga durian Vietnam di China rata-rata 4 dollar AS per kilogram. Harga ini lebih rendah dibanding durian dari negara Asia Tenggara lainnya sekitar 6 dollar AS per kilogram.
Tidak mengherankan permintaan durian dari Vietnam pun cukup tinggi. Pada semester I tahun 2023, Vietnam meraih devisa dari mengekspor buah durian ke China sebesar 876 juta dollar AS atau setara Rp 13 triliun.
Tahun 2024, Vietnam mendapatkan devisa mencapai 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.
Vietnam juga mengembangkan riset terpadu untuk menghasilkan durian yang dapat diproduksi sepanjang tahun. Sejauh ini, Vietnam telah memiliki perkebunan durian seluas kurang lebih 150.000 hektar di kawasan Delta Mekong dan dataran tinggi.
Vietnam juga menandatangani protokol ekspor dengan China tahun 2022 dimana salah satu syarat, yakni seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengiriman harus dapat dilacak.
Di dalam negeri, pemerintah Vietnam menggalakkan peningkatan kualitas, inovasi teknologi pascapanen dan sistem logistik yang canggih. Hasilnya, ekspor durian Vietnam melonjak 7,8 kali lipat.
Timbul pertanyaan mengapa durian Indonesia masih kalah bersaing di pasar global? Di mana letak akar permasalahan sehingga durian belum menjadi andalan ekspor Indonesia?
Bukankah Indonesia memiliki keanekaragaman genetik sekitar 21 dari 27 spesies durian di dunia sehingga seharusnya menjadi salah satu pilihan utama di pasar global?.
Secara umum, tanaman durian mampu tumbuh dan berkembang pada lahan dengan ketinggian 100-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 22-30 derajat celcius dan tidak toleran dengan suhu dingin.
Curah hujan berkisar 1.500-3.000 mm per tahun dengan bulan basah dan kering yang jelas dan membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang tahun.
Sejauh ini Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan merupakan wilayah yang cocok untuk budidaya tanaman durian.
Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Lombok, Flores, Sumbawa, Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau selama ini menghasilan buah durian yang berkualitas baik.
Selama ini hampir 80 persen pohon durian di Indonesia tumbuh secara alami, dan setiap hari nyaris tak pernah mendapatkan perawatan yang baik dan kontinyu.
Akibatnya, produktivitas dan kualitas buah selalu rendah sehingga hanya memenuhi permintaan pasar domestik atau lokal. Buah yang ada sulit menembus pasar global, sebab mengalami sejumlah kendala baik teknis maupun nonteknis.
Di luar itu, ada pula sejumlah masalah serius yang membelit usaha budidaya durian di Indonesia.
Pertama, belum adanya riset tanaman durian yang terpadu. Akibatnya, belum tampak durian unggulan Indonesia dengan kualitas prima. Kalau pun ada, riset itu hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas.
Kedua, selama ini budidaya durian cenderung secara tradisional, sebab umumnya hanya melibatkan petani dengan areal yang terbatas.
Akibatnya, perhatian pada perawatan dan pemupukan tanaman sangat terbatas. Itu sebabnya, petani perlu dibekali pengetahuan tentang pemilihan bibit unggul, perawatan dan pemasaran.
Kecerdasan petani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan usaha durian. Negara harus terlibat langsung dalam upaya pencerdasan petani.
Ketiga, usaha budidaya tanaman durian belum banyak melibatkan perusahaan swasta untuk mengembangkan perkebunan skala besar yang mampu produksi sepanjang tahun dengan kualitas terbaik.
Belakangan setelah melihat pasar yang tidak terbatas, pihak swasta mulai bergairah mengembangkan budidaya durian.
Kehadiran pihak swasta dapat mendorong adanya buah durian berkualitas, unggul dan sesuai standar global serta fokus ekspor. Pasar ekspor menuntut kualitas, kuantitas dan kontiunitas.
Dengan iklim tropis yang dimiliki Indonesia membentang dari Aceh hingga Papua memicu durian dapat terus berproduksi dengan waktu produksi di setiap sentra berbeda-beda.
Keempat, pemerintah perlu melakukan promosi buah durian unggulan Indonesia ke pasar global. Selama ini setidaknya ada tujuh durian Indonesia yang populer, yakni durian montong, durian petruk, durian bawor, durian musang king, durian tembaga, durian bokor, durian duri hitam dan durian merah.
Sudah waktunya semua pihak mengerahkan segala kekuatan untuk mengembangkan tanaman durian secara lebih baik.
Para petani perlu mendapatkan informasi yang akurat, baik tentang perawatan tanaman dan prospek buah durian yang memiliki pasar tanpa batas.
Melalui informasi budidaya yang benar, petani pasti semakin bergairah. Mereka akan bekerja penuh semangat guna menghasilkan buah durian berkualitas tinggi dengan volume produksi yang besar.
Apalagi dengan dukungan pasar yang luas dan harga tinggi, maka durian dapat menjadi salah satu andalan Indonesia meraup devisa.
Pasar domestik memang semakin menjanjikan. Namun, penjualan di pasar global juga perlu ditingkatkan.
Di luar negeri pasar durian seolah tanpa batas. Penandatanganan protokol ekspor durian beku antara Indonesia dan China pada 25 Mei 2025, menjadi langkah yang bagus.
Bahkan, sudah delapan perusahaan yang lolos verifikasi untuk mengekspor daging durian beku ke China. Sebuah peluang sudah terbuka lebar.
Ayoo bangkit durian Indonesia!
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang