Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia

Kompas.com, 2 Februari 2026, 15:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

MEMASUKI tahun 2026, dunia menatap sektor komoditas perkebunan dengan ekspektasi tinggi. Harga berbagai komoditas utama diproyeksikan terus naik, seiring lonjakan permintaan global yang menguat pasca pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.

Kenaikan konsumsi bahan pangan dan bahan baku industri menjadi pendorong utama, namun dinamika pasar tidak terlepas dari tekanan eksternal. Gejolak geopolitik telah mengganggu rantai pasok tradisional, memaksa negara importir mencari alternatif, termasuk beralih dari minyak bunga matahari ke minyak sawit.

Di sisi lain, fenomena iklim ekstrem seperti El Niño, banjir, dan kekeringan telah memangkas produksi di banyak sentra komoditas global.

Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan pasar internasional lebih agresif memburu pasokan baru, dengan kesiapan membayar harga lebih tinggi demi memastikan keberlanjutan suplai.

Dalam konteks ini, Indonesia muncul sebagai harapan utama. Permintaan atas komoditas perkebunan nasional seperti sawit, kopi, kakao, dan karet menunjukkan tren meningkat. Negara-negara seperti India dan Tiongkok tercatat terus meningkatkan impor minyak nabati, sementara konsumsi kopi dan kakao melonjak seiring pulihnya daya beli global dan geliat sektor kuliner.

Tak kalah penting, karet alam mengalami lonjakan permintaan dari sektor otomotif, sementara produksi dunia stagnan, menyebabkan defisit pasokan selama lima tahun berturut-turut dan mendorong harga ke titik tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Produksi kakao dunia yang sempat anjlok 13% akibat kekeringan di Afrika Barat turut memperbesar peluang Indonesia sebagai alternatif pemasok strategis.

Baca juga: Merawat Kopi dan Kakao Sumatera

Lumbung Komoditas Strategis Dunia

Indonesia dikaruniai keberagaman komoditas perkebunan yang bernilai strategis di pasar global. Minyak kelapa sawit dan karet alam menempati posisi paling dominan. Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia, dengan output CPO mencapai sekitar 50 juta ton per tahun, atau lebih dari separuh pasokan global. Posisi ini menjadikan Indonesia penentu utama stabilitas harga minyak nabati dunia.

Di sisi lain, Indonesia juga merupakan produsen karet alam terbesar kedua setelah Thailand, komoditas yang sangat vital untuk industri otomotif, alat kesehatan, dan manufaktur global.

Potensi perkebunan Indonesia tak berhenti di situ. Dalam komoditas kopi, Indonesia masuk jajaran lima besar produsen dunia, dengan keunggulan robusta Sumatra dan Arabika specialty dari dataran tinggi Sulawesi, Bali, dan Jawa yang digemari pasar internasional.

Sektor kakao juga tak kalah kuat, dengan Indonesia secara konsisten menempati posisi tiga besar produsen global setelah Pantai Gading dan Ghana. Pulau Sulawesi menjadi pusat produksi utama, menopang pasokan industri cokelat di Asia dan Eropa.

Selain itu, Indonesia dikenal sebagai penghasil berbagai rempah tropis unggulan sejak era kolonial. Lada hitam dari Lampung, pala dan cengkeh dari Maluku, kayu manis dari Sumatra, vanili dari Papua, hingga mete dari Nusa Tenggara.

Kekayaan komoditas tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilar utama rantai pasok perkebunan global. Dalam kondisi harga internasional yang tinggi, pasar dunia berharap Indonesia mampu meningkatkan volume ekspornya secara stabil dan berkelanjutan.

Importir besar seperti India dan Tiongkok menggantungkan kebutuhan minyak nabatinya pada pasokan dari Indonesia. Demikian pula, negara konsumen karet dan kakao melirik Indonesia ketika pasokan dari negara pesaing terganggu cuaca ekstrem atau gejolak produksi.

Dalam konteks ini, isu keberlanjutan dan tata kelola menjadi krusial. Indonesia memiliki peluang strategis untuk memenuhi standar tersebut, melalui penguatan sertifikasi, penerapan praktik agroforestri, dan adopsi model perkebunan produktif yang berkelanjutan.

Baca juga: Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Berita
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Berita
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Berita
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Berita
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Berita
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Varietas Tanaman
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Berita
PISAgro Bidik 44 Juta Petani Kecil untuk Masuk Ekosistem Kemitraan
PISAgro Bidik 44 Juta Petani Kecil untuk Masuk Ekosistem Kemitraan
Varietas Tanaman
PISAgro Tambah 300.000 Petani Mitra, Total Jangkauan 2,8 Juta Orang
PISAgro Tambah 300.000 Petani Mitra, Total Jangkauan 2,8 Juta Orang
Varietas Tanaman
Dukung UU Reforma Agraria, PISAgro Tekankan Lahan Telantar Harus Dioptimalkan
Dukung UU Reforma Agraria, PISAgro Tekankan Lahan Telantar Harus Dioptimalkan
Varietas Tanaman
Dulu Dibuang Sia-sia, Ikan Tangkapan Warga Transmigran Merauke Siap Tembus Pasar Nasional
Dulu Dibuang Sia-sia, Ikan Tangkapan Warga Transmigran Merauke Siap Tembus Pasar Nasional
Perawatan
Ancaman Gagal Panen Bawang Merah Brebes dan Urgensi Pengendalian Hama
Ancaman Gagal Panen Bawang Merah Brebes dan Urgensi Pengendalian Hama
Perawatan
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau