Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Meraup Keuntungan dari Lada Lampung

Kompas.com, 25 Februari 2026, 05:54 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Skema pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan asuransi tanaman juga diperkuat agar petani memiliki modal dan perlindungan usaha.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Lampung aktif mendorong investasi hilirisasi, mengingat kontribusi industri pengolahan lokal masih relatif kecil, sekitar 18% dari total PDRB, dan baru sekitar 40% komoditas yang diolah di dalam daerah. Artinya, peluang nilai tambah yang belum tergarap masih sangat besar.

Dukungan pun datang dari kalangan akademisi dan lembaga penelitian. Universitas Lampung bersama berbagai institusi pertanian aktif melakukan riset dan pendampingan, termasuk melalui program “Lada Lestari Lampung” yang menyasar lebih dari 1.000 petani di Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesawaran.

Program ini mendorong penerapan Good Agricultural Practices serta sertifikasi organik internasional seperti USDA, EU, dan JAS, agar lada Lampung mampu menembus pasar premium global.

Selain meningkatkan pendapatan, inisiatif ini menekankan transfer teknologi dari hulu ke hilir, mulai dari pemilihan bibit, pengendalian penyakit, hingga inovasi pascapanen, sebagai fondasi kebangkitan lada Lampung yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Baca juga: Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah

Hilirisasi Lada Lampung

Hilirisasi adalah kunci untuk mengangkat kembali kejayaan lada Lampung. Menjual lada dalam bentuk biji mentah kini tak lagi cukup untuk bersaing di pasar global. Nilai tambah justru terletak pada produk olahan seperti bubuk lada steril siap pakai, minyak atsiri (oleoresin), hingga piperin murni yang dibutuhkan industri pangan, kosmetik, dan farmasi. Pasar Jepang dan Eropa, misalnya, bersedia membayar lebih untuk lada berkualitas tinggi dengan jejak pasok yang jelas dan standar mutu terjamin.

Sayangnya, sebagian besar lada Lampung masih diekspor sebagai bahan mentah, sehingga margin keuntungan dinikmati negara pengolah. Membangun industri pengolahan di daerah, mulai dari fasilitas penggilingan bersertifikat ekspor hingga pabrik ekstraksi piperin, akan menciptakan efek berganda. Hilirisasi lada akan membuka lapangan kerja, memperkuat posisi tawar petani melalui kontrak pertanian, dan memastikan nilai tambah tetap tinggal di Lampung.

Transformasi ini tentu membutuhkan kolaborasi erat seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah perlu menyelaraskan kebijakan, memperkuat infrastruktur, serta mendorong sistem resi gudang dan digitalisasi rantai pasok agar petani terhubung langsung dengan pasar.

Kelembagaan seperti koperasi dan BUMDes harus diperkuat sebagai agregator hasil panen dan penjaga standar mutu ekspor. Di saat yang sama, kolaborasi riset antara kampus, industri, dan petani perlu diperluas, sembari melibatkan generasi muda sebagai agropreneur berbasis teknologi.

Dengan peningkatan produktivitas, jaminan pasar, dan inovasi produk turunan, Lampung tidak kekurangan peluang untuk kembali menjadikan lada sebagai primadona ekspor. Kuncinya adalah keberanian bertransformasi menuju agribisnis lada yang terintegrasi, modern, dan berdaya saing global.

Baca juga: Menakar Potensi Ekspor Lada Putih Muntok

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau