
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan atropin ke dalam daftar obat esensial karena perannya dalam anestesi, oftalmologi, dan penanganan kondisi darurat.
Dengan kata lain, zat yang sama bisa menjadi racun atau obat. Perbedaannya bukan pada tanamannya, melainkan pada pengetahuan, dosis, dan tata kelola.
Kasus keracunan kecubung yang kerap muncul di media hampir selalu terkait penyalahgunaan di luar konteks medis.
Namun, menarik kesimpulan bahwa kecubung harus dimusnahkan karena itu sama saja dengan menolak seluruh obat keras karena berisiko disalahgunakan.
Negara-negara dengan tradisi sains yang kuat tidak merespons risiko dengan penghapusan, melainkan dengan pengaturan. Di sinilah kita tertinggal.
Dari sudut pandang ekologi, kecubung bukan tanaman sembarangan. Ia termasuk tanaman pionir yang mampu tumbuh di lahan terganggu, tanah miskin hara, dan area bekas pembukaan lahan.
Dalam konteks Indonesia yang menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih menghadapi jutaan hektare lahan kritis, tanaman pionir justru berperan sebagai penyangga awal pemulihan ekosistem.
Sistem perakarannya membantu menahan tanah dan mengurangi erosi. Daunnya yang gugur menambah bahan organik tanah.
Bunganya yang mekar pada malam hari menyediakan nektar bagi penyerbuk nokturnal, seperti ngengat, yang selama ini luput dari perhatian kebijakan konservasi.
Ekologi tidak selalu bekerja secara kasat mata. Tanaman seperti kecubung menjalankan fungsi penting tanpa suara, tanpa sorotan. Ketika ia dibasmi, dampaknya sering baru terasa belakangan, ketika keseimbangan lingkungan mulai terganggu.
Lebih dari sekadar isu lingkungan, kecubung membawa kita pada pertanyaan strategis, yaitu bagaimana Indonesia memandang keanekaragaman hayati sebagai modal ekonomi nasional.
Selama ini, biodiversitas sering dibicarakan dalam bahasa moral, harus dijaga karena warisan alam. Padahal di banyak negara, biodiversitas juga dipandang sebagai natural capital yang mendorong inovasi industri, farmasi, dan pertanian.
India, misalnya, mengelola tanaman beralkaloid tinggi secara ketat untuk kebutuhan industri farmasi.
China memadukan pengetahuan tradisional dan riset modern untuk mengembangkan bahan obat dari tanaman yang secara alami bersifat toksik.
Di Eropa, tanaman beracun seperti Atropa belladonna tidak dimusnahkan, melainkan dibudidayakan terbatas untuk kebutuhan medis.