
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Indonesia justru cenderung mengambil jalan pintas, tindakan menghindari risiko dengan melarang. Akibatnya, kita kehilangan peluang menjadi produsen bahan baku bernilai tinggi dan hanya menjadi pasar produk jadi.
Kecubung juga memiliki potensi sebagai bahan pengendali hayati. Kandungan alkaloidnya tidak disukai banyak serangga perusak tanaman. Dalam praktik tradisional, ekstrak kecubung digunakan secara terbatas untuk mengusir hama.
Di tengah kekhawatiran global terhadap dampak pestisida sintetis, berupa resistensi hama, pencemaran air dan tanah, hingga risiko Kesehatan, banyak negara mulai beralih ke pestisida nabati.
FAO dan WHO mendorong pengurangan ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan pengembangan solusi berbasis alam.
Brasil, misalnya, telah mengembangkan biopestisida dari tanaman lokal sebagai bagian dari strategi pertanian berkelanjutan.
Pendekatan serupa berpotensi diterapkan di Indonesia. Namun, peluang ini hanya mungkin jika tanaman seperti kecubung dipandang sebagai objek riset, bukan sekadar tanaman bermasalah.
Dalam pengobatan tradisional Nusantara, kecubung dikenal dengan kehati-hatian, terutama untuk penggunaan luar seperti pereda nyeri. Pengetahuan ini diwariskan secara terbatas, tidak untuk konsumsi bebas.
Di sisi lain, farmasi modern memanfaatkan senyawa sejenis kecubung melalui proses panjang, terstandar, dan diawasi ketat.
Batas ini harus ditegaskan. Kecubung bukan tanaman obat rumahan. Namun, menghapusnya dari lingkungan tanpa pemahaman juga bukan solusi.
Tentunya kedepan, yang dibutuhkan adalah kehadiran negara melalui riset, regulasi, dan edukasi publik yang jujur untuk menjelaskan risiko sekaligus potensi.
Stigma terhadap kecubung sejatinya adalah cermin krisis atas ketidaktahuan dan rendahnya literasi lingkungan.
Kita lebih nyaman dengan larangan daripada penjelasan, lebih tenang dengan pembasmian daripada pengelolaan. Pendekatan ini mungkin terasa aman dalam jangka pendek, tetapi merugikan dalam jangka panjang.
Alam tidak bekerja dalam dikotomi baik-buruk. Ia bekerja dalam spektrum risiko dan manfaat. Negara-negara yang maju dalam pengelolaan sumber daya hayati memahami hal ini. Mereka mengelola risiko, bukan menghindarinya secara membabi buta.
Kecubung bukanlah musuh masyarakat, tetapi juga bukan tanaman yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia adalah simbol bagaimana bangsa ini memperlakukan keanekaragaman hayatinya sendiri, berupa dengan rasa ingin tahu, atau dengan ketakutan.
Di tengah krisis lingkungan dan kebutuhan transformasi ekonomi berbasis sumber daya hayati, Indonesia membutuhkan cara pandang yang lebih matang. Bukan dengan menakuti, tetapi memahami. Bukan dengan memusnahkan, tetapi mengelola.
Kecubung mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan bukan stigma adalah fondasi utama untuk menjadikan keanekaragaman hayati sebagai kekuatan ekologis sekaligus modal ekonomi bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang