
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI BANYAK sudut lahan Indonesia, kecubung (Datura sp.) tumbuh diam-diam sebagai bagian dari kekayaan flora yang kerap luput dari perhatian. Bunganya besar, menjuntai anggun, dan mengeluarkan aroma khas pada malam hari.
Namun, keindahan itu jarang mendapat apresiasi. Sebaliknya, kecubung lebih sering disebut dengan nada waspada, bahkan ketakutan.
Ia dikenal sebagai “tanaman mabuk”, dilekatkan pada kisah keracunan, penyalahgunaan, hingga cerita mistis yang beredar dari mulut ke mulut.
Di sejumlah desa, tanaman ini bahkan dianjurkan untuk ditebang. Dalam imajinasi publik, kecubung bukanlah aset hayati, melainkan ancaman yang harus dijauhkan.
Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam cara kita memandang keanekaragaman hayati.
Indonesia memang dikenal sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia, tetapi tidak semua kekayaan itu dipahami secara utuh.
Kecubung menjadi contoh bagaimana minimnya literasi sains dan lingkungan mendorong respons yang serba instan, berupa melarang, membasmi, dan menghindari, tanpa upaya memahami.
Padahal, di balik stigma yang melekat, setiap spesies menyimpan potensi ekologis, bahkan kemungkinan manfaat ilmiah yang belum sepenuhnya tergali.
Ketika ketakutan lebih dominan daripada pengetahuan, maka yang hilang bukan hanya satu tanaman, tetapi juga peluang untuk memanfaatkannya secara bijak.
Memang kecubung mengandung senyawa berbahaya. Alkaloid tropan seperti atropin, skopolamin, dan hiosiamin yang terdapat di dalamnya dapat memicu halusinasi, disorientasi, hingga gangguan serius pada sistem saraf.
Penyalahgunaan tanaman ini untuk tujuan rekreasional telah menimbulkan berbagai kasus keracunan, gangguan kejiwaan, bahkan kematian.
Seluruh bagian tanaman bersifat toksik dan berisiko tinggi jika tidak ditangani dengan benar. Namun, persoalannya menjadi lebih kompleks ketika realitas ini disederhanakan menjadi logika hitam-putih, beracun berarti tidak berguna.
Cara pandang semacam ini tidak hanya menutup ruang pemanfaatan berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga bertentangan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun ekonomi berbasis biodiversitas secara cerdas, hati-hati, dan berkelanjutan.
Kecubung berasal dari genus Datura dan Brugmansia. Tanaman ini mengandung alkaloid tropan seperti atropin dan skopolamin.
Senyawa ini berbahaya bila digunakan sembarangan, tetapi bernilai tinggi dalam dunia medis.