Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Pagi itu, hembusan angin menyapu hamparan hijau persawahan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali.
Di balik ketenangan lanskap khas Bali utara ini, sebuah ikhtiar sunyi tengah dirajut. Para petani setempat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pestisida kimia untuk mengamankan bulir-bulir padi mereka dari terjangan hama.
Kini, mereka memiliki sekutu baru yang bekerja dalam gelap, burung hantu tyto Alba.
Baca juga: Pasar Organik dan Produk Perkebunan
Langkah ini merupakan buah dari kolaborasi strategis antara InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui program pengembangan komunitas The Nusa Dua bersama Yayasan Owl Tower Bali.
Keduanya sepakat mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati di desa tersebut.
Kolaborasi ini mewujud dalam wujud nyata *nature-based solution*—solusi berbasis alam yang menempatkan rantai makanan alami sebagai garda terdepan pengamanan hasil panen.
Dalam program ini, ITDC menyalurkan bantuan berupa 10 unit Rumah Burung Hantu (RUBUHA), 1 unit kandang adaptasi berukuran 3 \times 2 meter, serta paket pakan awal selama 14 hari yang terdiri atas jangkrik dan 84 ekor tikus.
Sementara itu, Yayasan Owl Tower Bali yang dipimpin oleh I Wayan Wirawan, menyerahkan sepasang tyto alba untuk mulai dibudidayakan sebagai predator alami di area persawahan setempat.
Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, I Wayan Wirawan, menjelaskan bahwa tyto alba dikenal sebagai salah satu predator paling efektif untuk menekan populasi tikus sawah. Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malamnya.
Baca juga: 5 Keunggulan Cocopeat, Media Tanam Organik dari Sabut Kelapa
Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hayati telah terbukti mampu membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus.
"Selain lebih ramah lingkungan, metode ini mendukung terciptanya ekosistem pertanian yang lebih sehat dan menjaga rantai makanan," ujar I Wayan Wirawan, dikutip Kompas.com, Jumat (31/7/2026).
Pendekatan ini sekaligus mengikis kekhawatiran lama para petani terhadap residu bahan kimia yang kerap mencemari tanah dan merusak organisme non-target di ekosistem persawahan.
Bagi ITDC, langkah ini melampaui batas-batas pengelolaan kawasan pariwisata semata. General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah korporasi pariwisata harus berjalan seiring dengan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
"Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan destinasi pariwisata, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap sektor pertanian, yang menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan daerah," ungkap Agus.
Baca juga: 6 Cara Merawat Buah Naga Organik agar Hasilkan Buah Berkualitas
Ia menambahkan, inisiatif ini mencerminkan komitmen korporasi dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).