Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan

Kompas.com, 29 Januari 2026, 10:26 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI sejumlah sentra perkebunan rakyat, perubahan lanskap berlangsung nyaris tanpa suara. Pohon-pohon karet yang dulu menjadi penopang ekonomi keluarga petani kini satu per satu ditebang. Di bekasnya, bibit kelapa sawit mulai ditanam.

Fenomena ini bukan lagi kejadian sporadis, melainkan kecenderungan yang semakin nyata: petani rakyat beralih dari karet ke sawit. Keputusan tersebut kerap dipandang sebagai pilihan ikut-ikutan. Namun di tingkat petani, peralihan ini lahir dari pertimbangan yang rasional—berangkat dari pengalaman panjang menghadapi fluktuasi harga, beratnya beban kerja, dan kebutuhan akan pendapatan yang lebih pasti.

Tekanan Harga dan Kepastian Pendapatan

Selama puluhan tahun, karet menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga petani di berbagai daerah. Namun dalam satu dekade terakhir, harga karet di tingkat petani cenderung tidak stabil, bahkan sering kali tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang dicurahkan.

Menyadap karet menuntut kerja hampir setiap hari, bergantung pada cuaca, dan sangat sensitif terhadap kondisi kebun. Ketika hujan turun berhari-hari atau harga melemah, pendapatan petani ikut tergerus. Bagi banyak keluarga petani, situasi ini menyulitkan perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Sebaliknya, kelapa sawit menawarkan pola yang dianggap lebih menjanjikan. Panen memang tidak dilakukan setiap hari, tetapi berlangsung rutin setiap dua hingga tiga minggu. Kepastian waktu panen dan arus pendapatan menjadi faktor penting bagi petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan mendesak lainnya.

“Dengan sawit, kami bisa memperkirakan penghasilan bulanan,” demikian alasan yang kerap disampaikan petani yang memilih beralih.

Data Menunjukkan Tren Penurunan Karet

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa perkebunan karet di Indonesia terus menyusut dalam hampir satu dekade terakhir. Sejak 2016 hingga 2025, luas areal karet tercatat menurun rata-rata sekitar dua persen per tahun, diikuti penurunan produksi yang lebih tajam, terutama sejak 2022.

Di balik tren tersebut, karet masih sangat bergantung pada perkebunan rakyat. Hampir sembilan dari sepuluh kebun karet di Indonesia dikelola oleh petani kecil, sementara sisanya berada di tangan perkebunan negara dan swasta.

Pada 2024, berdasarkan angka sementara Direktorat Jenderal Perkebunan, luas kebun karet nasional kembali sedikit menyusut, meski produksi justru mengalami kenaikan terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan karet rakyat tidak semata soal luasan lahan, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha dan daya tarik ekonomi bagi petani.

Baca juga: Menjaga Masa Depan Karet Indonesia

Karet Menyusut, Sawit Meluas

Di tingkat tapak, penurunan minat terhadap karet berjalan seiring dengan meluasnya kebun sawit rakyat. Sawit dinilai memiliki infrastruktur industri yang lebih siap, mulai dari pabrik pengolahan hingga akses pasar. Di sejumlah daerah, skema kemitraan turut mendorong petani untuk menanam sawit, meskipun tidak selalu tanpa tantangan.

Peralihan ini paling terasa di wilayah sentra perkebunan rakyat di Sumatra dan Kalimantan, tempat karet dan sawit sama-sama memiliki sejarah panjang.

Bagi petani, pilihan sering kali bukan antara ideal dan tidak ideal, melainkan antara bertahan atau beralih.

Beban Kerja dan Regenerasi Petani

Selain faktor harga, beban kerja menjadi alasan lain mengapa karet mulai ditinggalkan. Menyadap karet membutuhkan keterampilan, ketelatenan, dan kondisi fisik yang prima—sesuatu yang semakin jarang diminati generasi muda. Banyak anak petani enggan melanjutkan usaha kebun karet orang tuanya.

Sawit dipandang lebih praktis dan realistis: tidak harus bekerja setiap hari, teknologi relatif sederhana, dan hasilnya lebih mudah diprediksi.

Jika kondisi ini berlanjut, karet bukan hanya kehilangan luas areal, tetapi juga kehilangan regenerasi petani.

Baca juga: Ketika Harga Karet Tak Pasti, Danau Kemiri Jadi Harapan Baru Warga Pagardewa

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau