
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SURIP Umar, petani karet tradisional di Sembawa, Musi Banyuasin, menggambarkan betapa sempitnya pilihan hidup yang kini dihadapi banyak petani karet.
Ketika harga karet jatuh di bawah Rp 10.000 per kilogram, menyadap pohon karet, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung nafkah keluarga, tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam kondisi seperti ini, beralih profesi menjadi buruh bangunan, ojek, atau pekerja serabutan bukan lagi pilihan, melainkan jalan bertahan hidup.
Jika gejala ini terjadi secara luas, Indonesia bukan hanya kehilangan salah satu komoditas ekspor pentingnya, tetapi juga kehilangan denyut ekonomi pedesaan yang selama ini menopang jutaan keluarga petani.
Sesungguhnya, masa depan karet Indonesia tidak ditentukan di bursa komoditas dunia semata, melainkan di kebun-kebun kecil milik petani seperti Surip Umar.
Ketika petani kehilangan harapan untuk hidup layak dari karet, bangsa ini kehilangan lebih dari sekadar devisa ekspor, kita kehilangan pilar sosial dan ekonomi desa.
Menjaga masa depan karet Indonesia berarti menjaga martabat petani dan memastikan mereka memperoleh bagian yang adil dari nilai besar yang mereka ciptakan.
Ini bukan semata pilihan kebijakan ekonomi, melainkan kewajiban moral bangsa yang menjadikan pertanian dan perkebunan sebagai fondasi kesejahteraan rakyatnya.
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, bersanding dengan Thailand sebagai penghasil utama.
Tahun 2024 Indonesia memproduksi sekitar 2,6 juta ton karet alam, dan nilai ekspor mencapai sekitar 5,51 miliar dollar AS (sekitar Rp 82,6 triliun) mencakup nilai seluruh ekspor karet (natural rubber & produk terkait).
Secara historis, produksi dan ekspor karet mengalami dinamika tajam, terutama dalam satu dekade terakhir di mana volume ekspor terus merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lebih dari 90 persen produksi karet Indonesia berasal dari petani kecil, yang luas lahannya tersebar di daerah seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Kebanyakan petani memiliki lahan di bawah tiga hektare dan menggantungkan seluruh hidupnya dari rubber tapping, proses menyadap getah karet yang hasilnya sangat bergantung pada harga internasional.
Meski demikian, tekanan harga dunia dan dinamika pasar internasional sering kali menghadapkan petani kecil pada pilihan hidup yang sulit.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga karet di tingkat petani sempat terjun dari sekitar Rp13.500/kg menjadi sekitar Rp10.500/kg hanya dalam hitungan minggu.