Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional

Kompas.com, 11 Februari 2026, 09:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

PERKEBUNAN memegang peran strategis dalam perekonomian Indonesia sekaligus menjadi tumpuan hidup jutaan petani. Namun, di tengah tekanan krisis iklim, gejolak harga global, dan perubahan rantai pasok dunia, sektor ini tak lagi dapat bertahan dengan pola lama.

Laporan IFPRI Agricultural Development: New Perspectives in a Changing World (2021), menegaskan bahwa pembangunan pertanian modern harus melampaui sekadar peningkatan produksi, dengan peran yang lebih luas dalam pengentasan kemiskinan, perbaikan gizi, penguatan rantai nilai, keberlanjutan lingkungan, ketahanan iklim, serta inklusivitas.

Dengan perspektif ini, pertanian masa kini bukan hanya soal seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi tentang bagaimana membangun sistem pangan yang tangguh, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Sebagai negara agraris dan produsen utama komoditas perkebunan dunia, Indonesia berada di persimpangan antara tantangan struktural dan peluang besar. Produksi sawit yang mencapai 45,58 juta ton pada 2022 menempatkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia, disusul karet, kelapa, tebu, kopi, kakao, serta komoditas rempah bernilai historis seperti lada dan pala. Kontribusi ekspor pun signifikan, dengan nilai ekspor sawit mencapai US$27,74 miliar atau sekitar Rp 469 triliun pada 2022.

Namun di balik angka-angka impresif tersebut, tersimpan sinyal produksi sejumlah komoditas stagnan, bahkan menurun akibat persoalan produktivitas, tanaman tua, cuaca ekstrem, dan regenerasi petani.

Penurunan tajam produksi karet dan kakao, serta fluktuasi kopi yang sangat dipengaruhi iklim, menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia membutuhkan terobosan kebijakan dan inovasi yang lebih berani.

Baca juga: Merawat Kopi dan Kakao Sumatera

Memperbaiki Akar Masalah Produktivitas, Iklim, dan Stagnasi

Jika ditelisik lebih dalam, akar masalah perkebunan Indonesia terletak pada produktivitas lahan dan tanaman yang stagnan, terutama di perkebunan rakyat. Banyak smallholders masih berproduksi jauh di bawah potensi optimal.

Pada kelapa, misalnya, Kementerian Pertanian mencatat produktivitas kebun rakyat hanya sekitar 1,1 ton kopra per hektare per tahun. Akar masalahnya berulang, dominasi tanaman tua dan rusak, keterbatasan benih unggul, serta rendahnya penerapan praktik budidaya yang baik.

Karet menghadapi nasib serupa, dimana pohon-pohon menua, produktivitas merosot, dan sebagian petani beralih ke komoditas lain seperti sawit yang dianggap lebih menguntungkan. Masalah peremajaan (replanting) menjadi pekerjaan rumah besar hampir di semua komoditas. Sawit rakyat telah memiliki program peremajaan nasional, namun realisasinya masih tertinggal dari target.

Kakao bahkan berada pada situasi yang lebih mengkhawatirkan. Sebagian besar tanaman ditanam pada era 1980–1990-an dan kini memasuki fase senja produksi. Tanpa peremajaan dan penggunaan klon unggul tahan hama, produksi kakao nasional terus meluncur turun sejak 2015. Produktivitas rata-rata hanya sekitar 500 kg per hectare, jauh tertinggal dibanding negara produsen utama lain.

Dampaknya terasa hingga ke hilir. Pada 2023 Indonesia terpaksa mengimpor sekitar 74 ribu ton biji kakao untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan, sebuah ironi bagi negara yang pernah menjadi produsen kakao nomor tiga dunia.

Tekanan kian berat ketika perubahan iklim dan tuntutan keberlanjutan global ikut masuk ke gelanggang. Di perkebunan kopi, serangan hama penyakit dan cuaca ekstrem seperti hujan berlebih saat panen atau kemarau panjang yang tak menentu, menekan produksi, meski harga internasional sedang tinggi.

Fenomena serupa terjadi pada karet, yang pada 2023 produksinya merosot tajam akibat tanaman tua, penyakit gugur daun, alih fungsi lahan, hingga krisis tenaga penyadap muda.

Di saat yang sama, pasar global memperketat standar keberlanjutan, termasuk kebijakan bebas deforestasi Uni Eropa yang berdampak pada sawit, kakao, kopi, dan karet. Bagi petani kecil, memenuhi tuntutan sertifikasi dan jejak lingkungan yang ketat jelas bukan perkara mudah tanpa dukungan kebijakan, teknologi, dan pendampingan yang serius.

Tanpa adaptasi menyeluruh, risiko penurunan produktivitas dan tersingkirnya petani rakyat dari rantai nilai global kian nyata.

Baca juga: Menjaga Denyut Kakao Sulawesi

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau