Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit

Kompas.com, 12 Februari 2026, 08:23 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI banyak desa di Sulawesi Utara dan Gorontalo, kebangkitan ekonomi tidak dimulai dari pembangunan infrastruktur skala besar atau dari proyek industri berskala raksasa. Ekonomi dua propinsi di ujung utara pulau Sulawesi ini ditopang oleh keputusan para pelaku ekonomi akar rumput, yaitu menanam komoditas jagung dan kelapa, serta tumpangsari jagung di bawah tegakan kelapa.

Di sela batang-batang tinggi yang selama puluhan tahun menjadi simbol perkebunan rakyat, kini juga tumbuh hamparan jagung yang menguning. Dari kombinasi itu, denyut ekonomi desa kembali berdegup lebih kencang.

Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo berada dalam satu koridor ekonomi yang saling melengkapi. Sulut kuat pada basis perkebunan kelapa dan dukungan logistik Pelabuhan Bitung yang menjadi gerbang perdagangan kawasan timur Indonesia. Gorontalo menonjol sebagai sentra jagung nasional dengan jejaring pemasaran antar pulau dan atar negara yang telah teruji.

Dengan jumlah penduduk gabungan hampir empat juta jiwa pada 2025, struktur ekonomi di kedua provinsi ini masih ditopang sektor primer pertanian, kehutanan, dan perikanan. Di Gorontalo, sektor ini bahkan menyumbang lebih dari sepertiga struktur ekonominya.

Baca juga: Produksi Jagung Melimpah, Amran: Kita Siap-siap Ekspor

Dua Komoditas, Dua Ritme Pendapatan

Jagung dan kelapa memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Jagung adalah “uang tunai” yang berputar cepat. Siklus tanamnya relatif singkat, hasilnya bisa dipanen dalam hitungan bulan, dan langsung masuk ke pasar. Sebaliknya, kelapa adalah “aset tahunan” yang lebih stabil, tetapi berkelanjutan. Pohonnya bisa produktif puluhan tahun, dengan panen berulang, meski harga dan produktivitas sering naik turun.

Data produksi beberapa tahun terakhir memperlihatkan dinamika tersebut. Gorontalo secara konsisten memproduksi jagung dan kelapa dalam skala besar; pada 2025 produksi jagung pipilan kering diperkirakan mencapai lebih dari 650 ribu ton, sementara produksi kelapa tahunannya berada di kisaran 65–66 ribu ton.

Di sisi lain, Sulawesi Utara termasuk sentra utama nasional untuk komoditas kelapa dengan produksi stabil di kisaran 260–270 ribu ton per tahun, sedangkan produksi jagungnya pada 2025 diperkirakan sekitar 108 ribu ton. Kombinasi keduanya menciptakan pola pendapatan yang saling mengisi.

Ketika harga kopra melemah atau pohon kelapa menua dan butuh peremajaan, jagung menjadi penopang arus kas. Sebaliknya, ketika musim atau harga jagung berfluktuasi, kelapa tetap berdiri sebagai sumber pendapatan rutin.

Diversifikasi ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi manajemen risiko di tingkat rumah tangga tani. Lebih jauh lagi, praktik tumpangsari menjawab satu persoalan klasik perkebunan rakyat, ketersediaan lahan dan ruang kosong yang kurang produktif.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen lahan di bawah tegakan kelapa berpotensi dimanfaatkan untuk tanaman sela. Artinya, selama ini ada ruang ekonomi yang belum sepenuhnya dioptimalkan.

Produktif di Bawah Naungan Kelapa

Tentu saja, menanam jagung di bawah kelapa bukan berarti sekadar menebar benih. Naungan sekitar 30–40 persen menuntut pemilihan varietas yang toleran serta manajemen pemupukan yang tepat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan varietas tertentu dan paket budidaya yang sesuai, jagung di bawah kelapa mampu menghasilkan sekitar 4,7 hingga 5,5 ton per hectare, angka yang tidak jauh berbeda dengan lahan terbuka.

Jarak tanam, pemupukan organik dan anorganik secara bertahap, serta pengelolaan air di lahan kering menjadi kunci. Lahan di banyak wilayah Sulut dan Gorontalo adalah lahan kering yang sangat dipengaruhi pola curah hujan. Dalam situasi perubahan iklim dan ketidakpastian musim, disiplin budidaya menjadi semakin penting. Namun justru di situlah kekuatan pendekatan ini.

Tumpangsari bukan praktik coba-coba, melainkan sistem yang bisa distandardisasi. Ketika petani didampingi dengan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), hasilnya tidak sekadar tambahan panen, melainkan peningkatan efisiensi lahan dan stabilitas pendapatan. Secara ilustratif, dengan produktivitas sekitar lima ton per hektare dan harga yang wajar, jagung dapat memberikan tambahan pendapatan bersih jutaan rupiah per musim tanam.

Uang ini berputar di desa, membayar tenaga kerja, membeli pupuk, memperbaiki rumah, membiayai sekolah anak. Inilah efek pengganda yang sering luput dari sorotan.

Kebangkitan ekonomi sejati tidak berhenti di kebun. Nilai tambah harus diperpanjang hingga ke hilir. Di sinilah jagung dan kelapa memiliki potensi sinergi yang lebih besar. Jagung merupakan sumber energi utama dalam industri pakan ternak, sementara bungkil kelapa menyumbang protein dan serat. Di Gorontalo tersedia pula dedak dan tepung ikan sebagai bahan pelengkap.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau