
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di luar Thailand, ada Vietnam yang juga terus gencar mengembangkan tanaman durian. Target utama adalah merebut pasar China dalam volume yang sebanyak-banyaknya.
Jumlah penduduk China mencapai 1,425 miliar jiwa merupakan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, bermodalkan jaraknya yang dekat dengan China, Vietnam menawarkan pengiriman melalui jalan darat sehingga dapat menekan biaya lebih rendah.
Ekspor melalui jalan darat dari Vietnam ke China hanya menempuh jarak sejauh 1.306 kilometer. Lama perjalanan maksimal tiga hari tentu menghemat biaya transportrasi. Hal ini membuat harga eceran durian di China lebih murah.
Harga durian Vietnam di China rata-rata 4 dollar AS per kilogram. Harga ini lebih rendah dibanding durian dari negara Asia Tenggara lainnya sekitar 6 dollar AS per kilogram.
Tidak mengherankan permintaan durian dari Vietnam pun cukup tinggi. Pada semester I tahun 2023, Vietnam meraih devisa dari mengekspor buah durian ke China sebesar 876 juta dollar AS atau setara Rp 13 triliun.
Tahun 2024, Vietnam mendapatkan devisa mencapai 3,3 miliar dollar AS setara Rp 53,6 triliun.
Vietnam juga mengembangkan riset terpadu untuk menghasilkan durian yang dapat diproduksi sepanjang tahun. Sejauh ini, Vietnam telah memiliki perkebunan durian seluas kurang lebih 150.000 hektar di kawasan Delta Mekong dan dataran tinggi.
Vietnam juga menandatangani protokol ekspor dengan China tahun 2022 dimana salah satu syarat, yakni seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengiriman harus dapat dilacak.
Di dalam negeri, pemerintah Vietnam menggalakkan peningkatan kualitas, inovasi teknologi pascapanen dan sistem logistik yang canggih. Hasilnya, ekspor durian Vietnam melonjak 7,8 kali lipat.
Timbul pertanyaan mengapa durian Indonesia masih kalah bersaing di pasar global? Di mana letak akar permasalahan sehingga durian belum menjadi andalan ekspor Indonesia?
Bukankah Indonesia memiliki keanekaragaman genetik sekitar 21 dari 27 spesies durian di dunia sehingga seharusnya menjadi salah satu pilihan utama di pasar global?.
Secara umum, tanaman durian mampu tumbuh dan berkembang pada lahan dengan ketinggian 100-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 22-30 derajat celcius dan tidak toleran dengan suhu dingin.
Curah hujan berkisar 1.500-3.000 mm per tahun dengan bulan basah dan kering yang jelas dan membutuhkan sinar matahari penuh sepanjang tahun.
Sejauh ini Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan merupakan wilayah yang cocok untuk budidaya tanaman durian.
Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Lombok, Flores, Sumbawa, Papua, Maluku, dan Kepulauan Riau selama ini menghasilan buah durian yang berkualitas baik.
Selama ini hampir 80 persen pohon durian di Indonesia tumbuh secara alami, dan setiap hari nyaris tak pernah mendapatkan perawatan yang baik dan kontinyu.
Akibatnya, produktivitas dan kualitas buah selalu rendah sehingga hanya memenuhi permintaan pasar domestik atau lokal. Buah yang ada sulit menembus pasar global, sebab mengalami sejumlah kendala baik teknis maupun nonteknis.
Di luar itu, ada pula sejumlah masalah serius yang membelit usaha budidaya durian di Indonesia.