
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Artinya, sebagian produk kakao olahan yang diekspor Indonesia sebenarnya dihasilkan dari bahan baku impor.
Ketergantungan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan sektor hilir dan kondisi sektor hulu. Industri pengolahan membutuhkan pasokan biji kakao yang stabil, seragam, dan memenuhi standar mutu tertentu.
Sementara itu, pasokan kakao domestik sering kali belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara konsisten, baik dari sisi volume maupun kualitas.
Akibatnya, banyak pabrik memilih menggunakan biji kakao impor yang memiliki mutu lebih seragam dan ketersediaan yang lebih terjamin.
Kondisi ini menandakan bahwa kemajuan industri pengolahan belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan produksi di tingkat petani.
Salah satu penyebab utama masalah ini berkaitan dengan mutu pascapanen, terutama proses fermentasi. Dalam industri cokelat, fermentasi merupakan tahap penting yang menentukan pembentukan rasa dan aroma kakao.
Tanpa fermentasi yang baik, biji kakao cenderung menghasilkan cita rasa yang kurang berkembang, bahkan terlalu pahit atau asam.
Di tingkat petani, proses ini belum banyak dilakukan karena keterbatasan sarana, pengetahuan, dan insentif harga. Akibatnya, sebagian besar kakao yang diproduksi belum memenuhi standar mutu optimal.
Kondisi ini juga berpengaruh pada transmisi harga dalam rantai pasok, ketika harga dunia naik, manfaatnya tidak selalu langsung dirasakan oleh petani karena kualitas produk yang belum mampu memperoleh premi harga di pasar.
Kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah saat ini sebenarnya dirancang untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat industri pengolahan.
Salah satu instrumen yang pernah digunakan adalah kebijakan bea keluar ekspor biji kakao yang bertujuan menjaga pasokan bahan baku bagi industri domestik.
Kebijakan tersebut terbukti mampu mendorong pertumbuhan kapasitas pengolahan di dalam negeri. Namun, perkembangan industri yang relatif cepat belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan produksi dan mutu di tingkat kebun.
Oleh karena itu, tantangan utama sektor kakao Indonesia saat ini bukan sekadar persoalan impor atau ekspor, melainkan bagaimana memperkuat keterhubungan antara sektor hulu dan hilir.
Hampir seluruh areal kakao nasional dikelola oleh perkebunan rakyat, sehingga kesejahteraan petani menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan industri ini.
Tanpa peningkatan produktivitas dan mutu di tingkat kebun, industri pengolahan akan terus bergantung pada bahan baku impor, sementara petani tidak memperoleh manfaat maksimal dari perkembangan industri.