Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir

Kompas.com, 7 Maret 2026, 11:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

HARGA kakao dunia tiba-tiba menjadi sorotan dalam dua tahun terakhir. Gangguan pasokan dan defisit produksi global terutama dari negara-negara Afrika Barat, mendorong harga kakao melonjak tajam.

Pada akhir 2024, harga kontrak kakao di pasar London dan New York bahkan sempat menembus lebih dari 11.000 dollar AS per ton (atau sekitar Rp 185.000 per kilogram), level yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Secara teori, lonjakan harga seperti ini seharusnya menjadi peluang besar bagi negara produsen seperti Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat penerimaan devisa dari komoditas kakao.

Namun, kondisi di dalam negeri tidak sepenuhnya mencerminkan peluang tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor hulu kakao justru mengalami tekanan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan luas areal kakao menurun dari sekitar 1,56 juta hektare pada 2019 menjadi sekitar 1,39 juta hektare pada 2023, sementara produksi juga turun dari sekitar 734.800 ton menjadi sekitar 632.100 ton.

Penurunan ini antara lain dipicu oleh alih fungsi lahan ke komoditas yang dianggap lebih menguntungkan serta produktivitas kebun yang masih rendah.

Akibatnya, meskipun harga kakao dunia meningkat, banyak pekebun belum sepenuhnya merasakan manfaatnya.

Mutu, Transmisi Harga, dan Rantai Pasok

Ironisnya, ketika sektor hulu kakao menghadapi tekanan, sektor hilir justru menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pengolahan kakao Indonesia berhasil memperluas kapasitas produksi dan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah.

Pada 2024, Nilai ekspor produk kakao Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 2,65 miliar dollar AS (sekitar Rp 44 triliun). Angka ini menandai kenaikan signifikan sekitar 118-120 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sebagian besar ekspor tersebut bukan lagi dalam bentuk biji mentah, melainkan produk olahan seperti cocoa butter, cocoa powder, dan pasta kakao.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah mampu mendorong tumbuhnya industri pengolahan kakao yang lebih kuat dan kompetitif di pasar global.

Namun, di balik keberhasilan tersebut terdapat paradoks yang perlu dicermati. Untuk menjaga kelangsungan produksi, industri pengolahan kakao domestik masih sangat bergantung pada bahan baku impor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), impor biji kakao Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 157.000 ton.

Sebagian besar impor tersebut berupa biji kakao yang digunakan sebagai bahan baku industri, yang berasal dari negara-negara produsen seperti Ekuador, Pantai Gading, dan Nigeria.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau