Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan

Kompas.com, 16 Maret 2026, 16:32 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan. Petani berada di ujung paling awal rantai nilai, tetapi justru menerima bagian ekonomi paling kecil.

Struktur pasar seperti ini sering disebut sebagai oligopsoni: banyak penjual tetapi hanya sedikit pembeli besar. Dalam sistem seperti ini, harga tidak sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar yang adil. Sebaliknya, harga sering bergerak dari atas ke bawah—dari importir internasional ke eksportir, pedagang besar, pedagang pengumpul, hingga akhirnya sampai kepada petani.

Akibatnya, petani menjadi price taker, penerima harga yang ditentukan oleh pelaku pasar di tingkat yang lebih tinggi.

Ketergantungan petani pada tengkulak juga memperkuat struktur ini. Banyak petani membutuhkan pinjaman modal untuk biaya produksi atau kebutuhan rumah tangga. Pedagang pengumpul sering menyediakan pinjaman tersebut, tetapi sebagai imbalannya petani harus menjual hasil panen kepada mereka. Hubungan ekonomi ini menciptakan ketergantungan yang sulit diputus.

Persoalan lain adalah standar mutu. Dalam perdagangan internasional, kualitas gambir ditentukan oleh parameter tertentu seperti kadar air, kadar abu, dan kadar katekin. Standar nasional sebenarnya telah tersedia, tetapi penerapannya di tingkat petani masih sangat terbatas.

Di banyak sentra produksi, kualitas gambir masih dinilai secara visual oleh pedagang. Akibatnya, produk berkualitas tinggi sering dihargai sama dengan produk berkualitas rendah. Situasi ini membuat insentif untuk meningkatkan kualitas menjadi lemah.

Masalah berikutnya adalah keterbatasan industri hilir di dalam negeri. Padahal, dari ekstrak gambir dapat dihasilkan berbagai produk bernilai tinggi seperti katekin murni, bahan kosmetik alami, hingga bahan pangan fungsional.

Jika Indonesia mampu mengembangkan industri pengolahan gambir secara serius, maka nilai tambah komoditas ini dapat meningkat berkali-kali lipat. Sebagai perbandingan, banyak negara maju tidak memiliki bahan baku gambir, tetapi justru memperoleh keuntungan besar dari industri kimia berbasis bahan alam. Indonesia memiliki bahan bakunya, tetapi belum sepenuhnya menguasai industrinya.

Baca juga: Membawa Gambir ke Pasar Global

Mengubah Gambir Menjadi Mesin Nilai Tambah

Melihat potensi ekonomi yang besar, gambir sebenarnya dapat menjadi bagian penting dari strategi pengembangan bioindustri Indonesia.

Langkah pertama adalah memperkuat kelembagaan ekonomi petani melalui koperasi atau kelompok usaha bersama. Dengan organisasi yang kuat, petani dapat menggabungkan volume produksi, meningkatkan kualitas produk, serta bernegosiasi dengan pembeli secara lebih adil.

Langkah kedua adalah meningkatkan transparansi pasar. Informasi harga, standar mutu, dan peluang pasar harus tersedia secara terbuka bagi petani.

Langkah ketiga adalah mendorong hilirisasi industri gambir di dalam negeri. Investasi dalam pengolahan ekstrak gambir dan produk turunannya akan membuka peluang nilai tambah yang jauh lebih besar.

Langkah keempat adalah memperbaiki akses pembiayaan bagi petani agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.

Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, gambir tidak lagi hanya menjadi komoditas ekspor tradisional. Ia dapat berkembang menjadi bagian penting dari ekonomi hijau berbasis bahan alam. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah komoditas tidak hanya diukur dari besarnya volume ekspor, tetapi dari seberapa besar manfaat ekonominya kembali kepada petani yang menanamnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau