
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan. Petani berada di ujung paling awal rantai nilai, tetapi justru menerima bagian ekonomi paling kecil.
Struktur pasar seperti ini sering disebut sebagai oligopsoni: banyak penjual tetapi hanya sedikit pembeli besar. Dalam sistem seperti ini, harga tidak sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar yang adil. Sebaliknya, harga sering bergerak dari atas ke bawah—dari importir internasional ke eksportir, pedagang besar, pedagang pengumpul, hingga akhirnya sampai kepada petani.
Akibatnya, petani menjadi price taker, penerima harga yang ditentukan oleh pelaku pasar di tingkat yang lebih tinggi.
Ketergantungan petani pada tengkulak juga memperkuat struktur ini. Banyak petani membutuhkan pinjaman modal untuk biaya produksi atau kebutuhan rumah tangga. Pedagang pengumpul sering menyediakan pinjaman tersebut, tetapi sebagai imbalannya petani harus menjual hasil panen kepada mereka. Hubungan ekonomi ini menciptakan ketergantungan yang sulit diputus.
Persoalan lain adalah standar mutu. Dalam perdagangan internasional, kualitas gambir ditentukan oleh parameter tertentu seperti kadar air, kadar abu, dan kadar katekin. Standar nasional sebenarnya telah tersedia, tetapi penerapannya di tingkat petani masih sangat terbatas.
Di banyak sentra produksi, kualitas gambir masih dinilai secara visual oleh pedagang. Akibatnya, produk berkualitas tinggi sering dihargai sama dengan produk berkualitas rendah. Situasi ini membuat insentif untuk meningkatkan kualitas menjadi lemah.
Masalah berikutnya adalah keterbatasan industri hilir di dalam negeri. Padahal, dari ekstrak gambir dapat dihasilkan berbagai produk bernilai tinggi seperti katekin murni, bahan kosmetik alami, hingga bahan pangan fungsional.
Jika Indonesia mampu mengembangkan industri pengolahan gambir secara serius, maka nilai tambah komoditas ini dapat meningkat berkali-kali lipat. Sebagai perbandingan, banyak negara maju tidak memiliki bahan baku gambir, tetapi justru memperoleh keuntungan besar dari industri kimia berbasis bahan alam. Indonesia memiliki bahan bakunya, tetapi belum sepenuhnya menguasai industrinya.
Baca juga: Membawa Gambir ke Pasar Global
Melihat potensi ekonomi yang besar, gambir sebenarnya dapat menjadi bagian penting dari strategi pengembangan bioindustri Indonesia.
Langkah pertama adalah memperkuat kelembagaan ekonomi petani melalui koperasi atau kelompok usaha bersama. Dengan organisasi yang kuat, petani dapat menggabungkan volume produksi, meningkatkan kualitas produk, serta bernegosiasi dengan pembeli secara lebih adil.
Langkah kedua adalah meningkatkan transparansi pasar. Informasi harga, standar mutu, dan peluang pasar harus tersedia secara terbuka bagi petani.
Langkah ketiga adalah mendorong hilirisasi industri gambir di dalam negeri. Investasi dalam pengolahan ekstrak gambir dan produk turunannya akan membuka peluang nilai tambah yang jauh lebih besar.
Langkah keempat adalah memperbaiki akses pembiayaan bagi petani agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.
Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, gambir tidak lagi hanya menjadi komoditas ekspor tradisional. Ia dapat berkembang menjadi bagian penting dari ekonomi hijau berbasis bahan alam. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah komoditas tidak hanya diukur dari besarnya volume ekspor, tetapi dari seberapa besar manfaat ekonominya kembali kepada petani yang menanamnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang