
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA kini berada di persimpangan penting dalam industri kakao nasional. Di satu sisi, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu produsen kakao dunia dengan kontribusi sekitar 11,5 persen atau 641.700 ton pada 2023.
Namun, tren terkini menunjukkan kenyataan mengkhawatirkan, di mana produksi nasional pada 2025 merosot tajam, berada di kisaran ratusan ribu ton saja.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis volume semata tidak lagi cukup untuk menjaga daya saing kakao Indonesia di pasar global.
Dalam konteks itulah, jalur “cokelat specialty” menawarkan arah baru yang lebih strategis bagi industri kakao Indonesia. Pendekatan ini menggeser orientasi dari sekadar mengejar volume menuju penciptaan kualitas.
Di pasar global, segmen fine flavour cocoa yang menjadi fondasi utama specialty memang relatif kecil, hanya sekitar 12 persen dari ekspor biji kakao dunia.
Namun, segmen ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena menawarkan harga premium dan selaras dengan tren organik serta industri bean-to-bar.
Indonesia telah diakui dalam daftar ICCO (amandemen April 2024) dengan porsi sekitar 10 persen fine or flavour cocoa dari total ekspor, menandakan adanya potensi nyata untuk “naik kelas”.
Namun, di balik peluang tersebut, fondasi domestik masih menyimpan paradoks yang perlu diselesaikan.
Hilirisasi memang menunjukkan kemajuan, tercermin dari dominasi ekspor produk olahan seperti mentega dan lemak kakao yang mencapai 64,25 persen pada 2024.
Namun, industri pengolahan dalam negeri justru masih sangat bergantung pada impor biji kakao. Ketergantungan ini mengindikasikan bahwa pasokan biji kakao berkualitas dan konsisten dari dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri.
Di sinilah konsep “cokelat specialty” yang memadukan bahan baku berprofil rasa unggul dengan praktik pengolahan craft yang transparan seperti bean-to-bar menjadi kunci.
Jika dikelola dengan tepat, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya ekosistem wirausaha kakao yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pasar kakao global dalam periode 2024–2026 bergerak dalam lanskap yang semakin volatil dengan tekanan pasok yang nyata.
Pembaruan ICCO (International Cocoa Organization) pada Februari 2026 mencatat produksi dunia 2024/2025 sekitar 4,728 juta ton, sementara grindings mencapai 4,606 juta ton.
Dengan stok akhir musim 1,347 juta ton dan rasio stok terhadap grindings hanya 29,2 persen, ruang bantalan pasar terbilang terbatas.