
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Jika gula cetak biasa bernilai puluhan ribu rupiah per kilogram, gula semut organik di pasar premium bisa dihargai dua hingga tiga kali lipat.
Dampak sosialnya tampak jelas di Desa Kolongan Bawah, Minahasa Utara. Kelompok perempuan pengolah nira yang kini beranggotakan lebih dari 25 orang memproduksi gula semut, sirup aren, hingga kemasan kecil untuk oleh-oleh wisata, dengan omzet kolektif mendekati setengah miliar rupiah per tahun.
Di desa berpenduduk kurang dari 1.000 jiwa, angka itu berarti perputaran ekonomi yang nyata, untuk belanja bahan baku, memperbaiki rumah, dan mendukung kegiatan sosial-keagamaan.
Keterlibatan dalam usaha bersama juga meningkatkan posisi tawar perempuan dalam rumah tangga.
Namun, keberlanjutan aren menuntut jawaban atas sejumlah tantangan, regenerasi penyadap yang kian menua, kebutuhan alat panjat yang lebih aman, serta akses permodalan untuk investasi pengering, pengemasan, dan sertifikasi.
Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial, mengintegrasikan riset peningkatan mutu, pelatihan manajemen dan pemasaran digital, serta skema pembiayaan yang adil agar produsen kecil dapat naik kelas.
Penguatan aren membuktikan bahwa pembangunan tak selalu bertumpu pada industri besar, tapi dari pohon yang disadap setiap pagi, ekonomi desa dapat tumbuh inklusif dan Tangguh.
Data BPS Sulawesi Utara menunjukkan struktur perkebunan rakyat 2023 masih didominasi kelapa (264.600 ha), diikuti cengkeh (72.700 ha) dan pala (32.000 ribu ha), sementara aren berada di kisaran 5.360 ha dengan produksi sekitar 1.192 ton.
Angka ini menegaskan bahwa aren memang bukan raksasa dalam luas dan volume.
Namun, kunci membaca komoditas ini bukan sekadar “besar–kecil”, melainkan di mana dan untuk apa ia bekerja.
Data kabupaten/kota (2021) memperlihatkan kantong produksi penting di Minahasa Selatan (650 ton), Minahasa Utara (225 ton), dan Kota Tomohon (55 ton).
Artinya, strategi pengembangan aren tidak bisa seragam, ia harus berbasis klaster wilayah sentra agar intervensi kebijakan tepat sasaran.
Di hulu, produktivitas nira bervariasi dan sangat dipengaruhi teknik penyadapan serta musim. Riset Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain di Langowan mencatat produksi tandan pertama berkisar 14–18 liter per hari dengan fluktuasi bulanan.
Di hilir, mutu ditentukan oleh kecepatan dan standar penanganan karena nira mudah terfermentasi dan terdegradasi.
Praktik industri gula semut di Tomohon memperlihatkan disiplin teknis yang kian jelas. Nira dipasteurisasi maksimal dua jam setelah sadap untuk menghasilkan 1 kilogram gula semut dibutuhkan sekitar 7,5–8 liter nira dengan target kadar air 1,5–2 persen agar sesuai standar pasar.