
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Rantai nilainya membentang dari kebun (penyadapan/batifar), penanganan cepat (saring–pasteurisasi), hingga diversifikasi produk, nira segar, gula cetak, gula semut, saguer/tuak, sirup, bioethanol, serta produk non-nira seperti ijuk dan kolang-kaling, sebelum masuk tahap pengemasan, branding, dan pasar lokal hingga ekspor.
Sejumlah penelitian pada masyarakat lokal menunjukkan bahwa usaha aren sudah layak secara ekonomi.
Di Tomohon, pendapatan tambahan petani diperkirakan sekitar Rp 2 juta per bulan dengan usaha yang tergolong layak. Sementara di Wioi Raya rata-rata pendapatan mencapai sekitar Rp 2,5 juta, ditopang harga gula cetak Rp 10.000–Rp 20.000 per buah, menegaskan aren sebagai sumber arus kas harian.
Di Tambelang, sekitar 60 produsen mampu menghasilkan sedikitnya 20 buah gula per hari dengan harga jual Rp 10.000–Rp 13.000 per buah di tingkat pengrajin.
Namun, arah pengolahan sangat ditentukan oleh insentif. Di Desa Wanga, 64 persen pengrajin nira masih mengolah menjadi minuman beralkohol tradisional, hanya 3 persen menjadi gula semut.
Hal itu menunjukkan bahwa tanpa dukungan teknologi, akses pasar, dan kontrak pembelian yang jelas, petani akan memilih jalur tercepat menghasilkan uang.
Padahal, dari sisi lingkungan, seho berperan penting menahan erosi dan menjaga sumber air sehingga cocok dikembangkan dalam sistem agroforestri berkelanjutan.
Agar potensinya optimal, diperlukan penguatan pada pasokan, mutu, dan pasar melalui klasterisasi sentra produksi, penerapan standar penanganan nira yang cepat dan higienis, penyediaan alat bersama yang lebih efisien, sertifikasi kolektif, serta pembenahan data rantai nilai agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat dan berdampak.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang