Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Simak, Ini Cara Menanam Seledri agar Tumbuh Subur

Kompas.com - 31/08/2022, 19:40 WIB
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Seledri merupakan salah satu sayuran yang populer di Indonesia. Seledri dapat tumbuh di daerah subtropis dengan iklim dingin.

Selain itu, tanaman seledri dapat tumbuh maksimal bila ditanam pada tanah yang kaya bahan organik, memiliki aerasi dan drainase bagus, serta pH-nya normal antara 6,0-68.

Dikutip dari situs Cybext Kementerian Pertanian RI, Rabu (31/8/2022), berikut cara menanam seledri agar tumbuh subur.

Baca juga: Cara Menanam Seledri di Polybag, Tidak Perlu Lahan Luas

1. Penyemaian

Ilustrasi, penyemaian seledriUnsplash/ Milada Vigevara Ilustrasi, penyemaian seledri

Sebelum melakukan penanaman, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyemai benih seledri. Adapun cara penyemaiannya seperti berikut:

  • Buat bedengan semai, kemudian gemburkan tanah dan campurkan pupuk kandang.
  • Taburkan benih seledri di bedengan persemaian sampai merata.
  • Lalu, tutup benih seledri dengan tanah tipis-tipis.
  • Lakukan penyiraman dan tutup bedengan semai dengan karung atau penutup tanah.
  • Cek kondisi persemaian setiap hari.

Baca juga: Tertarik Budidaya Seledri? Simak, Begini Caranya

2. Pengolahan lahan

Sembari menunggu bibit seledri tumbuh, Anda bisa mulai mengolah lahan yang akan digunakan untuk menanam seledri. Caranya, mencangkul tanah tersebut, kemudian membuat bedengan dan parit.

Aplikasikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar dan kapur pertanian apabil pH tanah di bawah 6,5. Setelah itu, pasang mulsa di atas bedengan dan buat lubang tanam dengan jarak 60 x 60 cm apabila dibuat saat musim kemarau dan 70 x 60 cm jika dibuat saat musim hujan. 

Baca juga: Tips Menanam Seledri di Pot, Bisa Dipanen Sesuai Kebutuhan 

 

3. Penanaman

Ilustrasi menanam seledri di polybag. SHUTTERSTOCK/MUHSINRINA Ilustrasi menanam seledri di polybag.

Setelah bibit tumbuh dan lahan sudah diolah, langkah berikutnya adalah menanam seledri pada bedengan yang sudah disiapkan. Cara menanam seledri adalah meletakkan bibit pada lubang tanam.

Kemudian, tutup lubang tanam dengan tanah sembari dipadatkan. Pastikan bibit seledri tumbuh dengan tegak dan kokoh.

4. Pemupukan

Pemupukan diperlukan untuk menunjang pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Pemupukan dilakukan secara bertahap. 

Pemupukan pertama diberikan saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam (HST). Jenis pupuk yang diberikan, yaitu ZA dengan dosis 100 kg/ha, Urea 50 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha.

Setelah itu, lakukan pemupukan kedua saat tanaman berumur lebih dari satu bulan. Jenis pupuk yang diaplikasikan adalah pupuk ZA dan Urea.

Pemupukan kedua diberikan apabika tanaman terlihat kurang subur. Jadi, pemupukan ketiga bersifat opsional.

Baca juga: 7 Langkah Menanam Seledri di Polybag agar Cepat Tumbuh dan Subur

5. Pemeliharaan tanaman

Ilustrasi daun seledri. PIXABAY/ERIC CHEN Ilustrasi daun seledri.

Pemeliharaan tanaman yang biasanya dilakukan pada budi daya seledri adalah penyiraman, penyiangan dan pengendalian hama, serta penyakit. Penyiraman dilakukan secara rutin, terlebih saat musim kemarau. 

Penyiangan juga perlu dilakukan secara rutin untuk menekan populasi gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan herbisida kimia.

Sementara itu, pengendalian hama dan penyakit tanaman bisa dilakukan dengan cara mekanis, biologi, maupun kimiawi.

Baca juga: Cara Menanam Tomat agar Berbuah Banyak dan Berkualitas

 

6. Panen dan pascapanen

Tanaman seledri bisa dipanen saat berumur 45-60 HST. Cara panennya adalah mencabut tanaman sampai ke akar.

Setelah itu, tanaman bisa dicuci sampai bersih dan diseleksi dengan membuang tangkai atau bagian tanaman yang cacat. Terakhir, ikat seledri untuk mempermudah penyimpanan dan pemasaran.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau