Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Catat, Ini Cara Menanam Kubis yang Benar

Kompas.com, 29 Oktober 2022, 14:41 WIB
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kubis atau kol merupakan sayuran yang banyak dibudidayakan di dataran tinggi. Meskipun demikian, tak menutup kemungkinan, sayuran ini ditanam di lahan dataran rendah.

Cara menanam kubis sebenarnya tidak berbeda dengan sayuran lainnya. Dilansir dari Cybext Kementerian Pertanian, Sabtu (29/10/2022), berikut langkah-langkah budidaya kubis yang benar.

Persiapan lahan

Lahan yang akan digunakan untuk menanam harus dibersihkan terlebih dahulu dari gulma. setelah itu, tanah diolah sampai gembur.

Baca juga: Cara Menanam Tanaman Sayur Organik agar Hasil Panennya Berkualitas

Pada tanah subur, pengolahan hanya perlu satu kali saja. Adapun untuk lahan yang kurang subur, pengolahan dilakukan dua kali.

Ilustrasi kubis, menanam kubis.PIXABAY/UTROJA0 Ilustrasi kubis, menanam kubis.

Setelah diolah, biarkan selama 7-10 hari dan buat bedengan dengan ukuran 120 cm x 300 cm dan tinggi 20-25 cm pada musim hujan, sedangkan tinggi bedengan pada musim kemarau sekitar 15 cm. Agar tanah semakin subur, beri juga pupuk organik berdosis 5 kg per meter persegi.

Persemaian

Persemaian dilakukan cara merendam benih dalam air hangat selama 30 menit hingga 1 jam. Kemudian, biarkan benih terbuka di udara supaya tidak terlalu basah.

Baca juga: Cara Menanam Pakcoy Secara Hidroponik, Bisa Panen setelah 20 Hari

Setelah itu, benih disemai dalam media semai dan tunggu sampai benih tumbuh menjadi bibit atau tanaman muda.

Bibit yang sudah tumbuh dan mempunyai 4 sampai 5 daun, bisa segera dipindahkan ke lahan.

Penanaman

Cara menanam kubis diawali dengan membuat lubang tanam berjarak 50-60 cm. Setelah itu, letakan bibit di dalam lubang tanam dan tutup kembali dengan tanah sembari dipadatkan agar bibit tidak rebah.

Penyiraman

Di awal tanam, penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore. Akan tetapi, saat musim hujan tiba, penyiraman tidak perlu dilakukan.

Setelah tanaman berumur 30 hari, penyiraman dilakukan 2-3 kali sehari atau disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut.

Baca juga: Budidaya Brokoli yang Benar agar Panennya Melimpah dan Menguntungkan

Penyulaman

Sebelum tanaman berumur 14 hari, apabila ada tanaman yang layu atau pertumbuhannya tidak normal, maka harus diganti dengan tanaman baru. Tujuannya agar populasi tanaman dalam satu lahan tetap sama.

Tanaman kolPixabay/betexion Tanaman kol

Pemupukan susulan

Pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk Urea, KCl, dan ZA. Pemupukan susulan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 25 hari.

Setelah itu, pemupukan kedua dilakukan setiap 10-15 hari sekali. Pemupukan dilakukan dengan cara dikocor atau ditabur.

Penyiangan

Selain pemupukan, tanaman kubis juga perlu perawatan untuk mengendalikan gulma. Penyiangan bisa dilakukan dengan mencabut gulma satu per satu atau dengan menyemprotkan herbisida kimia.

Baca juga: Simak, Cara Menanam Sawi Putih agar Panennya Melimpah

Pemanenan

Tanaman kubis umumnya bisa dipanen saat berumur 81 hingga 105 hari. Kubis yang sudah siap panen biasanya memiliki ciri bagian pinggir daun krop bagian atas sudah melengkung ke luar dan warnanya agak ungu.

Selain itu, krop bagian dalam juga sudah padat. Apabila diketuk, sayur kubis berbunyi nyaring.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau