Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Menanam Sirih, Tanaman Obat dengan Beragam Khasiat

Kompas.com, 9 Juni 2023, 14:41 WIB
Add on Google
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sirih (Piper betle L) adalah satu jenis tanaman semak dan perdu. Namun, tanaman sirih juga banyak dijumpai di kebun dan halaman rumah.

Kebanyakan orang menanam sirih sebagai tanaman pelengkap taman dan tanaman obat. Bagian tanaman sirih yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah daunnya.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Jumat (9/6/2023), sirih adalah tanaman yang tumbuh merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tingginya dapat mencapai 5 hingga 15 meter.

Baca juga: 7 Daun yang Bermanfaat sebagai Obat Tradisional, Apa Saja?

Ilustrasi tanaman daun sirih. SHUTTERSTOCK/POETRA.RH Ilustrasi tanaman daun sirih.

Batang sirih berkayu lunak, berbentuk bulat, beruas-ruas, beralur-alur, berwarna hijau keabu-abuan. Daun sirih merupakan daun tunggal, tumbuh berseling, dan memiliki aroma yang khas.

Pangkal daun berbenatuk jantung atau agak bundar asimetris, ujung daun runcing, tepi dan permukaan daun rata, pertulangan menyirip. Warna daun bervariasi, dari kuning, hijau sampai hijau tua.

Bunga tersusun dalam bentuk bulir, merunduk, panjang 5 sampai 15 cm, sendiri-sendiri di ujung cabang dan di ketiak daun. Buahnya  bulat, berdaging, berwarna kuning hijau, menyambung manjadi bulat panjang, serta memiliki biji berbentuk bulat.

Tanaman sirih dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan bentuk daun, aroma dan rasa.

Baca juga: Cara Menanam Temulawak, Tanaman Obat yang Kaya Manfaat

Jenis-jenis tersebut adalah sirih jawa (berdaun hijau tua dan rasanya kurang tajam), sirih banda (berdaun besar, berwarna hijau tua dengan warna kuning di beberapa bagian, dan rasa dan bau lebih kuat), sirih cengke (daun kecil, lebih kuning dan rasanya seperti cengkeh), sirih hitam (rasanya sangat kuat dan digunakan sebagai campuran berbagai obat), sirih kuning dan sirih merah.

Jenis sirih yang dikunyah dengan pinang biasanya berwarna hijau muda dan rasanya kurang pedas.

Ilustrasi tanaman sirih, daun sirih.SHUTTERSTOCK/GALEH NUR WIHANTARA Ilustrasi tanaman sirih, daun sirih.

Berikut cara menanam sirih untuk dimanfaatkan sebagai tanaman obat.

1. Syarat tumbuh

Tanaman sirih dapat tumbuh baik di daerah dengan iklim sedang sampai basah. Sirih dapat ditemui mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Manfaat Binahong, Tanaman Obat Kaya Khasiat Kesehatan

Tanaman sirih menyukai tempat-tempat yang mendapat cahaya matahari penuh. Sirih dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan struktur sedang.

Sebaiknya sirih ditanam pada tanah yang subur, berhumus, kaya akan hara dan gembur.

Ilustrasi menanam sirih, daun sirih, tanaman sirih.WIKIMEDIA COMMONS/BISWARUP GANGULY Ilustrasi menanam sirih, daun sirih, tanaman sirih.

2. Persiapan lahan

Lahan yang akan ditanami sirih perlu dibersihkan dari gulma dan batu-batuan, dicangkul dengan kedalaman 20 cm. Setelah diolah, dibuat bedengan, kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 80 cm x 40 cm x 60 cm.

Jarak tanam 2 x 2 meter atau 2,5 x 2,5 meter. Satu bulan sebelum tanam, pada setiap lubang tanam diberi pupuk kandang sebanyak 500 gram dan diaduk rata.

Baca juga: 9 Bunga yang Bisa Dimakan dan Memiliki Manfaat Kesehatan

Untuk menopang pertumbuhan batang dan sulurnya, tanaman sirih membutuhkan pohon tegakan, baik tegakan mati maupun hidup.

Untuk tegakan hidup dapat digunakan tanaman dadap, kelor, kayu kuda atau kapuk. Tanaman tegakan sebaiknya ditanam sekitar 15 cm dari tempat tanaman sirih agar perakaran sirih tidak terganggu.

Ilustrasi tanaman sirih, daun sirih.WIKIMEDIA COMMONS/YERCAUD-ELANGO Ilustrasi tanaman sirih, daun sirih.

3. Persiapan bibit

Pembibitan sirih dilakukan dengan menggunakan stek sulur. Sebaiknya sulur yang akan dijadikan bibit telah mengeluarkan akar yang banyak dan panjang.

Sulur dipotong sepanjang 30 sampai 50 cm. Stek sulur ditanam di polybag yang telah diisi media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1.

Baca juga: 10 Manfaat Lavender untuk Kesehatan, Redakan Kecemasan hingga Insomnia

Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali sehari. Area pembibitan pun perlu diberi naungan.

Stek akan berakar dan siap dipindahkan ke area penanaman setelah berumur tiga sampai empat minggu.

4. Penanaman

Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Bibit dalam polibeg dipilih yang pertumbuhannya baik dan seragam.

Bibit dipindahkan ke lubang tanam yang telah disiapkan dengan cara merobek salah satu sisi polybag. Tanah di sekitar bibit dipadatkan agar pertumbuhannya kokoh.

Baca juga: Cara Menanam Rosella, Bunga yang Penuh Manfaat untuk Kesehatan

Bibit yang telah ditanam disiram dengan air secukupnya.

5. Pemupukan

Sebaiknya pemupukan tanaman sirih hanya menggunakan pupuk kandang. Pupuk kandang dari kotoran ayam akan mengakibatkan daun berwarna kekuning-kuningan, sedangkan pupuk kandang kotoran sapi atau kerbau akan menghasilkan daun berwarna hijau segar.

Ilustrasi pupuk bersubsidiSHUTTERSTOCK/SINGKHAM Ilustrasi pupuk bersubsidi

Apabila digunakan pupuk kimia, pupuk urea diberikan dengan dosis 50 kg per hektar pada saat penanaman dan 50 kg per hektar setelah tanaman berumur empat bulan. Pupuk TSP diberikan pada saat tanam dengan dosis 150 kg per hektar.

Pupuk KCl juga diberikan pada saat tanam dengan dosis 200 kg per hektar. Untuk membantu pertumbuhan cabang dan daun dapat diberikan pupuk daun.

Baca juga: Cara Menanam Sambiloto, Tanaman Herbal yang Memiliki Banyak Manfaat

6. Penyiangan

Penyiangan gulma sebaiknya dilakukan secara rutin setiap 1,5 hingga dua bulan.

7. Pengendalian hama dan penyakit

Gangguan pertumbuhan yang disebabkan serangan penyakit dan hama hampir tidak ditemui pada budidaya tanaman sirih.

8. Panen

Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur setahun atau disesuaikan dengan kebutuhan. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik daun yang telah tua dari cabang samping.

Daun sirih umumnya digunakan dalam keadaan segar. Kegiatan pascapanen yang dilakukan hanya pencucian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau