
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BIJI pinang (Areca catechu), baik utuh maupun dibelah sesuai permintaan pasar, telah menjelma menjadi komoditas ekspor penting Indonesia. Nilainya tak bisa dipandang sebelah mata. BPS mencatat bahwa pada 2021, nilai ekspor komoditas pinang secara nasional mencapai US$357 juta (sekitar Rp6,0 triliun) sebelum terkoreksi oleh dinamika harga global.
Buah pinang, yang dahulu identik dengan tradisi menginang, mengunyah pinang, sirih, dan rempah sebagai bagian dari budaya dan kesehatan gigi, kini menjelma menjadi produk bernilai ekspor tinggi. Indonesia bahkan menegaskan posisinya sebagai pengekspor pinang terbesar dunia, dengan pangsa sekitar 35 persen pasar global.
Pada 2023, nilai ekspor pinang Indonesia tercatat turun, menjadi hanya sekitar USD 127,39 juta (sekitar Rp2,1 triliun). Di sisi lain, permintaan global terus menunjukkan tren positif, tumbuh sekitar 39 persen dalam lima tahun terakhir. Lonjakan permintaan ini turut mendorong kenaikan harga pinang hingga sekitar 200 persen dalam satu dekade terakhir.
Peta pasar ekspor pinang Indonesia pun mencerminkan kuatnya akar budaya konsumsi pinang di berbagai belahan dunia. India menjadi pasar terbesar dengan nilai impor sekitar USD 147,3 juta pada 2023, disusul Iran, Bangladesh, Pakistan, serta negara-negara Asia Selatan lainnya yang memiliki tradisi mengunyah pinang. Kawasan Timur Tengah juga memainkan peran penting, dengan Iran menyerap sekitar 42 persen ekspor pinang Indonesia, sementara permintaan dari negara Teluk terus meningkat.
Di Asia Tenggara, Thailand dan Vietnam menjadi konsumen signifikan untuk kebutuhan tradisi adat, konsumsi domestik, maupun pengolahan lanjutan. Rentang pasar yang luas, dari Asia Selatan hingga Timur Tengah menjadi bukti bahwa pinang bukan sekadar komoditas tradisional, melainkan aset strategis Indonesia dalam percaturan perdagangan global.
Baca juga: Dulu Terbuang, Pinang di Musi Rawas Kini Jadi Sumber Uang
Keberhasilan Indonesia memimpin pasar pinang dunia bertumpu pada kekuatan sentra-sentra produksi di dalam negeri, terutama di Pulau Sumatra. Jambi tampil sebagai lokomotif utama dengan produksi sekitar 30 ribu ton pada 2024, tertinggi secara nasional. Provinsi ini dikenal sebagai penghasil pinang berkualitas tinggi, terutama varietas unggul Pinang Betara yang diperkirakan menyumbang hingga 40 persen ekspor pinang Indonesia. Varietas ini memiliki keunggulan produktivitas, mampu berbuah 5–6 tandan per tahun dengan hasil sekitar 5,6 ton per hektare, jauh melampaui varietas lokal.
Dalam lima tahun terakhir, Jambi konsisten berkontribusi lebih dari 30 persen ekspor nasional, sekaligus menjadi penopang mata pencaharian ribuan petani di wilayah pesisir Tanjung Jabung Barat dan Timur, seiring terus bertambahnya luas areal tanam.
Selain Jambi, sentra produksi penting lainnya adalah Aceh, Riau, dan Sumatra Barat. Aceh mencatat produksi sekitar 18 ribu ton pada 2024, didukung tradisi konsumsi pinang yang mengakar serta posisi strategis di jalur perdagangan Selat Malaka yang memudahkan ekspor ke Asia Selatan.
Riau, dengan produksi sekitar 11 ribu ton, diuntungkan oleh kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia, sementara Sumatra Barat (7 ribu ton) mengembangkan pinang secara tumpang sari dengan kelapa atau kakao, sehingga meningkatkan pendapatan petani tanpa perlu membuka lahan baru.
Dari luar Sumatra, Kalimantan Barat mulai mencuat sebagai pemain baru, khususnya Kabupaten Sambas, yang memanfaatkan kedekatan perbatasan dan PLBN untuk menembus pasar ekspor. Secara keseluruhan, Sumatra dan Kalimantan menjadi tulang punggung produksi pinang nasional, dengan potensi pengembangan yang masih sangat luas mengingat tanaman ini adaptif di dataran rendah hingga 600 mdpl dan relatif mudah dibudidayakan.
Tingginya permintaan pinang dunia tidak lepas dari keragaman pemanfaatannya di negara tujuan. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, pinang dikonsumsi secara tradisional dengan dikunyah bersama daun sirih sebagai bagian dari budaya sosial, ritual adat, dan upacara keagamaan yang telah berlangsung ribuan tahun.
Di sisi lain, pinang juga lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional sebagai antiseptik dan obat cacing, sementara riset modern mengidentifikasi puluhan senyawa aktif dengan potensi antioksidan, antiinflamasi, hingga antikanker. Lebih jauh, biji pinang menjadi bahan baku industri, mulai dari pewarna alami berbasis tanin, campuran pangan olahan, hingga kosmetik dan produk perawatan kulit.
Diversitas kegunaan inilah yang membuat permintaan pinang relatif stabil dan cenderung meningkat, sekaligus menegaskan posisinya bukan sekadar komoditas tradisional, melainkan bahan baku strategis dalam rantai nilai global.
Baca juga: Pinang dan Pemanfaatan di Masa Depan
Seiring melonjaknya permintaan global, buah pinang semestinya menjadi sumber peningkatan kesejahteraan petani. Di banyak daerah, pinang telah bertransformasi menjadi cash crop andalan, dimana relatif tahan hama, berumur panjang, dan dapat dipanen sepanjang tahun. Lonjakan harga dalam satu dekade terakhir bahkan mendorong sebagian petani beralih dari komoditas lain seperti kakao ke pinang yang dinilai lebih stabil dan menguntungkan.
Namun, ketergantungan tinggi pada pasar ekspor membuat harga pinang sangat sensitif terhadap dinamika global. Apa yang terjadi di pasar internasional dengan cepat tercermin di tingkat petani, menjadi pengingat bahwa potensi besar selalu datang bersama risiko yang tak kecil.
Fluktuasi harga dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan sisi rapuh tersebut. Pada 2021, harga ekspor pinang sempat mencapai rata-rata USD 1.650 per ton, mendorong harga di sentra produksi seperti Jambi dan Papua melonjak hingga Rp28.000–Rp30.000 per kilogram.
Namun euforia itu tak berlangsung lama. Memasuki 2023, kebijakan proteksionis negara tujuan, terutama India dengan tarif impor di atas 100 persen dan penerapan Minimum Import Price, menekan daya saing pinang Indonesia. Harga di tingkat petani pun anjlok drastis.
Di Riau, misalnya, harga pinang kering turun hingga sekitar Rp4.800 per kilogram pada awal 2024, titik terendah dalam empat tahun terakhir. Penurunan tajam ini menggerus pendapatan petani dan memunculkan kekhawatiran peralihan kembali ke komoditas lain yang dianggap lebih pasti, sebuah risiko serius bagi keberlanjutan produksi nasional. Padahal, prospek jangka panjang pinang Indonesia sejatinya sangat cerah jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Stabilisasi harga, perluasan akses pasar, dan hilirisasi menjadi kunci agar nilai tambah tidak berhenti di luar negeri. Dengan harga konsisten, pinang mampu memberikan marjin menarik karena biaya produksinya relatif rendah. Pemerintah perlu hadir melalui diplomasi untuk menekan hambatan tarif, mendorong kemitraan petani–eksportir yang adil, serta mempercepat pengembangan hilirisasi berbasis pinang. Jika langkah-langkah ini dijalankan konsisten, pinang berpeluang naik kelas dari komoditas “terlupakan” menjadi penopang ekonomi nasional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang