Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hama dan Penyakit Jamur Tiram, serta Cara Mengendalikannya

Kompas.com, 4 Agustus 2023, 09:30 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Jamur tiram adalah salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Jamur tiram diolah menjadi beragam hidangan, seperti tumis jamur, pepes jamur, hingga keripik jamur.

Karena permintaannya tinggi, banyak orang mulai menggeluti budidaya jamur tiram dan memperoleh keuntungan yang menarik. Akan tetapi, dalam budidaya jamur tiram, hama dan penyakit adalah hal yang perlu diwaspadai.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Jumat (4/8/2023), hama dan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram di antaranya serangga, laba-laba, cacing, siput, rayap, jamur parasit dan saprofit, serta bakteri dan virus.

Baca juga: Cara Merawat Jamur Tiram di Musim Kemarau

Ilustrasi baglog jamur tiram.SHUTTERSTOCK/ANI FATHUDIN Ilustrasi baglog jamur tiram.

Berikut beberapa hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram, serta cara mengendalikannya.

Hama yang menyerang jamur tiram

1. Serangga

Lalat dan nyamuk merupakan serangga yang banyak terdapat dalam kumbung jamur tiram yang tidak dipelihara dengan baik.

Serangga biasanya masuk bersamaan dengan keluar masuknya pekerja, melalui ventilasi, atau substrat atau media log sangat disukai serangga-serangga ini yang akhirnya berkembang melalui lubang-lubang kecil yang tidak terdeteksi.

Kondisi yang lembap ditambah dengan aroma di dalam kumbung menyebabkan serangga meletakkan telur-telurnya pada media baglog.

Baca juga: Pahami, Ini Ciri-ciri Jamur Tiram Siap Panen

Setelah menetas, larva-larva yang tumbuh akan memakan miselium dan tubuh buah jamur tiram sehingga batang jamur tiram berlubang-lubang dan pertumbuhan tubuh buah jamur tiram menjadi terganggu (keriput).

Ilustrasi budidaya jamur tiram.SHUTTERSTOCK/CHUCHAWAN Ilustrasi budidaya jamur tiram.

Setelah memasuki fase dewasa aktif (terbang) Serangga akan berpindah ke baglog jamur tiram yang masih sehat dan berkembang biak. Demikian seterusnya sehingga dalam periode tertentu bisa menyebabkan kerusakan yang cukup besar.

Selain itu, serangga juga biasa berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit maupun virus yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram.

Beberapa jenis serangga yang dapat menularkan hama-penyakit pada kumbung jamur antara lain Licoriella spp, Megaselia spp, dan Lepidocyrtus spp.

Baca juga: Cara Membuat Baglog untuk Budidaya Jamur Tiram di Rumah

Ilustrasi membasmi agas atau lalat buah dengan perekat. Shutterstock/Amelia Martin Ilustrasi membasmi agas atau lalat buah dengan perekat.

Pencegahan terhadap serangan-serangga ini dapat dilakukan dengan cara memasang kawat kasa berukuran kecil pada bagian ventilasi dan memasang plastik bening pada bagian luar pintu untuk membiaskan cahaya, sehingga serangga cenderung menghindar dan menjauh dari kumbung.

Bila upaya ini masih kurang, maka dapat dilakukan upaya pengendalian serangga dengan cara memasang perangkap serangga di dalam kumbung berupa lem yang dioleskan secara merata pada lembaran kertas atau plastik berwarna kuning.

2. Laba-laba

Laba-laba dapat memakan miselium dan tubuh jamur tiram. Selain itu, laba-laba juga dapat menyebarkan spora jamur pengganggu.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menebarkan serbuk kapur pada permukaan lantai dan dinding kumbung. Jika terdapat sarang laba-laba (biasanya terdapat di sela-sela baglog) maka harus segera dimusnahkan.

Baca juga: Cara Membuat Kaldu Jamur, Olahan Pascapanen Jamur Tiram

Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram. SHUTTERSTOCK/SARAN N Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram.

3. Cacing

Hama cacing biasanya memakan miselium sehingga dapat mengakibatkan jamur tidak tumbuh sama sekali atau gagal tumbuh.

Hama cacing sangat kecil, yakni ukurannya sekitar 1 mm dan dapat berkembang biak dengan cepat. Pencegahan hama cacing dapat dilakukan melakukan proses sterilisasi dengan sempurna sehingga telur-telur cacing mati.

4. Siput

Ruang kumbung yang tidak bersih dan lantai kumbung yang kotor dan becek seringkali mengundang kedatangan siput.

Siput akan memakan tubuh buah jamur tiram yang baru tumbuh sehingga pertumbuhan jamur tiram menjadi tidak optimal atau rusak. Salah satu cara alami untuk mencegah ataupun mengatasi serangan siput adalah dengan menyemprot lantai kumbung dan rak dengan ekstrak jarak pagar.

Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram. SHUTTERSTOCK/YOSEP LESMANA Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram.

Baca juga: Panduan Perawatan Budidaya Jamur Tiram agar Panen Melimpah

5. Rayap

Mendeteksi kehadiran rayap relatif sulit dilakukan. Biasanya kita baru menyadari kehadiran rayap setelah melihat kerusakan yang ditimbulkannya.

Rayap memakan zat yang terkandung di dalam kayu yaitu selulosa. Zat ini juga terdapat dalam media baglog jamur tiram sehingga kemungkinan kerusakan baglog juga cukup besar.

Cara membasmi rayap adalah menyemprotkan zat kimia antirayap.

Cara alami yang bisa diupayakan yaitu dengan menggunakan ekstrak serai yang disemprotkan ke bagian tanah atau bagian kumbung yang terkena serangan.

Baca juga: Manfaat Jerami Padi dan Sabut Kelapa untuk Pertumbuhan Jamur Tiram

Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram, baglog jamur tiram.SHUTTERSTOCK/NYANEWS Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram, baglog jamur tiram.

Penyakit yang menyerang jamur tiram

Penyakit pada jamur tiram biasanya disebabkan oleh fungi, kapang, bakteri ataupun virus.

Jamur tiram atau baglog jamur tiram yang terserang penyakit biasanya ditandai dengan timbulnya noda-noda berwarna, berlendir, atau kerusakan fisik tubuh buah jamur tiram sehingga tidak dapat dipanen.

Secara umum, timbulnya penyakit pada jamur ini disebabkan karena kurang sterilnya proses produksi mulai dari pembibitan hingga inkubasi.

Beberapa jenis penyakit yang umum terdapat pada jamur tiram antara lain sebagai berikut.

1. Trichoderma spp.

Trichoderma dapat menyebar melalui udara atau terbawa oleh pekerja. Ciri-ciri kontaminasi yang disebabkan oleh jamur ini adalah timbulnya bintik bintik atau noda hijau pada media baglog jamur tiram sehingga pertumbuhan miselium jamur tiram menjadi terhambat.

Baca juga: Faktor-faktor yang Menyebabkan Kegagalan Budidaya Jamur Tiram

Trichoderma biasanya banyak terdapat pada baglog jamur yang telah mati atau pada permukaan tanah.

Cara mengatasi masalah ini adalah dengan segera membuang media log jamur tiram yang telah terkontaminasi. Adapun pencegahannya dapat dilakukan dengan melakukan sterilisasi atau disinfektasi tenaga kerja dan peralatan yang digunakan untuk perawatan kumbung.

2. Mucor spp.

Kontaminasi Mucor ditandai dengan timbulnya noda hitam pada permukaan media baglog. Kontaminasi ini menyebabkan adanya persaingan pertumbuhan Mucor dengan miselium jamur tiram.

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah susunan baglog jamur dan mengatur atau menurunkan suhu ruangan dengan membuka dan mengatur sirkulasi udara.

Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram, baglog jamur tiram.SHUTTERSTOCK/RATT_ANARACH Ilustrasi jamur tiram, budidaya jamur tiram, baglog jamur tiram.

Baca juga: Kenali, 4 Faktor yang Pengaruhi Pertumbuhan Jamur Tiram

3. Neurospora spp.

Neurospora dapat menghambat pertumbuhan miselium dan tubuh buah. Neurospora menimbulkan tepung oranye pada permukaan kapas penyumbat baglog jamur tiram.

Pencegahan dilakukan dengan melakukan sterilisasi media baglog dengan sempurna dan mengurangi jumlah susunan baglog jamur tiram.

4. Penicillium spp.

Kontaminasi Penicillium ditandai dengan tumbuhnya miselium berwarna coklat atau merah tua. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan ruang inkubasi.

Adapun untuk mengatasi agar serangan Penicillium tidak menyebar adalah dengan membuang media baglog yang terkontaminasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau