Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Kepala Pusat BSIP Perkebunan, Kementan

Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr, Ph.D, merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor tahun 1998. Ia adalah alumni S1 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Pria kelahiran Banjarmasin tahun 1974 ini diangkat sebagai CPNS pada 1999, dan mulai bekerja sebagai peneliti di BPTP Karangploso, Jawa Timur.

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Kompas.com - 03/04/2025, 15:20 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TANAMAN serat alam di Indonesia sangat beragam, mencakup kapas, kapuk, rami, rosela, kenaf, dan lainnya.

Menurut laporan Global Fiber Consumption and Market Trends (2024), penggunaan serat alam dalam sektor tekstil diperkirakan tumbuh sebesar 8 persen per tahun selama lima tahun mendatang, terutama didorong meningkatnya permintaan terhadap bahan baku ramah lingkungan.

Meskipun demikian, industri tekstil Indonesia masih sangat bergantung pada kapas, walaupun produksi kapas domestik hanya memenuhi kurang dari 0,1 persen kebutuhan nasional.

Serat alam dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya menjadi tiga kelompok, yaitu:

  • Serat buah (seperti kapas, kapuk, dan serat kelapa) yang terutama digunakan dalam tekstil, karpet, geotekstil, dan pulp.
  • Serat batang (misalnya, kenaf, rosela, jute, rami, urena, linum, dan hemp) yang berperan sebagai bahan baku pulp, kertas, fiberboard, tekstil, dan karpet (dengan kenaf menghasilkan pulp berkualitas tinggi untuk kertas koran dan popok)
  • Serat daun (termasuk abaca, agave, nanas, dan sansivera) yang digunakan untuk pembuatan kertas uang, karpet, tali kapal, dan produk-produk lainnya.

Serat alam memiliki keunggulan signifikan dibandingkan bahan sintetis karena sifatnya yang mudah terurai secara alami, sehingga dapat mengurangi penumpukan limbah dan emisi karbon.

Selama beberapa dekade, bahan seperti kapas, kenaf, rami, sisal, kapuk, dan serat kelapa telah menjadi bagian integral dari berbagai industri.

Baca juga: Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Di sektor tekstil, kapas merupakan bahan utama di negara-negara produsen besar seperti India, China, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, rami menawarkan kekuatan tarik jauh lebih tinggi dibandingkan kapas, serta memiliki daya serap air yang lebih tinggi.

Keunggulan tersebut menjadikan rami alternatif menarik untuk menggantikan kapas, terutama bagi negara seperti Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor.

Potensi ekonomi global

Di tingkat global, peningkatan kesadaran akan keberlanjutan telah mendorong konsumen dan industri beralih ke bahan baku ramah lingkungan.

Permintaan tinggi untuk serat alam juga terlihat di sektor kertas dan kemasan, di mana upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai mendorong pengembangan produk berbasis serat alam.

Perusahaan otomotif terkemuka mulai memanfaatkan keunggulan serat alam dalam pembuatan komponen kendaraan.

Dengan mengganti bahan plastik sintetis dan serat gelas dengan serat kenaf atau rami, produsen mobil dapat menghasilkan komposit yang lebih ringan, meningkatkan efisiensi bahan bakar, dan mengurangi emisi gas rumah kaca, sehingga mendukung industri otomotif yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Di Indonesia, industri tekstil masih sangat bergantung pada kapas, yang menyumbang sekitar 29,7 persen total produksi serat tekstil dunia.

Sementara produksi kapas domestik hanya memenuhi kurang dari 0,1 persen kebutuhan nasional.

Baca juga: Kemandirian Obat Melalui Tanaman Biofarmaka

Sebagai alternatif, serat rami (Boehmeria nivea S. Gaud) menawarkan solusi strategis dengan kandungan selulosa 72–97 persen, kekuatan tarik mencapai 95 kg/mm², dan daya serap air sebesar 12 persen.

Rami juga telah mulai dimanfaatkan sebagai serat penguat dalam industri komposit, dengan permintaan global mencapai 120.000 ton dan setiap kendaraan di Eropa menggunakan 5–10 kg serat alam sebagai bahan baku.

Industri pulp dan kertas di Indonesia terus berkembang, dengan negara ini menempati posisi produsen pulp terbesar ke-9 dan produsen kertas serta karton terbesar ke-8 (data FAO, 2016).

Walaupun sebagian besar produksi masih mengandalkan pulp serat pendek dari Hutan Tanaman Industri (HTI), Indonesia masih mengimpor pulp serat panjang untuk kertas khusus seperti kertas uang.

Pemanfaatan bahan baku lokal seperti abaca, rami, kenaf, kapuk, dan daun nanas menawarkan solusi menjanjikan. Misalnya serat kapuk memiliki sifat unggul setelah diolah melalui proses soda atau kraft, dan limbah daun nanas dapat menghasilkan pulp berkualitas tinggi.

Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman serat serbaguna yang digunakan untuk kemasan, pelapis dinding, interior mobil, geo-tekstil, dan bahan penguat dalam komposit.

Program intensifikasi kenaf di Indonesia, yang dimulai sejak 1979/1980, pernah mencapai puncak pada 1986/1987, namun menurun akibat perubahan penggunaan lahan dan persaingan dengan kemasan plastik.

Baca juga: Superfood Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Meski demikian, kenaf tetap vital karena tumbuh di lahan tergenang, tahan kekeringan, dan mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 36 persen.

Selain itu, tanaman sukulen seperti Agave sisalana dan A. cantala tumbuh optimal di daerah kering, sedangkan pisang abaca yang dibudidayakan di Sangihe dan Talaud menunjukkan potensi besar meskipun menghadapi tantangan pada kekuatan serat dan pembusukan, sehingga upaya konservasi dan pengembangan terus dilakukan untuk melestarikan warisan budaya lokal.

Strategi pengembangan

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga riset merupakan kunci dalam mengoptimalkan potensi serat alam.

Upaya ini dimulai dengan peningkatan budidaya melalui pengembangan varietas unggul tanaman seperti kapas, rami, dan kenaf, yang mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas serat.

Selain itu, investasi dalam teknologi pengolahan modern sangat penting untuk menghasilkan produk serat alam yang lebih halus, kuat, dan efisien dari segi biaya produksi.

Selama ini, peran Kementerian Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, yang kini telah berubah menjadi Balai Standarisasi Instrumen Pemanis dan Serat di bawah BSIP, sangat vital dalam penelitian dan pengembangan serat alam.

Dimulai sejak dekade 1980-an, riset ini berfokus pada peningkatan daya saing produk dan potensi komoditas serat, sehingga pada tahun 2016 Balittas mendapatkan pengakuan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Serat oleh Kemenristek.

Pencapaian ini menandai kemajuan signifikan dalam upaya mengembangkan serat alam untuk mendukung berbagai sektor industri.

Sebagai PUI Serat, Balittas kini tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, melainkan juga industri tekstil, otomotif, konstruksi, dan kemasan.

Hasil penelitian yang menonjol, seperti pengembangan varietas unggul kenaf, rami, dan sisal, telah mengubah tanaman-tanaman yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi komoditas dengan potensi besar.

Lebih lanjut, diversifikasi produk melalui pengembangan produk turunan seperti komposit otomotif, kemasan, dan pulp kertas, membuka peluang pasar global yang semakin berkembang dan memperkuat daya saing produk berbasis serat alam di kancah internasional.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau