Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Menanam Bunga Melati yang Benar agar Cepat Berbunga

Kompas.com - 17/09/2022, 10:29 WIB
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Melati merupakan salah satu jenis bunga yang banyak ditanam di Indonesia. Bunga melati biasanya dimanfaatkan dalam acara-acara penting seperti pernikahan maupun acara adat.

Aromanya yang harum membuat banyak orang menyukai bunga ini. Tak hanya itu, cara menanam bunga melati juga tidak sulit.

Berdasarkan penjelasan di situs Litbang Kementerian Pertanian, berikut langkah-langkah menanam bunga melati yang baik dan benar agar bisa cepat berbunga.

Baca juga: Cara Menanam, Merawat hingga Mengatasi Masalah pada Tanaman Melati

Bunga melatiPixabay/ignartonosbg Bunga melati
Persiapan bibit tanaman

Bibit bunga melati bisa didapatkan dari stek batang atau cabang tanaman induk. Anda bisa memotong batang yang sudah tua dan pernah berbunga. Setelah itu, semai pada polybag sampai bibit siap tanam (sekitar 4-5 bulan).

Persiapan lahan

Setelah bibit diperoleh, langkah selanjutnya yaitu menyiapkan lahan. Lahan harus dibersihkan terlebih dahulu dari rumput, sisa tanaman, atau batu.

Setelah itu, lahan digemburkan dan dikeringkan selama 15 hari sebelum ditanami melati. Atur jarak tanam dan buat drainase.

Baca juga: Cara Menanam dan Merawat Bunga Melati agar Tumbuh Subur

Buat lubang tanam berukuran 20x20x30 cm. Tambahkan pupuk pada tiap lubang tanam. Jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk organik sebanyak 1 kg dan pupuk NPK 10-15 gram.

Apabila pH tanah terlalu asam, maka bisa pada saat pengolahan bisa ditambahkan kapur pertanian untuk menetralkan pH.

 

Penanaman

Cara menanam bunga melatih yaitu dengan meletakan bibit pada lubang tanam yang sudah dibuat. Setelah itu, tutup lubang tanam dengan tanah dan padatkan. Cek tanaman secara berkala, apabila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak optimal, sebaiknya ganti dengan bibit baru.

Ilustrasi bunga melatiPixabay/ignartonosbg Ilustrasi bunga melati

Pemupukan

Pemupukan bisa dilakukan setelah tanaman berumur 3 bulan setelah tanam dan pemupukan berikutnya dilakukan setiap 3 bulan sekali. Jenis pupuk yang digunakan yaitu Urea, SP36, dan KCl.

Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur di sekeliling tanaman pada kedalaman 10 cm kemudian timbun dengan tanah.

Baca juga: Cara Menanam dan Merawat Bunga Melati dengan Stek

Pengairan

Pengairan dilakukan untuk memastikan ketersediaan air mencukupi pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Cara pengairannya yaitu dengan menyiramkan langsung pada tanaman.

Penyiangan dan pendangiran

Penyiangan bertujuan untuk mengendalian gulma yang tumbuh disekitar area budi daya. Penyiangan bisa dilakukan dengan cara mencabut gulma secara manual atau menggunakan herbisida jika populasinya sudah di atas ambang batas ekonomi.

Sedangkan pendangiran adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki aerasi aga bisa memberikan ruang dan merangsang pertumbuhan akar serabut. Pendaringan harus dilakukan secara hati-hati agar tanaman tidak terluka.

Baca juga: Cara Merawat Tanaman Bunga Melati agar Berbunga Lebat

Pemangkasan

Pemangkasan juga perlu dilakukan pada tanaman bunga melati karena berguna untuk membentuk tajuk, mengatur waktu pembungaan, membuang bagian tanaman yang sakit, dan menghilangkan bagian tanaman yang tidak diperlukan.

Bunga melati yang sudah dipanenPixabay/horjctu Bunga melati yang sudah dipanen

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan secara terpadu yaitu dengan menggunakan pengendalian mekanis, biologis, dan kimiawi.

Panen

Panen bunga melati bisa dilakukan setiap tahun. Bunga melati yang siap panen biasanya memiliki kuntum yang sudah besar dan masih kuncul atau setengah mekar. Pemanenan bisa dilakukan dengan memetik bunga tersebut di pagi atau sore hari.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau