Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Catat, Ini Jenis-jenis Pestisida Pertanian yang Sering Digunakan

Kompas.com, 25 September 2022, 19:14 WIB
Add on Google
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pestisida adalah salah satu kebutuhan penting dalam budi daya tanaman. Pestisida sering juga disebut sebagai obat tanaman karena fungsinya mengobati atau mengatasi tanaman yang sakit akibat serangan hama maupun patogen. 

Dilansir dari situs Repositori Institut Pertanian Bogor, Minggu (25/9/2022), pestisida adalah semua bahan yang bisa memberikan pengaruh terhadap kehidupan organisme maupun mikroorganisme.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida Nabati Bawang Putih, Mudah dan Praktis

Sementara itu, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), pestisida merupakan zat atau campuran bahan kimia atau biologis yang bisa mengusir, membunuh, hingga mengendalikan populasi hama.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengatasi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Aplikasi pestisida diketahui bisa mencegah tanaman terserang OPT.

OPT yang menyerang tanaman bisa dari kelompok hama, jamur, bakteri, virus, maupun gulma. Banyaknya OPT yang berisiko menyerang tanaman budi daya membuat pengembangan pestisida terus dilakukan.

Menurut keterangan dari Repositori Institut Pertanian Bogor, jenis-jenis pestisida bisa dibedakan berdasarkan sasaran OPT, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerja, cara masuk, dan bahan aktifnya. Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Mudah, Cara Membuat Pestisida Alami dari Bawang Putih

Pestisida berdasarkan sasarannya

Ilustrasi membasmi hama pada tamana, Ilustrasi menyemprotkan pestisida pada tanaman. SHUTTERSTOCK/LDPROD Ilustrasi membasmi hama pada tamana, Ilustrasi menyemprotkan pestisida pada tanaman.

Jika dilihat dari jenis OPT yang menyerang, pestisida terbagi menjadi 10 jenis. Berikut daftarnya.

  1. Insektisida untuk serangga
  2. Akarisida untuk tungau
  3. Fungisida untuk jamur
  4. Nematisida untuk nematoda
  5. Bakterisida untuk bakteri
  6. Moluskisida untuk moluska atau keong
  7. Termisida untuk rayap
  8. Herbisida untuk gulma
  9. Rodentisida: untuk tikus
  10. Piscisida untuk ikan liar

Baca juga: Manfaat Kulit Bawang Merah untuk Tanaman, Jadi Pestisida hingga ZPT

Pestisida berdasarkan wujud fisik

Sementara itu, jenis pestisida apabila dilihat dari bentuk fisiknya hanya terbagi menjadi tiga, yaitu cair, padat, dan aerosol. Dari ketiga jenis tersebut, pestisida cukup sering digunakan dan diperjualbelikan adalah jenis cair serta padat.

Pestisida berdasarkan formulasinya

Ilustrasi pestisida nabati, penggunaan pestisida nabati untuk tanaman. SHUTTERSTOCK/VERVERIDIS VASILIS Ilustrasi pestisida nabati, penggunaan pestisida nabati untuk tanaman.

Apabila dilihat dari formulasi yang digunakan, pestisida terbagi menjadi lima jenis. Berikut uraiannya.

  1. Pestisida butiran atau granul (G): formula pestisida yang bentuknya butiran dan bisa langsung diaplikasikan tanpa dilarutkan terlebih dahulu.
  2. Pestisida formulasi tepung/powder (WP): pestisida jenis ini harus dilarutkan sebelum digunakan dan harus diaduk terus-menerus karena mudah mengendap.
  3. Pestisida emulsifiable/ emulsifiable concentrates (EC): jenis pestisida ini nantinya bisa membentuk emulsi pada larutan yang akan disemprotkan. Formulasi ini tidak perlu pengadukan secara berkala dan biasanya banyak ditemukan pada insektisida. .
  4. AS: pestisida ini akan membentuk larutan yang homogen setelah dicampurkan dengan air. Formulasi ini biasanya ditemukan pada herbisida. Biasanya, formulasi ini digunakan untuk herbisida.
  5. Formulasi pelet: jenis pestisida ini bisa diaplikasikan secara langsung tanpa perlu penambahan air. 

Baca juga: 4 Bahan yang Dapat Dijadikan Sebagai Pestisida Organik

Pestisida berdasarkan cara kerjanya

Jika dilihat dari cara kerjanya, pestisida terbagi menjadi empat jenis. Pertama, pestisida yang bekerja mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tanaman.

Kedua, jenis pestisida yang dapat mengganggu fungsi syarat dan membuat hama cepat mati. Ketiga, pestisida yang bisa mempengaruhi fungsi dari enzim. Terakhir, pestisida yang akan mempengaruhi tingkah laku hama.

Baca juga: Cara Membuat Pestisida Alami dari Bunga Kecombrang

Pestisida berdasarkan cara masuknya

Ilustrasi membasmi hama di taman, Ilustrasi menyemprotkan pestisida pada tanaman. SHUTTERSTOCK/ENCIERRO Ilustrasi membasmi hama di taman, Ilustrasi menyemprotkan pestisida pada tanaman.

Pestisida ternyata bisa masuk ke tubuh OPT lewat beberapa cara. Pertama, lewat kontak langsung atau yang dikenal dengan sebutan racun kontak. Kedua, masuk ke tubuh lewat mulut dan mengganggu saluran pencernaan (racun perut).

Ketiga, diserap tanaman dan dikirimkan ke jaringan tanaman sehingga saat bagian tanaman tersebut dimakan hama, maka hama tersebut akan mati. Keempat, secara fumigan atau masuk ke tubuh hama lewat saluran pernapasan. 

Baca juga: 6 Cara Aman Menggunakan Pestisida agar Tak Membahayakan Tubuh

Pestisida berdasarkan bahan aktifnya

Sementara itu, apabila ditinjau dari bahan aktif yang digunakan, pestisida terbagi dua macam. Pertama, pestisida sintetik yang terbuat dari bahan-bahan sintetis.

Kedua, biopestisida atau jenis pestisida yang terbuat dari bahan alami seperti daun-daunan atau rimpang tanaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau