Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Sumber ZPT Alami yang Mudah Didapat, Apa Saja?

Kompas.com, 13 Februari 2023, 10:42 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Zat pengatur tumbuh atau ZPT adalah zat yang berperan sebagai merangsang, memacu, ataupun menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. ZPT sebenarnya dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, akan tetapi perannya sangat penting untuk tanaman terutama di fase pertumbuhan.

ZPT bisa didapatkan di toko pertanian atau membuatnya sendiri dari bahan alami. Dikutip dari Cybext Kementerian Pertanian, Senin (13/2/2/2023), berikut sejumlah sumber ZPT alami yang mudah didapatkan.

Bawang merah

Salah satu bahan alami yang dapat menjadi sumber ZPT yaitu bawang merah. Umbi bawang merah diketahui mengandung hormon auxin dan giberelin yang dapat merangsang pertumbuhan akar dan mempercepat perkecambahan benih.

Baca juga: Manfaat Kulit Bawang Merah untuk Tanaman, Jadi Pestisida hingga ZPT

Cara membuat ZPT alami dari bawang merah cukup mudah. Berikut langkah-langkahnya:

  • Haluskan umbi bawang merah sebanyak 10 sampai 15 siung.
  • Setelah itu, tambahkan 1 liter air dan aduk sampai rata.
  • Saring larutan tersebut dan gunakan air ekstrak bawang merah sebagai ZPT.

Ilustrasi rebung bambu untuk ZPTShutterstock/YUMIK Ilustrasi rebung bambu untuk ZPT

Rebung bambu

Selain bawang merah, rebung bambu juga bisa menjadi sumber ZPT alami. Rebung bambu atau bambu muda mengandung hormon giberelin yang bermanfaat untuk tanaman.

Pengambilan rebung yang akan dijadikan sebagai ZPT sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sebelum matahari terbit. Adapun cara membuat ZPT dari rebung bambu, seperti berikut:

Baca juga: Cara Membuat Zat Perangsang Akar dari Rebung Bambu

  • Cincang dan haluskan rebung dan tauge.
  • Kemudian, cairkan gula merah bersama dengan air secukupnya.
  • Campurkan seluruh bahan pada jerigen dan tutup rapat.
  • Setiap pagi, tutup jerigen dibuka dan diaduk sampai rata. Kemudian, tutup kembali.
  • Setelah 7 hari, saring larutan ZPT dan gunakan untuk merendam benih yang akan ditanam.

Bonggol pisang

Bonggol pisang juga ternyata bisa dimanfaatkan sebagai ZPT alami. Bonggol pisang mengandung hormon sitokinin yang bisa menunjang pertumbuhan tanaman.

Bonggol pisang yang akan diolah menjadi ZPT, sebaiknya diambil pada sore hari. Proses pembuatan ZPT dari bonggol pisang sama dengan pembuatan ZPT dari rebung bambu.

Tauge

Tauge adalah kecambah dari kacang hijau. Selain menjadi salah satu sayuran yang banyak digemari, tauge juga bisa dimanfaatkan sebagai ZPT.

Baca juga: Cara Membuat Pupuk Perangsang Akar dari Air Rendaman Tauge

Tauge memiliki kandungan giberelin yang berguna untuk pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Berikut ini tata cara membuat ZPT dari tauge yang benar:

Ilustrasi tauge, toge. PIXABAY/IVABALK Ilustrasi tauge, toge.

  • Siapkan air cucian beras, gula pasir, minuman probiotik (yakult), kuning telur dan sayuran hijau sebagai bahan tambahan.
  • Haluskan tauge bersama bahan tambahan.
  • Kemudian aduk sampai rata, lalu masukkan ke dalam wadah dan tutup rapat selama seminggu.
  • Setelah proses fermentasi selesai, lakukan penyaringan untuk memisahkan ampas dengan cairannya.

Air kelapa

Bahan alami lainnya yang bisa menjadi sumber ZPT yaitu air kelapa. Kandungan sitokinin dalam air kelapa bisa membuat tanaman tumbuh dengan baik.

Baca juga: Manfaat Air Kelapa untuk Tanaman dan Cara Menggunakannya

Air kelapa bisa diolah menjadi ZPT bersama dengan lidah buaya sebagai bahan tambahan. Adapun cara pembuatannya seperti berikut:

  • Haluskan lidah buaya bersama dengan air kelapa.
  • Buat air gula merah dan tambahkan pada larutan lidah buaya + air kelapa.
  • Setelah itu, aduk sampai rata dan gunakan sebagai ZPT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau