Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Kompas.com, 28 Januari 2025, 17:03 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PADA Desember 2023, jamu dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda milik Indonesia.

Sebagai warisan nenek moyang, jamu atau ramuan tradisional khas Indonesia ini dibuat dari berbagai tanaman obat dan rempah-rempah.

Jamu biasanya diracik berdasarkan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Jamu dapat dianggap sebagai produk herbal karena bahan-bahannya berasal dari tanaman lokal dan komoditas tradisional lain.

Selanjutnya, jamu yang telah melewati pengujian keamanan dari BPOM dan memiliki bukti ilmiah awal mengenai efektivitasnya dapat masuk ke kategori produk herbal terstandardisasi.

Perbedaan utama antara jamu, obat herbal, dan biofarmaka terletak pada proses pengolahan, standar keamanan, dan tingkat bukti ilmiah yang mendukung manfaat kesehatannya.

Baca juga: Bahan Bakar Nabati Alternatif Selain Sawit

Tanaman biofarmaka merujuk pada tanaman obat yang telah melalui uji klinis serta terbukti efektif dan aman, sehingga dapat digunakan dalam pengobatan formal.

Keberadaan tanaman-tanaman biofarmaka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi besar di pasar obat alami dunia, terutama di tengah tren global yang beralih ke produk berbasis herbal dan alami.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, produksi nasional tanaman biofarmaka di Indonesia mencapai 861.000 ton.

Beberapa jenis tanaman biofarmaka yang umum dibudidayakan di Indonesia meliputi jahe, kunyit, kapulaga, lengkuas, serai, jeruk nipis, kencur, dan temulawak.

Produksi per tahun jahe mencapai 247.000 ton, kunyit 196.500 ton, dan kapulaga 129.300 ton.

Produksi tanaman biofarmaka tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Provinsi Jawa Barat, misalnya, dikenal sebagai salah satu sentra produksi jahe, lengkuas, dan kencur.

Komoditas tersebut memiliki keunggulan kompetitif di masa lalu dan masa yang akan datang, dengan nilai Differential Shift (keunggulan relatif, daya saing dan peluang pengembangan) yang positif.

Nilai ekonomi tanaman biofarmaka juga terus naik signifikan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2021, total nilai ekspor jamu Indonesia mencapai 41,5 juta dollar AS, atau sekitar Rp 560 miliar.

Hilirisasi tanaman biofarmaka

Tanaman biofarmaka memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai komoditas konsumsi domestik maupun ekspor.

Jahe dan kunyit, dua komoditas unggulan biofarmaka, memiliki permintaan tinggi di pasar lokal dan internasional.

Dengan semakin tingginya kesadaran global terhadap manfaat kesehatan dari produk herbal dan alami, biofarmaka menjadi sektor strategis yang perlu dikembangkan secara optimal.

Sebagai negara dengan biodiversitas tinggi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan produk-produk biofarmaka yang unik dan berdaya saing, menjadikannya salah satu pemain utama di industri obat alami dunia.

Pengembangan sektor biofarmaka juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor dalam industri farmasi.

Baca juga: Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Dengan memanfaatkan tanaman biofarmaka lokal, Indonesia dapat meningkatkan kemandirian dalam penyediaan bahan baku farmasi, khususnya untuk produk herbal dan suplemen.

Selain itu, optimalisasi kekayaan hayati Indonesia dapat memperkuat daya saing produk kesehatan dalam negeri, mendukung inovasi produk berbasis tanaman lokal, dan menegaskan peran Indonesia di pasar global.

Untuk mencapai ini, dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan institusi riset sangat diperlukan.

Hilirisasi biofarmaka merupakan langkah penting untuk mendorong industri jamu dan produk herbal Indonesia bersaing di pasar global.

Kementerian Perindustrian memperkirakan nilai pasar produk turunan biofarmaka global mencapai 200,95 miliar dollar AS (Rp 3.115 triliun), menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan.

Dengan hilirisasi, produk biofarmaka Indonesia dapat berkembang dari sekadar produk tradisional menjadi suplemen kesehatan yang diakui secara internasional.

Transformasi ini akan memungkinkan produk Indonesia bersaing dengan negara-negara seperti Korea, China, dan India yang telah lebih dulu menguasai pasar herbal global.

Meski memiliki potensi besar, produk biofarmaka Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memenuhi standar internasional.

Regulasi ketat terkait keamanan, kualitas, dan efektivitas sering kali membatasi akses produk Indonesia di pasar global.

Selain itu, banyak produk yang belum tersertifikasi atau memenuhi persyaratan seperti Good Manufacturing Practice (GMP).

Baca juga: Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Untuk mengatasi kendala ini, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas produk melalui standardisasi.

Salah satunya adalah penyusunan SNI kunyit (SNI 7953:2024) dan SNI jahe kering (SNI 3393:2024), yang diharapkan dapat memperkuat daya saing produk berbasis kunyit dan jahe di pasar internasional.

Kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk berbasis biofarmaka.

Standar nasional yang diterapkan bertujuan memastikan produk perkebunan, seperti kunyit dan jahe, memiliki kualitas sesuai standar global, memberikan keuntungan lebih besar bagi petani, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.

Langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi serta memajukan industri biofarmaka sebagai salah satu sektor unggulan perekonomian nasional.

Pengembangan tanaman obat kedepan

Teknologi menjadi kunci utama dalam mentransformasi biofarmaka menjadi industri modern yang berdaya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun global.

Modernisasi proses produksi dan pengolahan tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan kualitas produk yang lebih baik, daya tahan lebih lama, dan keamanan yang terjamin.

Indonesia, dengan keanekaragaman hayati yang melimpah, memiliki posisi strategis sebagai pemain utama dalam penyediaan bahan baku obat tradisional maupun modern.

Tanaman seperti jahe, kunyit, kencur, temulawak, secang, sambiloto, dan kayu putih bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga menjadi komoditas penting dalam industri farmasi modern.

Potensi ini semakin relevan seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk berbasis herbal dan alami.

Hilirisasi menjadi langkah penting dalam menjadikan produk biofarmaka Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

Melalui hilirisasi, produk biofarmaka tidak hanya berfungsi sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk akhir seperti suplemen kesehatan, kosmetik berbasis herbal, dan produk medis yang diakui secara internasional.

Transformasi ini akan memberikan nilai tambah signifikan, baik bagi petani, industri, maupun perekonomian nasional secara keseluruhan.

Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi, biofarmaka Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional, bersaing dengan produk-produk dari negara lain seperti Korea Selatan, China, dan India yang telah lebih dulu mapan di industri ini.

Standardisasi produk penting tidak hanya untuk memastikan kualitas produk, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia.

Selain itu, dibutuhkan penguatan infrastruktur logistik dan distribusi agar produk biofarmaka dapat diakses secara luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi riset dalam membangun ekosistem yang mendukung inovasi dan pengembangan sangat diperlukan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau