
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PEMBICARAAN mengenai kesejahteraan petani sering diarahkan pada harga, pasar, dan kebijakan pascapanen. Pendekatan ini penting, tetapi belum sepenuhnya menyentuh aspek paling awal dalam proses produksi.
Dalam usaha tani jagung, keberhasilan ekonomi petani sangat dipengaruhi oleh keputusan yang diambil sebelum benih ditanam. Salah satu keputusan tersebut adalah pemilihan varietas, yang berperan langsung dalam menentukan tingkat gangguan penyakit tanaman sepanjang musim tanam.
Jagung merupakan komoditas strategis dengan peran penting dalam sistem pangan dan industri pakan ternak nasional. Permintaannya relatif stabil dan melibatkan jutaan petani. Namun, stabilitas permintaan tersebut kerap berhadapan dengan risiko produksi di lapangan. Penyakit tanaman seperti bulai, hawar daun, karat, dan busuk batang masih menjadi kendala utama yang dapat menurunkan hasil secara signifikan.
Dalam banyak kasus, penyakit muncul sejak fase awal pertumbuhan dan sulit dikendalikan jika tanaman tidak memiliki kemampuan genetik untuk menekan infeksi. Dalam praktik budidaya, penyakit jagung sering diperlakukan sebagai masalah yang muncul di tengah musim tanam.
Pengendalian kemudian dilakukan melalui aplikasi fungisida atau perlakuan lain setelah gejala terlihat. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga sering kali kurang efektif karena patogen telah berkembang di dalam jaringan tanaman.
Baca juga: Produksi Surplus, Bapanas: Indonesia Swasembada Jagung di 2025
Dari sudut pandang proteksi tanaman, strategi seperti ini menempatkan petani pada posisi yang rentan, karena pengendalian dilakukan setelah kerusakan mulai terjadi. Ilmu proteksi tanaman menempatkan pencegahan sebagai pendekatan utama dalam pengelolaan penyakit. Pencegahan berarti menurunkan peluang infeksi dan memperkecil dampak serangan sejak awal.
Pada tanaman jagung, pencegahan paling mendasar dimulai dari varietas yang digunakan. Varietas unggul dirakit melalui proses pemuliaan yang mempertimbangkan berbagai karakter penting, termasuk respons terhadap patogen utama. Sifat genetik inilah yang memungkinkan tanaman menekan perkembangan penyakit tanpa bergantung sepenuhnya pada input kimia.
Varietas unggul yang memiliki toleransi atau kemampuan menekan penyakit bekerja melalui berbagai mekanisme. Beberapa varietas mampu menghambat penetrasi patogen, sementara yang lain membatasi penyebaran patogen di dalam jaringan tanaman. Ada pula varietas yang tetap mampu tumbuh dan berproduksi meskipun terinfeksi pada tingkat tertentu.
Kemampuan-kemampuan ini sangat penting, terutama pada kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit, seperti curah hujan tinggi dan kelembapan udara yang meningkat. Secara agronomis, penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan tekanan penyakit setempat menghasilkan pertanaman yang lebih sehat dan seragam.
Tanaman yang sehat memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dan mampu menopang pembentukan tongkol secara optimal. Dari sisi produksi, kondisi ini berkontribusi pada hasil yang lebih stabil. Sementara itu, dari sisi ekonomi, petani memperoleh keuntungan melalui pengurangan biaya pengendalian dan penurunan risiko kehilangan hasil akibat serangan penyakit berat.
Baca juga: Kisah PNS yang Memanggang Harapan Lewat Jagung Musiman...
Namun demikian, pemilihan varietas unggul di tingkat petani belum selalu didasarkan pada pertimbangan penyakit tanaman. Harga benih, ketersediaan di lapangan, dan kebiasaan menggunakan varietas tertentu sering menjadi faktor dominan. Informasi mengenai karakter varietas, khususnya terkait respons terhadap penyakit, belum sepenuhnya menjadi dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, varietas yang ditanam tidak selalu sesuai dengan kondisi agroekosistem dan tekanan patogen yang ada.
Situasi ini menunjukkan bahwa varietas unggul bukan hanya persoalan benih, tetapi juga persoalan sistem informasi dan pendampingan. Penyuluhan pertanian dan lembaga perbenihan memiliki peran strategis dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan praktik lapangan.
Informasi mengenai keunggulan varietas seharusnya tidak hanya menekankan potensi hasil, tetapi juga kemampuan varietas tersebut dalam menekan penyakit utama di suatu wilayah. Tanpa informasi yang memadai, manfaat varietas unggul tidak akan dirasakan secara optimal.
Penggunaan varietas unggul yang mampu menekan penyakit juga berkontribusi pada pengelolaan budidaya yang lebih efisien. Ketergantungan pada pestisida dapat dikurangi, sehingga biaya produksi lebih terkendali dan risiko dampak lingkungan dapat diminimalkan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip proteksi tanaman yang menekankan integrasi berbagai komponen pengendalian, dengan varietas sebagai fondasi utama.
Dalam konteks pembangunan pertanian, pemilihan varietas unggul yang tepat perlu dipandang sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko produksi. Upaya peningkatan kesejahteraan petani tidak akan efektif jika kerugian akibat penyakit terus berulang di tingkat lapangan. Dengan varietas yang sesuai, petani memiliki dasar yang lebih kuat untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usahanya.
Pada akhirnya, varietas unggul bukan sekadar sarana untuk mengejar hasil tinggi. Ia merupakan instrumen proteksi tanaman yang menentukan arah pengelolaan penyakit jagung sejak awal musim tanam. Dengan menempatkan varietas unggul sebagai titik awal budidaya, pengelolaan penyakit dapat dilakukan secara lebih rasional, efisien, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang petani.
Baca juga: Produksi Jagung Melimpah, Amran: Kita Siap-siap Ekspor
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang