Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Narji Jadi Petani, Ini Komoditas yang Ditanam dan Pemasarannya

Kompas.com, 26 September 2025, 16:26 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Lama tak muncul di layar kaca, komedian Narji Cagur kini disibukkan dengan kegiatan bertani alias menjadi petani. 

Hal ini diketahui dari unggahan dalam akun YouTube pribadinya, Abang Narji, serta pengakuannya di sejumlah media. 

Baca juga: Kedaulatan Pangan di Tanah Rapuh: Janji Agraria yang Belum Tercapai

Narji mengatakan kesibukan menjadi petani bukan untuk mengisi kekosongan, melainkan kesukaannya dan telah menjadi tradisi keluarga yang sudah dilakukan turun-temurun.

"Suka pepohonan dari zaman kuliah. Kalau punya lahan dari semenjak menikah," ucap Narji dihubungi Kompas.com, Jumat (26/9/2025). 

Namun, Narji mengaku sudah akrab dengan sawah atau pertanian serta kebiasaan menanam sejak kecil di daerah Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel). 

Ilmu bertani atau mengolah sawah ini diperoleh Narji Cagur dari kedua orang tuanya serta  neneknya. 

"Bokap gue itu waktu Tangsel sebelum kayak sekarang, itu kan dulu bokap gue di empang, di sawah, masih ada sawah di Pamulang itu kan. Gue kan suka ngikut bokap gue tuh, ngerawat ikan, gurame, ikan mas, mujair gitu kan, di empang bokap gue gitu," jelas Narji dikutip dari 

Baca juga: Hari Tani Nasional: Petani Masih Jadi Tamu di Tanahnya Sendiri 

Sementara itu, dari sang nenek, Narji belajar tentang menanam dan menyiangi tanaman di sawah neneknya di Pamulang. 

"Dari situ, gua belajar sampai sekarang enggak bisa hilang. Darah petaninya kayak gitu,” tambah Narji. 

Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin ingin menekuni dunia pertanian, Narji juga belajar menambah ilmu pertanian dengan terjun langsung ke petani-petani di lahan sekitar miliknya serta keliling daerah, seperti Pekalongan, Tasikmalaya, Magelang, Probolinggo, dan Sulawesi Selatan. 

Dari padi hingga buah-buahan 

Komedian Narji Cagur kini menekuni kesibukan menjadi seorang petani.Tangkapan layar akun Instagram @narji77 Komedian Narji Cagur kini menekuni kesibukan menjadi seorang petani.
Narji mengatakan memiliki beberapa lahan pertanian yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Pamulang, Parung, hingga Pekalongan, Jawa Tengah. 

Namun, Narji membantah isu yang menyebut dirinya memiliki lahan pertanian seluas 1.000 hektare. 

Narji mengatakan ada banyak komoditas yang ditanam di lahan pertanian miliknya. "Di Pekalongan, menanam padi, kacang, jagung, singkong, dan pisang," ucapnya. 

Di belakang rumahnya, di Pamulang, Tangerang Selatan, Narji menanam berbagai komoditas, antara lain cabai, jagung, terong, serta neka umbi, seperti talas, singkong, juga ubi. 

Baca juga: Dilema Industri Kakao Indonesia: Kualitas dan Importasi 

Selain itu, Narji juga menanam tanaman herbal yang dimanfaatkan untuk bumbu masakan, di antaranya, daun salam, daun serai, kunyit, hingga daun pandan. 

"Jadi, kalau masak itu bini gue, bumbu-bumbu yang cuma kebutuhannya sedikit tuh tinggal, ‘Kang, ambilin daun salam. Kang, daun serai’,” imbuh Narji. 

Komoditas yang ditanam ini beraneka macam dan dapat berubah, tergantung kebutuhan serta musim. 

Pada bulan puasa, misalnya, Narji akan menanam timun suri dan singkong, sedangkan menjelang tahun baru akan menanam jagung.

Kemudian beberapa waktu lalu, Narji pernah menanam sayur-sayuran, seperti bayam, kangkung, oyong, dan pokcay.

Selain itu, menanam tanaman obat, seperti daun sirih, dan terkadang juga menanam komoditas yang harganya tengah melambung di pasaran, seperti jahe dan cabai. 

Baca juga: Gula Kelapa Banyumas: Warisan, Rasa, dan Asa

Dikonsumsi sendiri dan dijual 

Narji mengatakan kegiatannya bertani atau menanam aneka tanaman ini dibantu beberapa orang dalam timnya meski terkadang ia juga terjun langsung. "Hanya kontrol sesekali," ujarnya. 

Untuk komoditas yang ditanam, kata Narji, ada beberapa yang dikonsumsi pribadi atau sendiri, seperti cabai, sayuran-sayuran, dan umbi. 

Namun, sebagian komoditas tersebut juga ada yang dipasarkan atau dijual. "Dijual ke tukang sayur terdekat atau pasar sekitar," imbuhnya. 

Narji juga ikut melakukan pemasaran atau penjualan komoditas tersebut bila dalam jumlah besar. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Varietas Tanaman
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau