Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali

Kompas.com, 19 Juni 2026, 18:00 WIB
Suhaiela Bahfein,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Petani di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, yang selama ini hanya bisa memanen padi sekali dalam setahun kini berpeluang meningkatkan frekuensi panen hingga tiga kali setahun.

Perubahan tersebut dimungkinkan setelah beroperasinya 39 titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibangun PT Hutama Karya (Persero) di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena, wilayah perbatasan Indonesia-Australia.

Proyek yang diinisiasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku itu terdiri atas 26 titik JIAT di Pulau Selaru dan 13 titik JIAT di Pulau Yamdena. Seluruh pekerjaan konstruksi telah dinyatakan selesai pada 16 Maret 2026.

Sebelum JIAT beroperasi, kegiatan pertanian di kedua pulau tersebut, khususnya untuk komoditas padi, sangat bergantung pada musim penghujan. Sebab, keterbatasan sumber air permukaan.

Kondisi itulah yang membuat petani hanya dapat melakukan satu kali masa tanam dalam setahun.

39 Sumur Bor Airi Lahan Pertanian 12 Hektar

Kini, 39 titik sumur bor yang dibangun mampu mengairi lahan pertanian seluas 12 hektar per titik. Dengan demikian, total lahan yang dapat dijangkau mencapai 468 hektar.

Baca juga: Kekeringan Mengancam, JIAT Bakal Dibangun di Lumbung Pangan Nasional

Kehadiran jaringan irigasi tersebut diharapkan meningkatkan frekuensi panen dari sebelumnya satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

Selain padi, pasokan air juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya jagung dan berbagai komoditas hortikultura seperti sayuran serta buah-buahan.

Di Desa Kandar, Pulau Selaru, dampak kehadiran JIAT mulai dirasakan petani. Selama ini lahan pertanian di kawasan Abatus Nitas hanya mampu menghasilkan sekitar 20 ton gabah dalam satu musim tanam per tahun.

Padahal, kawasan tersebut memiliki potensi lahan pertanian lebih dari 50 hektar yang sebelumnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan air.

"Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden atas perhatiannya kepada para petani di Indonesia, khususnya kami di Maluku, di Selaru, di Kandar," kata Ketua Kelompok Tani Desa Kandar John K Halurun dikutip rilis, Jumat (19/6/2026).

Dengan hadirnya JIAT ini, petani Desa Kandar berharap bisa melaksanakan panen hingga tiga kali setahun.

Berbeda dengan sistem irigasi konvensional, JIAT yang dibangun Hutama Karya tidak menggunakan pompa sentrifugal untuk mendorong aliran air ke lahan pertanian.

Sistem ini memanfaatkan menara air atau water tower yang ketinggiannya disesuaikan dengan kondisi elevasi di lapangan sehingga distribusi air dapat dilakukan menggunakan sistem gravitasi.

Air tanah diangkat dari kedalaman rata-rata 50 hingga 60 meter menggunakan pompa submersible yang digerakkan oleh panel surya dan inverter.

Baca juga: JIAT, Solusi Lahan Pertanian Tak Terjangkau Aliran Air Infrastruktur

Air kemudian ditampung di menara toren sebelum dialirkan melalui jaringan pipa HDPE menuju kotak pembagi dan selanjutnya ke lahan pertanian.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Varietas Tanaman
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau