Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Barus: Rempah Nusantara yang Terlupakan

Kompas.com, 12 Oktober 2025, 16:07 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ragam Kegunaan dan Nilai yang Hilang

Kejayaan Barus mulai meredup pada abad ke-17, ketika jalur perdagangan dunia beralih ke pelabuhan besar yang dikuasai bangsa Eropa. Aceh, Malaka, dan Batavia menjadi pusat baru, sementara Barus perlahan tenggelam dalam ingatan sejarah.

Eksploitasi berlebihan terhadap pohon kamper juga meninggalkan luka ekologis. Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2023) mencatat bahwa Dryobalanops aromatica kini masuk kategori critically endangered (sangat terancam punah) akibat deforestasi dan penebangan tanpa kontrol.

Kajian lapangan oleh Balai Penelitian Hutan Medan (2019) menemukan hanya puluhan pohon tua yang tersisa di hutan Barus dan sekitarnya, serta sangat sedikit regenerasi alami.

Di sisi lain, kemajuan industri kimia modern menggantikan hampir seluruh kebutuhan kapur barus alami.

Produk sintetis yang dibuat dari turunan minyak bumi seperti terpen dan naftalena kini menjadi bentuk kapur barus yang umum di pasaran, bola putih kecil yang kita kenal sebagai pengharum lemari.

Murah dan mudah diproduksi, tetapi kehilangan nilai ekologis dan sejarah yang pernah harum.

Walau terpinggirkan, kapur barus tetap menyimpan nilai kegunaan yang tak ternilai. Dalam dunia medis, ia masih menjadi bahan dasar farmasi dan pengobatan tradisional.

Dalam rumah tangga, aromanya menjaga kesegaran pakaian dan mengusir serangga. Kegunaan yang luas itu menunjukkan bahwa kapur barus adalah warisan ekologis dan intelektual yang luar biasa.

Ia bukan sekadar produk alam, tetapi juga cermin pengetahuan manusia dalam membaca manfaat hutan tropis.

Baca juga: Saatnya Perkebunan Naik Kelas: Ekspor Olahan, Bukan Sekadar Mentah

Ketika dunia kini mencari bahan alami dan ramah lingkungan, kapur barus sesungguhnya memiliki peluang besar untuk kembali diperhitungkan.

Peluang Kebangkitan Baru

Saat ini, produksi kapur barus alami dari pohon Dryobalanops aromatica di Sumatera Utara praktis tidak lagi tercatat secara resmi.

Populasinya di alam sudah sangat menipis hingga nyaris punah, sehingga volume produksi pun sangat kecil.

Beberapa hutan kapur tua masih ditemukan di wilayah Barus dan Pakpak Bharat, namun kawasan ini lebih diarahkan untuk kepentingan konservasi ketimbang eksploitasi ekonomi.

Akibatnya, nilai ekonomi kapur barus tidak tercatat dalam statistik resmi BPS karena tidak ada aktivitas produksi komersial ataupun ekspor yang berlangsung.

Meskipun demikian, sebagian kecil masyarakat masih memanfaatkan kristal kapur barus untuk keperluan tradisional, pengobatan, atau pengharum alami. Namun, skala pemanfaatannya sangat terbatas dan tidak memiliki signifikansi ekonomi.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau