Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Secangkir Optimisme Teh Indonesia

Kompas.com, 5 Februari 2026, 07:37 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

HAMPARAN kebun teh di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, merekam denyut penting industri teh nasional. Di tengah dinamika global yang kian bergejolak, perkebunan teh rakyat justru tampil sebagai tulang punggung produksi teh Indonesia.

Namun, tantangannya nyata. Di berbagai negara produsen utama, harga teh dunia sedang tertekan. Di India, harga lelang teh anjlok lebih dari 10% hanya dalam sebulan hingga pertengahan Januari 2026. Bangladesh mengalami stagnasi harga di awal tahun, sementara petani di Afrika Timur ikut merasakan dampaknya.

Kenya bahkan harus menaikkan harga beli daun teh segar mulai Februari 2026 sebagai langkah darurat melindungi pendapatan petani setelah bonus tahunan mereka merosot. Sinyalnya sangat jelas, pasar global sedang lesu, dan petani berada di garis terdepan tekanan tersebut.

Di saat bersamaan, peta permintaan teh dunia juga tengah bergeser. Konsumen global makin meninggalkan teh curah dan beralih ke produk bernilai tambah seperti teh kemasan ritel, kantong celup, teh instan, hingga teh hijau yang dianggap praktis dan premium. Di Sri Lanka, lebih dari separuh ekspor tehnya kini berupa produk siap seduh, bukan lagi teh curah dalam karung besar.

Tren ini menegaskan satu hal, daya saing industri teh tidak lagi ditentukan oleh volume semata, melainkan oleh inovasi dan hilirisasi.

Baca juga: Cara Menyeduh Teh agar Sempurna, Beda Jenis Beda Caranya

Harga dan Perubahan Selera Global

Tekanan pasar global ikut membebani industri teh Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, kinerja ekspor teh nasional terus menurun tajam. Pada 2024, volume ekspor hanya sekitar 34 ribu ton senilai US$52,8 juta, turun dari 35,9 ribu ton (US$69 juta atau sekitar Rp1,16 triliun) pada 2023, dan merosot jauh dibandingkan 2005 yang masih mencapai 102 ribu ton.

Ironisnya, di saat ekspor melemah, impor teh justru meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada 2024 mencapai 13 ribu ton senilai US$31 juta (Rp.520 miliar), melonjak dari 9,6 ribu ton setahun sebelumnya.

Paradoks ini menegaskan problem struktural industri teh nasional, produksi dan ekspor kian menyusut, sementara konsumsi domestik tumbuh sehingga pasar dalam negeri justru disuplai produk impor.

Data BPS menunjukkan luas areal perkebunan teh menyusut dari 114,9 ribu hektare satu dekade lalu menjadi hanya 97,5 ribu hektare pada 2024. Produksi teh kering pun turun menjadi 118,9 ribu ton, dari 132,6 ribu ton pada 2015.

Rendahnya harga pucuk teh segar menekan kelayakan usaha petani, memaksa penghematan perawatan kebun yang berdampak pada turunnya produktivitas. Rantai efeknya panjang, yaitu pasokan bahan baku berkurang, pabrik teh tutup, ekspor melemah, dan celah pasar diisi impor. Siklus negatif ini, jika dibiarkan, berisiko makin menggerus posisi teh Indonesia.

Namun, di balik tekanan tersebut, peluang justru terbuka lebar. Konsumsi teh domestik terus tumbuh. Secara global, teh merupakan minuman terpopuler kedua setelah air putih dengan pertumbuhan konsumsi 5–6% per tahun.

Ketua Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari, menegaskan bahwa narasi kemunduran kerap hanya melihat sisi hulu, padahal di hilir trennya berlawanan. Produksi turun, konsumsi naik, menandakan adanya celah pasar besar yang belum dimanfaatkan industri nasional.

Peluang ini diperkuat oleh pergeseran struktur produksi. Perkebunan rakyat kini menjadi tulang punggung industri teh, menguasai porsi terbesar luas areal dan output. Di saat gaya hidup milenial dan Gen Z mendorong konsumsi teh di kafe dan minuman siap saji, tantangannya adalah merebut kembali pasar domestik yang kini dipenuhi produk impor.

Kualitas teh lokal, khususnya teh hitam dari Jawa, sejatinya mampu bersaing. Kuncinya terletak pada hilirisasi, inovasi produk, dan kolaborasi rantai nilai agar keunggulan teh Indonesia kembali berdaulat di negeri sendiri.

Baca juga: Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan

Solusi Strategis: Peningkatan Mutu

Potensi nilai tambah dari hilirisasi sangat besar dan nyata. Di tingkat petani, harga pucuk teh basah berkisar Rp2.500 per kg. Setelah diolah menjadi teh kering dengan rendemen sekitar 20%, nilainya setara Rp12.500 per kg. Namun ketika produk tersebut diproses lebih lanjut menjadi teh bermerek dengan kemasan menarik atau specialty tea, harganya bisa melonjak hingga Rp250.000 per kg.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau