Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Hamparan pasir yang membentang di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini perlahan berganti wajah.
Kawasan yang sempat rusak akibat banjir pascagempa itu tidak lagi hanya menyisakan kerugian bagi petani setempat.
Melalui tanaman sereh wangi, warga desa merintis jalan pemulihan lahan sekaligus membangun tatanan ekonomi baru yang berbasis pada kelestarian alam.
Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu sekaligus pemilik usaha Lana Tumbavani, Dilah Salim, menuturkan bahwa upaya awal yang mereka lakukan sama sekali tidak ditujukan untuk tujuan komersial. Fokus utama saat itu adalah menstabilkan lahan kritis agar tidak terus tergerus air.
"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," ujar Dilah, dikutip Kompas.com, Sabtu (18/7/2026).
Sereh wangi dipilih karena kemampuannya beradaptasi di tanah miskin hara. Tanaman ini kemudian dikombinasikan dengan bambu untuk memperkuat bantaran sungai dan menahan erosi.
Seiring berjalannya waktu, proses pemulihan ekologis tersebut melahirkan potensi baru. Daun sereh yang dipanen secara rutin disuling menjadi minyak esensial, yang kini menjadi bahan utama bagi berbagai produk perawatan tubuh di bawah jenama Lana Tumbavani.
Kendati kapasitas produksinya belum menyamai skala industri, kualitas produk yang dihasilkan, tanpa campuran bahan sintetis, telah menarik perhatian pasar global.
Produk-produk seperti minyak pijat, sabun herbal berbahan kelor, hingga parfum padat kini menembus pasar luar negeri, termasuk Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat.
Dalam perjalanannya, BUMDes Pulu mendapatkan pendampingan dari Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0.
Fokus pendampingan ini tertuju pada penguatan tata kelola usaha tanpa mengabaikan prinsip dasar pemulihan alam.
"Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh," kata perwakilan Gampiri Interaksi Nedya Sinintha Maulaning.
Pendekatan ekonomi restoratif yang diusung Lana Tumbavani membalik logika pembangunan konvensional.
Dalam model ini, pemulihan lingkungan ditempatkan sebagai fondasi utama sebelum ekonomi dikembangkan.
Nedya menambahkan bahwa cara pandang inilah yang membuat keberlanjutan usaha menjadi lebih terjaga dibandingkan praktik eksploitatif.
Bagi Dilah, keberhasilan ini adalah bukti nyata bahwa menjaga alam memberikan imbal balik langsung bagi kesejahteraan warga desa.
"Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga," ujar Dilah.
Gerakan di Desa Pulu ini kini menjadi bagian dari upaya kolektif Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), sebuah asosiasi pemerintah kabupaten yang mendorong kemandirian daerah melalui pembangunan berkelanjutan.
Praktik ini menunjukkan bahwa lahan yang pernah dianggap tidak produktif dapat kembali menghasilkan nilai ekonomi, selama pemulihan alam tetap menjadi titik tolak setiap pertumbuhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang