Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menggali Kembali Kejayaan Pala Nusantara

Kompas.com, 29 Oktober 2025, 12:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

PALA (Myristica fragrans) bukan sekadar rempah beraroma tajam yang mengundang selera. Ia adalah kisah panjang tentang daya tarik Nusantara yang menembus batas samudra dan zaman. Dari Kepulauan Banda di Maluku hingga Pulau Siau di Sulawesi Utara, pala menjadi saksi bagaimana tanah air kita dahulu diperjuangkan, direbut, dan akhirnya diakui dunia karena kekayaan alamnya yang tak tertandingi.

Di masa kolonial, harga segenggam biji pala bisa menandingi emas. Kini, ratusan tahun berselang, keharuman pala masih menebar ke penjuru dunia, membawa serta harapan baru bagi ekonomi Indonesia modern.

Keistimewaan pala bukan hanya pada sejarahnya yang legendaris, tetapi juga pada perannya yang tetap vital hingga kini. Ia menjadi denyut ekonomi bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia, Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara. Dari kebun yang teduh di lereng Gunung Karangetang hingga pohon-pohon tua di Banda yang masih kokoh berdiri, ribuan keluarga menggantungkan hidup dari panen rempah ini.

Tak berlebihan jika masyarakat Fakfak menyebutnya “bank hidup”. Dari satu pohon pala, mereka bisa menyekolahkan anak, membangun rumah, bahkan menabung untuk masa depan.

Baca juga: 9,5 Ton Pala Maluku Tembus Belanda, Petani Bidik Harga Lebih Tinggi

Jejak Emas Hijau yang Tak Pudar

Di Pulau Siau, Sulawesi Utara, hampir 70 persen perputaran ekonomi masyarakat bersumber dari pala. Daging buahnya diolah menjadi manisan dan sirup, fuli atau selaput merahnya dijadikan bumbu dan obat, sementara bijinya dikeringkan menjadi rempah unggulan. Bahkan minyak atsiri pala digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan obat tradisional bernilai tinggi.

Dari kebun ke dapur, dari ladang ke laboratorium, pala menghadirkan rantai nilai ekonomi yang panjang dan inklusif. Di pasar global, nama pala Indonesia harum semerbak. Dunia mengenal kita sebagai produsen pala terbesar. Sekitar sepertiga suplai pala dunia berasal dari tanah air.

Pada 2021, ekspor pala Indonesia menembus 26 ribu ton dengan nilai hampir 200 juta dolar AS (sekitar Rp 3,1 triliun). Angka itu menjadi bukti bahwa rempah leluhur ini masih mampu bersaing di tengah derasnya arus perdagangan modern.

Salah satu rahasia di balik daya saing pala Indonesia terletak pada kualitasnya. Pala Siau memiliki kadar minyak atsiri mencapai 100 persen, jauh di atas rata-rata daerah lain. Aroma tajam dan kandungan myristicin-nya yang tinggi membuatnya menjadi incaran industri kuliner dan kosmetik dunia. Tak heran jika pala dari pulau kecil di bawah bayang-bayang Gunung Karangetang ini mendapat sertifikat Indikasi Geografis (IG). Begitu pula pala Banda, yang sejak masa VOC sudah dikenal sebagai rempah terbaik dunia.

Menariknya, sebagian besar ekspor pala Indonesia mengalir ke Jepang. Negeri Sakura menjadi pasar setia bagi rempah kita. Jepang dikenal dengan standar keamanan pangan yang sangat ketat, dan pala Indonesia, terutama dari Siau, berhasil memenuhinya. Dengan aroma kuat, ukuran biji seragam, serta kadar racun jamur (aflatoksin) rendah, pala kita menjadi primadona industri makanan dan farmasi Jepang.

Hubungan dagang kedua negara diperkuat oleh Indonesia–Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang memberi tarif bea masuk nol persen untuk produk tertentu, termasuk rempah. Keuntungan ini menjadikan pala Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara lain.

Selain itu, Jepang mengandalkan pala untuk industri kuliner dan kosmetik herbal. Tak heran jika lebih dari 90 persen impor pala Jepang berasal dari Indonesia. Importir Jepang bahkan datang langsung ke Siau untuk memastikan mutu dan kontinuitas pasokan.

Baca juga: Tak Sekadar Bumbu Masak, Biji Pala Punya Sejumlah Manfaat Kesehatan

Dari Biji Mentah ke Produk Bernilai Tinggi

Kendati prospek pala cerah, jalan menuju kejayaan penuh belumlah mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam negeri. Sebagian besar kebun pala berada di wilayah kepulauan terpencil, dengan infrastruktur terbatas dan biaya logistik tinggi. Dari kebun di pulau-pulau kecil hingga pelabuhan ekspor, rantai distribusi panjang sering menurunkan mutu biji. Dalam perjalanan yang lembap, biji pala mudah berjamur.

Praktik penjemuran tradisional di atas tanah juga masih banyak dilakukan, memicu kontaminasi dan penurunan kualitas. Produktivitas pun masih rendah. Banyak pohon pala sudah tua, bibit unggul belum tersebar luas, dan teknik budidaya belum modern. Rata-rata produksi Indonesia hanya 1,7 ton per hektar, setengah dari India yang bisa mencapai empat ton.

Petani sering bergantung pada tengkulak karena akses langsung ke eksportir belum tersedia. Akibatnya, keuntungan besar justru dinikmati perantara. Dunia menghargai pala kita dengan harga tinggi, tapi petani di Banda atau Siau masih hidup sederhana.

Namun di balik tantangan itu tersimpan peluang besar. Indonesia bisa menempuh tiga jalan utama, yaitu diversifikasi produk, perluasan pasar, dan penguatan rantai pasok. Pertama, keluar dari jebakan komoditas mentah. Pala tak seharusnya hanya diekspor dalam bentuk biji kering. Sudah saatnya Indonesia naik kelas sebagai eksportir produk olahan seperti minyak atsiri, mentega pala, oleoresin, hingga bubuk pala siap pakai. Produk-produk ini dihargai jauh lebih tinggi di pasar dunia.

Dengan membangun unit penyulingan di dekat sentra produksi seperti Ambon, Ternate, atau Manado, nilai tambah bisa dinikmati masyarakat setempat. Langkah ini juga membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.

Kedua, memperluas pasar. Selama ini ekspor pala terkonsentrasi di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Padahal, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Utara memiliki potensi besar. Diplomasi ekonomi dan promosi rempah harus lebih agresif.

Indonesia bisa memanfaatkan forum internasional seperti Indonesia Spice Forum untuk membangun citra pala sebagai rempah premium dunia—setara kopi dan teh. Dunia modern menyukai produk yang punya cerita, dan pala kita punya semuanya, yaitu berupa sejarah, keaslian, serta cita rasa yang otentik.

Ketiga, memperkuat rantai pasok dan standar mutu. Pemerintah perlu mendorong pembentukan koperasi petani agar mereka memiliki posisi tawar. Fasilitas pengeringan modern, gudang bersih, dan pengemasan higienis harus disediakan di sentra-sentra pala.

Sertifikasi mutu seperti organic atau fair trade akan membuka pintu pasar premium. Edukasi petani tentang Good Agricultural Practices (GAP) penting agar standar kualitas internasional terpenuhi. Dengan rantai pasok efisien dan produk tersertifikasi, Indonesia akan sulit disaingi dan dapat memantapkan diri sebagai “Spice Center of the World” yang sesungguhnya.

Kini, ketika dunia kembali mencari keseimbangan antara alam dan industri, pala hadir sebagai simbol ekonomi hijau yang berakar pada tradisi. Ia bukan hanya komoditas ekspor, melainkan cermin hubungan manusia dan bumi yang harmonis.

Bayangkan jika seluruh potensi lahan pala di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara digarap modern, sementara nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri, betapa besar devisa yang bisa dihasilkan, betapa banyak keluarga yang bisa sejahtera. Pala adalah bukti bahwa warisan leluhur masih relevan bagi masa depan bangsa. Di dalam setiap butirnya tersimpan pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan keberlanjutan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Varietas Tanaman
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Varietas Tanaman
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Varietas Tanaman
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Berita
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Berita
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Berita
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Berita
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Berita
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Berita
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Berita
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Berita
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Berita
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Berita
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Varietas Tanaman
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Berita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau