Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor

Kompas.com, 6 Desember 2025, 08:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SETIAP musim hujan, kecemasan atas banjir bandang dan tanah longsor kembali menghantui banyak wilayah di Indonesia.

Sungai meluap, lumpur dan puing menerjang permukiman, sementara lereng-lereng rapuh runtuh tanpa ampun.

Hujan ekstrem dan perubahan iklim kerap disalahkan. Namun, akar masalahnya jauh lebih dalam, yaitu lemahnya daya dukung lingkungan akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.

Penggantian hutan dengan beton dan kegiatan ekonomi di kawasan hulu sungai atau wilayah serapan di punggung bukit, membuat air hujan tak lagi tertahan optimal dan langsung mengalir di permukaan, memicu banjir dan longsor.

Di tengah situasi ini, kita kerap lupa bahwa alam sejatinya telah menyediakan solusi yang sederhana, murah, dan sangat efektif.

Solusi itu hadir dalam bentuk tanaman dengan sistem perakaran kuat dan tajuk rapat, pahlawan sunyi yang bekerja tanpa sorotan.

Bayangkan lereng yang ditanami aren, diselimuti rumpun serai wangi dan barisan vetiver yang mencengkeram tanah seperti pasak bumi.

Tanaman-tanaman ini berfungsi layaknya spons raksasa dan jaring pengaman alami, mereka menyerap air hujan berlebih, menyimpannya dalam tanah, lalu melepaskannya perlahan.

Baca juga: Galang Rp 10 Miliar Sehari: Efek Ferry Irwandi dan Kekuatan Pemuda

Pada saat yang sama, akar-akar mereka mengikat butiran tanah agar tak tergerus, menahan erosi, dan mencegah longsor. Inilah mekanisme perlindungan alam yang bekerja hening, tetapi dampaknya luar biasa bagi keselamatan manusia.

Yang membuat pendekatan ini istimewa, fungsi ekologis tersebut berjalan seiring dengan manfaat ekonomi dan sosial.

Aren, serai wangi, dan kopi atau kelapa dalam konsep agroforesteri dapat menjadi tanaman konservatif, yang tidak hanya menjaga lereng tetap stabil, tetapi juga memberi penghasilan nyata bagi petani.

Inilah esensi solusi berbasis alam yang berkelanjutan, menghubungkan konservasi lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat.

Dari sinilah kita belajar bahwa mencegah bencana tidak selalu harus dimulai dari beton dan tanggul, kadang cukup dengan menanam tanaman yang tepat, di tempat yang tepat.

Alam, banjir, dan solusi berakar

Pohon aren adalah contoh paling nyata bagaimana alam menyediakan benteng hidup bagi lereng-lereng rawan bencana.

Tajuknya yang lebat mampu menahan hujan sebelum jatuh ke tanah, memberi waktu bagi air untuk meresap perlahan.

Dalam satu pohon dewasa, ratusan liter air dapat tertahan dan tersimpan di sekitar perakarannya.

Di hulu sungai, ratusan pohon aren bekerja bagai bendungan alami yang menekan limpasan permukaan dan meredam banjir bandang. Karena itulah aren kerap dijadikan tulang punggung rehabilitasi lahan kritis di daerah perbukitan.

Keunggulan aren makin lengkap dengan sistem perakarannya yang dalam dan menyebar luas hingga beberapa meter ke bawah tanah.

Akar-akar serabut itu mengikat butiran tanah layaknya jalinan baja, menjaga kemantapan lereng dari ancaman longsor.

Pengalaman lapangan menunjukkan, kawasan yang ditumbuhi aren sering tetap utuh saat lereng di sekitarnya runtuh.

Lapisan ijuk di batangnya pun memperlambat aliran air di sekitar pangkal pohon dan menjaga kelembaban mikro, bahkan melindungi mata air dari sedimentasi. Aren bukan sekadar pohon, melainkan penjaga tanah, air, dan keseimbangan alam.

Lebih dari itu, aren adalah sumber penghidupan desa. Nira yang disadap setiap hari diolah menjadi gula aren, pemanis alami bernilai tinggi yang pasarnya terus tumbuh.

Baca juga: Munafik Ekologis (Bagian I)

Buah mudanya menghasilkan kolang-kaling, empulur batangnya menjadi sumber sagu, dan ijuknya dimanfaatkan untuk aneka keperluan rumah tangga hingga industri.

Aren tumbuh baik di lereng terjal dan tanah marginal, menjadikannya “tabungan hidup” jangka panjang bagi petani.

Dalam sistem agroforestri, aren sering dipadukan dengan kopi atau kakao, membentuk bentang lahan yang produktif sekaligus tangguh menghadapi bencana.

Di sisi lain, tanaman lain seperti serai wangi tampil sebagai rumput sederhana yang menyimpan daya konservasi luar biasa.

Rumpunnya yang padat dan akarnya yang menyerupai anyaman halus membentuk “karpet hijau” penahan erosi di lereng-lereng miring.

Air hujan yang jatuh tertahan oleh struktur tanah yang lebih berpori, sementara partikel tanah saling terikat kuat oleh akar.

Berbagai studi dan pengalaman petani menunjukkan, limpasan air dan tanah tererosi dapat ditekan signifikan dengan kehadiran barisan serai wangi di antara tanaman utama.

Serai wangi juga menghadirkan berkah ekonomi. Daunnya disuling menjadi minyak atsiri bernilai tinggi yang diolah menjadi beragam produk, dari minyak telon hingga antiseptik alami.

Banyak petani di sekitar Danau Toba dan sentra lainnya membuktikan bahwa lahan kritis yang dulu tak produktif kini menghasilkan pendapatan rutin.

Ampas penyulingan pun dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak dan kompos, menciptakan sistem produksi yang nyaris tanpa limbah. Serai wangi membuktikan bahwa konservasi tidak selalu identik dengan pengorbanan ekonomi.

Selain aren dan serai wangi, alam masih menyediakan sekutu konservasi lain seperti vetiver, bambu, dan pohon-pohon lokal berakar kuat.

Vetiver dikenal sebagai “paku alam” dengan akar yang menghunjam dalam hingga beberapa meter, menguatkan lereng bukit, tanggul, dan tebing jalan.

Bambu dengan rimpun lebatnya efektif menahan erosi dan menstabilkan bantaran sungai, sekaligus memberi nilai ekonomi dari batang dan rebung.

Pohon beringin, trembesi, bendo, gayam, dan kepuh turut memainkan peran penting sebagai penjaga air dan tanah di berbagai bentang alam Indonesia.

Seluruh tanaman ini menemukan kekuatan maksimalnya ketika dirangkai dalam satu sistem agroforestri terpadu.

Baca juga: Nirempati di Tengah Puing, Ruang Kosong dalam Komunikasi Kepemimpinan Tata Kelola Bencana

Aren tumbuh menjulang di atas, kopi atau kakao berproduksi di bawahnya, sementara vetiver dan serai wangi mengunci lereng dari erosi.

Tajuk berlapis meneduhkan tanah, akar dengan kedalaman berbeda saling melengkapi menyerap air dan unsur hara.

Inilah wajah pertanian masa depan yang tidak hanya produktif, tetapi juga tangguh menghadapi banjir dan longsor.

Dengan menanam tanaman yang tepat di tempat yang tepat, kita sejatinya sedang membangun pertahanan alami bagi bumi sekaligus menumbuhkan kesejahteraan dari akarnya.

Menanam harapan, menuai keseimbangan

Tanaman-tanaman penyelamat alam mengajarkan kita bahwa solusi banjir dan longsor sejatinya telah tumbuh di sekitar kita.

Aren di lereng, vetiver di tanggul, bambu di tepi sungai, atau serai wangi di perbukitan bukan sekadar tanaman biasa, melainkan benteng alami yang menahan air dan mengikat tanah.

Menanam pohon di lahan kritis sesungguhnya adalah menanam harapan. Harapan agar hujan yang turun menjadi berkah, bukan bencana. Agar tanah tetap subur di tempatnya, bukan runtuh menghancurkan kehidupan.

Langkah ini mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya menjalar jauh hingga ke hilir, menjaga mata air, mendukung pertanian, dan melindungi permukiman.

Lebih dari itu, tanaman konservasi menghadirkan paradigma bahwa menjaga alam tidak harus bertentangan dengan nilai ekonomi.

Aren, serai wangi, tanaman kopi, dan bambu dalam konsep agroforesteri membuktikan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan.

Gula aren, minyak atsiri, hingga produk kopi dan bambu menjadi insentif nyata bagi masyarakat untuk merawat lingkungan secara berkelanjutan.

Inilah solusi berbasis alam yang menang-kemenangan, alam pulih, bencana ditekan, ekonomi rakyat bergerak.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau