Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Asa Pohon Mete di Tanah Gersang

Kompas.com, 22 Desember 2025, 17:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI BENTANG lahan tandus Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah kering berbatu lainnya di Indonesia Timur, ada satu pohon perkebunan rakyat tumbuh kokoh menjadi penopang perekonomian rakyat, yaitu jambu mete.

Di bawah terik matahari dan minim hujan, pohon jambu mete mampu berbuah lebat saat tanaman pangan lain merana.

Bagi banyak keluarga petani kecil di desa-desa gersang, panen mete bak oase di tengah gurun. Komoditas inilah yang mengisi kantong mereka ketika komoditas lain tak mampu diandalkan.

Tak heran bila jambu mete kian dijuluki “penyelamat” ekonomi lokal, sekaligus membawa manfaat ekologis dan sosial yang tak terduga.

Jambu mete adalah salah satu komoditas paling “merakyat” di Indonesia. Data Kementerian Pertanian (2021) menunjukkan bahwa 99,78 persen produksi mete nasional dihasilkan oleh perkebunan rakyat, bukan perusahaan besar.

Artinya, hampir seluruh mata rantai produksi bersentuhan langsung dengan rumah tangga petani miskin.

Secara nasional, produksi jambu mete meningkat dari sekitar 116.000 ton pada 2013 menjadi 166.000 ton pada 2021, dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,5 persen per tahun.

Menariknya, peningkatan ini terjadi meski luas areal justru menyusut sekitar 2,6 persen per tahun. Artinya, ada perbaikan produktivitas, meski masih jauh dari optimal.

Sentra utama mete Indonesia berada di NTT dan Sulawesi Tenggara, dua provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.

NTT menyumbang sekitar 33 persen produksi nasional dengan luas kebun mencapai 173.000 hektare dan ratusan ribu petani penggarap.

Sulawesi Tenggara menyusul dengan kontribusi sekitar 25 persen produksi nasional, mengandalkan lebih dari 100.000 hektare kebun mete rakyat.

Di pasar kota, kacang mete dikenal sebagai camilan premium. Harga mete olahan bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 450.000 per kilogram, tergantung kualitas.

Namun di tingkat petani, biji mete mentah sering hanya dihargai sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Jurang nilai ini mencerminkan masalah struktural dalam tata niaga mete.

Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor mete dalam bentuk biji mentah (gelondongan) ke Vietnam dan India. Di sana, mete diolah menjadi produk bernilai tinggi, lalu sebagian kembali ke Indonesia dalam bentuk impor.

Data perdagangan menunjukkan bahwa pertumbuhan impor mete Indonesia bahkan lebih cepat daripada ekspornya, dengan laju hampir 58 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Varietas Tanaman
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Varietas Tanaman
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Varietas Tanaman
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Varietas Tanaman
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Varietas Tanaman
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Varietas Tanaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Varietas Tanaman
Halusinasi Negara Agraris
Halusinasi Negara Agraris
Tips
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Tips
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Varietas Tanaman
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Varietas Tanaman
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Varietas Tanaman
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Varietas Tanaman
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Varietas Tanaman
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau